Tampilkan postingan dengan label Orang Tua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orang Tua. Tampilkan semua postingan

24 Juni 2010

Bagaimana Cara Keluarga Saya Berkumpul?


Keluarga saya adalah keluarga besar. Bapak dan Ibu saya mempunyai 5 orang anak dan keempatnya sudah menikah dan menghasilkan keturunan masing-masing. Saya adalah anak terkecil di dalam keluarga, dan jarak antara saya dan kakak terakhir adalah 14 tahun yang menyebabkan kini saya menjadi tante terkecil di dalam keluarga yang memiliki 6 orang keponakan yang bandel-bandel.

Saat liburan semester genap seperti ini, aku hanya menghabiskan satu bulan dari tiga bulan masa javascript:void(0)liburanku ini di rumah saja. Bukan di Kudus tepatnya, aku pulang ke Ambarawa di mana rumah kakak sulungku yang perempuan berada. Bapak dan Ibuku berada di sini sekarang, karena kondisinya Ibuku sedang dalam masa pemulihan dari kakinya yang patah dua bulan yang lalu di sini. Jadi, di rumah ini sekarang ada Bapak-Ibuku, Aku, Kakak sulungku, dan kedua buah hatinya. Suami dari kakakku itu masih bekerja di Pati dan diprediksi akan segera pindah kembali bekerja di Ambarawa sebagai guru.

Keluarga kami selalu berkumpul dengan tradisi keluarga lainnya pada umumnya. Kami sering duduk bersama di ruang tamu atau teras di depan rumah. Namun yang membuat spesial adalah teh buatan ibuku itu. Sebagai informasi saja ibuku adalah wanita pecandu teh. Lidahnya sangat tajam dalam menilai kualitas dari sebuah teh, dan ia adalah penggemar teh sejati. Dengan demikianlah cara keluarga kmi berkumpul. Makan apa saja, membicarakan apa saja, dan yang tetap adalah selalu ada seduhan teh hangat dari ibu. Inilah yang aku rindukan selama aku bersekolah di luar kota. Berkumpul bersama dengan keluarga besar adalah sebuah liburan yang paling tinggi kualitasnya. Saat ini setahuku teh yang selalu diseduh ibu adalah daun teh cap X dan satu keluarga besar kami jadinya selalu mengkonsumsi teh dengan merk yang sama. Walau kini aku belum bertemu dengan keluarga besarku semua itu karena urusan pekerjaan dan juga tidak ada waktu luang, kami selalu menyeduh teh di tempat kami masing-masing namun hati kami seakan disatukan dalam rasa yang sama. Teh buatan ibuku.


Saat nulis blog malem-malem dengan perasaan geje mampus kayak gini, gue cuman bisa bikin teh tawar tanpa gula di kosan. Uhhh.. kangen deh teh bikinan ibuuu!! Kangen sama waktu ngobrol-ngobrolnyaa jugaaa... AHHHHH !!!

9 Juni 2010

Skuter Bapakku

Bapakku bernama Fransiskus Rahmadi. Orang-orang biasa menyebut dirinya Pak Di dan bapakku ini adalah seorang tukang cukur tradisional. Saat ini aku ingin menceritakan mengenai sosok Bapakku yang unik ini.
Setelah pensiun menjadi mandor di Pabrik Djarum Kudus, ia meneruskan pekerjaan Ayahnya (atau kakekku) menjadi seorang tukang cukur tradisional. Bisa dibilang kalau sosok kakekku sangat memoriable di lingkungan sekitar rumah kami karena cara memangkas rambut pelanggannya sangat khas dan disukai banyak orang. Beruntungnya, setelah kakekku ini meninggal, Bapak meneruskan pekerjaan leluhur keluarga kami yaitu menjadi seorang tukang cukur.
Dari kecil, dimulai dari masa aku bersekolah SD, SMP, sampai SMA, yang tidak pernah berubah dari Bapakku adalah kendaraan pribadinya. Keluarga kami tidak mempunyai mobil. Yang kami punyai hanya satu Vespa yang setia mengantarkan kami ke manapun. Keempat kakakku sudah meninggalkan Kudus dan hidup dengan keluarga dan pekerjaan mereka masing-masing. Jadi, jika dilihat secara kasat mata saja orang-orang pasti akan menyangka aku sebagai anak tunggal atau paling tidak sebagai cucu dari Bapak dan Ibu F. Rahmadi karena memang umur Bapak-Ibuku sudah bisa dibilang lanjut.
Saat masih kecil, aku selalu naik Vespa itu di depan dekat kemudi motor, bapak mengemudi, sedangkan Ibu duduk manis di belakang. Sangat manis. Kami pergi ke gereja bersama-sama dan kadang pulangnya malah tidak bersama-sama karena Vespa kami itu sering mogok sehingga aku sering pulang bersama Ibu naik becak sedangkan Bapak menuntun Vespa eksentriknya dari gereja sampai ke rumah atau bengkel terdekat.
Namun sayang, perjalanan tiap Vespa tidak pernah berjalan sampai abadi. Setengah tahun atau setahun sekali Bapak menjual Vespanya dan berganti ke Vespa lain yang diyakini lebih bagus atau “body”nya lebih oke namun dengan harga yang sama. Tahun demi tahun berlalu sampai pada akhirnya aku tumbuh tinggi besar dan tidak mungkin lagi duduk di depan seperti biasanya. Kalau sudah seperti ini, aku ingat benar bahwa si Bapak mulai membelikanku sepeda biasa sehingga ketika saatnya kami pergi ke gereja, Bapak-Ibu akan tetap naik Vespa, sedangkan aku seperti kambing congek mengayuh pedal sepeda ke mana-mana. Ha Ha Ha

Saat aku SD, Bapak selalu mengantarkan aku ke sekolah naik Vespanya dan pulangnya aku bisa naik becak sendiri bersama temanku yang bernama Yudith. Saat SMP, beliau tetap mengantarkan aku naik Vespa saat berangkat sekolah dan pulangnya aku naik angkot. Saat SMA malah lebih parah, ia mengantarkanku sekolah namun tidak memikirkan aku naik apa pulangnya karena ia pasrah saja anaknya diantar pulang naik tebengan orang lain. Hehehe…

Bapak adalah tipikal orang yang teliti dan kalau sudah menyayangi sesuatu, hmm… jangan tanya komitmennya dia sangat besar akan hal ini. Yang kubicarakan dalam hal ini tentu saja Vespanya. Dari mulai peralatan biasa sampai sparepart Vespa yang tak kumengerti, ia pasti punya dan dari setiap Vespa yang pernah ia miliki selalu dipasang Stiker Oneil, dan lampu kendaraan yang berwarna kuning terang. Itulah ciri khas dari si Bapak.

… dan kini ketika aku sudah tidak tinggal di Kudus dalam jangka waktu yang lama karena aku harus kuliah di Depok, dan sementara orangtuaku juga menyatakan ingin pindah dan lebih nyaman berkumpul bersama keluarga kakakku yang di Ambarawa, Vespa butut berwarna silvernya itu kini telah dijual karena tidak ada yang mengurusnya. Kini, yang tinggal sendiri di rumah adalah motorku yang sudah lama tidak kunaiki.

Jika Doraemon punya obat pengecil tubuh atau mesin waktu ingin rasanya aku kembali ke jaman SD dulu di mana aku biasa naik motor Vespa di depan di dekat kemudi Bapakku.
Hmmm… Really miss him and his Vespa soo much!!

4 Juni 2010

MY MOM (Part.2)

Yang ingin kutulis saat ini adalah mengenai Ibuku. Aku bahagia akhirnya bisa pulang liburan semester ini ke Ambarawa bertemu dengan beliau. Aku sampai di rumah pada pukul 03.30 pagi hari dan aku rasa kangen itu terobati dengan sebuah pelukan hangat.

Ibuku saat ini dalam kondisi yang sangat sehat. Beliau sudah bisa berjalan lancar memakai kuk-nya untuk pergi ke toilet, memasak, serta melakukan segala hal kecuali turun dari tangga bawah. Kami saling bercerita pagi itu dan kami tidur bersama sampai terbangun sekitar pukul 10.00 siang. Aku bertemu dengan sang pendengar itu. Ibuku selalu menyukai semua cerita dan pengalamanku. Beliau selalu mendengarkannya dengan cermat dan tentu saja memberikan komentar di sana-sini.

Pada hari Minggu nanti, aku dan bersama semua keluarga yang ada di sini akan mengantarkan beliau ke Salatiga untuk melepas gips yang sudah dua bulan ini membungkus kaki kanannya karena patah pada tanggal 30 Maret yang lalu. Aku sangat berharap bahwa beliau cepat sembuh, cepat pulih, dan pada akhirnya bisa kembali berjalan secara normal ke mana pun ia pergi tanpa bantuan alat yang bernama kuk itu tadi.

Di sini aku sering bertindak iseng dengan berkata padanya “Ayo dong Bu lari, gak usah pakai kuk!” dan kemudian ia tertawa dan menjitakku. Lucu. Karena masih belum terbiasa juga melihatnya mamakai kuk itu saat berjalan, ke mana pun kini ia hendak melangkah tak hentinya sampai beliau merasa bosan aku selalu bertanya “Mau ke mana lagi?” Hahaha…

Sulit juga ya menyadari semua rencana Tuhan ini. Tuhan sungguh adalah arsitek dan sutradara terhebat sepanjang masa karena ia sangat menyukai cerita. Cerita tentang ibuku dan kaki kanannya yang patah adalah sebuah bentuk cerita tersendiri yang patut dikenang dan direnungkan di dalam keluarga kami, bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana paling baik di dalam keluarga kami dan dengan peristiwa ini kami diingatkan untuk lebih mengandalkan Tuhan jauh lebih dalam lagi…

Jika ada yang bisa kulakukan untuk dapat bersama Ibuku lebih lama apapun itu akan kulakukan, termasuk melepas semuanya yang berkaitan dengan kepanitiaan penerimaan mahasiswa baru 2010 nanti. I really love you, MOM!! I will be there for you…

18 April 2010

Saat Ibuku Sakit...

18 April 2010


Hari ini adalah hari yang paling akan kuingat seumur hidupku, dan pada hari inilah untuk SEKALI LAGI aku mengingat bahwa Tuhan selalu memberikan rencana indah dan bukan rancangan kecelakaan di dalam hidupku dan keluargaku.

Jadi, aku akan mulai bercerita tentang kepulanganku ke Tambun, Bekasi...

Hari itu panas, berawan, dan aku sampai ke rumah kakak keempatku pada pukul satu siang setelah sekian lamanya aku harus menunggu kereta jabotabekku mogok dan gagal berangkat. Aku masuk ke dalam rumahnya yang rindang itu kemudian aku beristirahat sebentar.


Aku tidak tahu sebenarnya apa maksud permintaannya padaku untuk datang ke rumahnya di akhir pekan itu. Jadi, setelah benar-benar merasa hommy barulah aku tahu apa maksud kehendaknya. Ia ingin menceritakan sesuatu...

Yuni mengambil napas dalam-dalam dan kemudian berkata,

"Ada yang harus kusampaikan padamu. Bisa jadi ini berita buruk, tapi tenang saja semuanya tidak apa-apa sekarang," katanya.

"Apa maksudmu?" tanyaku dalam, masih senyam-senyum tidak jelas.

"Ibu sakit. Kakinya patah."

Hening.

30 Maret 2010, adalah hari ketujuh sepeninggalan besan orangtuaku. Sebagai besan yang baik, ibuku harus berada di Ambarawa—tempat kakakku yang pertama tinggal bersama keluarga dan mertuanya—. Di hari itulah ibuku jatuh terpeleset di kamar karena genangan air yang berasal dari atap yang bocor akibat hujan semalam. Sejenak aku membayangkan bagaimana kejadian itu berlangsung, di mana saat ibuku terpeleset kakinya menendang tembok dan kemudian patah. Parahnya, tiada seorangpun yang tahu kejadian ini karena semua orang sibuk berada di dapur untuk menyiapkan makanan sampai 5 menit kemudian, keponakanku yang bernama Happy (anak dari kakak pertamaku) pulang dari sekolah dan mendapati neneknya (atau ibuku itu) jatuh terpeleset. Aku kembali membayangkan bagaimana keadaan saat itu yang sudah sangat ricuh, ditambah dengan kejadian ini, bagaimana Happy terpaksa berlari mencari tukang pijat di dekat rumah sedangkan yang lain berusaha menenangkan ibuku dengan memberi macam-macam obat dan pertolongan pertama. Yuni bilang saat itu Ibu terlihat pucat.

Sebenarnya Yuni dan keluarganya belum berada di Ambarawa saat itu, ia masih dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Ambarawa. Setelah sms aneh yang menerangkan yang kesemua smsnya bernada sama : SUDAH SAMPAI MANA? Ia tidak mendapati Ibuku dan kakakku di rumah ketika ia sampai karena waktu itu Ibuku sudah dilarikan ke tukang urut terdekat di SALATIGA.

Aku belum berhenti menangis sampai cerita ini, yang ada tangisku semakin menjadi-jadi.

Aku tidak bisa membayangkan ibuku dengan pergelangan kakinya yang terluka kemudian harus digotong ke angkot dengan segala kepayahan dalam perjalanan dari Ambarawa sampai Salatiga. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kesakitan yang luar biasa ketika suatu ketika mobil itu melewati jalanan yang curam, berliku, menanjak, dan berbatu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya itu.

Sesampainya di sana beliau harus menunggu untuk beberapa waktu sebelum pada akhirnya tukang urut handal itu datang dari kondangan, merawatnya, sampai kemudian dipastikan harus menginap selama 5 malam di Salatiga dengan kaki bengkak, kamar sel yang penuh dan lembab, serta ironisnya melewatkan Paskah tahun ini dengan terbaring sakit.

Bagian yang paling menyedihkan adalah hanya aku saja yang belum tahu akan hal ini. Semua anggota keluargaku bersekongkol dan berkonspirasi atas permintaan Ibuku agar mereka berjanji tidak memberitahuku kejadian ini. Dengan alasan waktunya belum pas, karena saat itu aku sedang berkonsentrasi dengan tugas-tugas kuliahku yang penat, ia tak ingin membuat pikiran putrinya ini menjadi kacau.

Jadi, pada hari inilah aku tahu kebenaran itu. Kebenaran dari sebuah kenyataan yang pahit bahwa aku tidak bisa berada di sana, di samping orangtuaku untuk menjaganya saat ia sakit, kebenaran bahwa selama ini mereka berpura-pura dan menjadikan realita ini seperti opera sabun dan menutupi kebohongan ini.

Aku menangis sampai tidak bersuara ketika aku mendapati ini semua. Air mataku mungkin sudah kering karenanya.

Aku tidak marah karena semua keluargaku berbohong tentang kondisi Ibu yang sebenarnya, yang mereka lakukan semata-mata demi kebaikanku juga. Aku hanya marah, muak, kesal, dan tidak berguna atas diriku sendiri. Jadi, selama ini aku tidak tahu, aku tidak bisa berbuat apa-apa, dan aku tidak bisa berada di sana untuk menemani orangtuaku. AKU ADALAH ANAK YANG TIDAK BERGUNA.

Di saat aku menelepon ibuku untuk mengatakan padanya bahwa aku sudah tahu semuanya, yang bisa kulakukan hanya menangis. Aku sangat kagum pada Ibuku yang masih begitu tegar dan di saat sakit seperti itu beliau masih bisa menghiburku dengan berkata bahwa dirinya baik-baik saja, sehat, dan berkata padaku untuk tidak terlalu mencemaskan dirinya.

Ya Tuhan, seberuntung itukah aku karena mendapatkan orangtua sebaik ini? Pantaskah aku mempunyai Ibu seorang malaikat seperti dirinya??

Aku mengingat-ingat ketika setiap pagi aku menelepon orangtuaku seperti biasa, yang kudengar dari mulutnya adalah KAMI SEHAT DAN BAIK-BAIK SAJA. Ibuku bahkan tidak mau aku mencemaskan beliau lagi karena ia sedang dalam masa pemulihan dan di bulan Juni nanti gips yang membalut kakinya itu akan dilepas dan ia akan sehat serta dapat berjalan kembali.

Melalui catatan ini aku ingin menyampaikan beberapa hal,

Pertama, aku merasa diriku tidak berguna. Kedua, aku bersyukur kepada Tuhan karena sangat mencintai keluarga kami dan memberikan kami cobaan di masa Pekan Suci menjelang Paskah tahun ini sehingga aku merasakan benar Paskah tahun ini sangat berharga bagi kami karena kami bisa saling mengasihi sekalipun dalam masa sakit dan pencobaan. Ketiga, aku bersyukur karena banyak sekali saudara dan teman yang sangat mencintai keluarga kami, merawat Ibuku, dan membantu kami semua dalam keadaan sulit. Keempat, aku merasa bersyukur karena mempunyai malaikat, dan malaikat yang dikirimkan Tuhan padaku adalah Ibuku sendiri. Kelima, aku menjadi ingin waktu cepat berganti sehingga aku bisa cepat pulang untuk menemui orangtuaku dan memeluk mereka eraaaattt...

I miss you so badly, Mom and Dad.

Get well soon, Mom. I really love you.

Sorry that I can't stand beside you, but I promise this summer I will go home as quick as I can.


Your daughter,

Siska.

10 Februari 2010

PACARAN

Selasa pagi yang cerah namun agaknya aku terbangun terlalu siang karena semalam bergadang di kamar kost an temanku Nurul Utami yang letaknya di Gang Sawo dekat stasiun UI itu. Kemarin sangat menyenagkan. Pulang kuliah sekitar pukul lima sore aku beranjak dari asrama membawa tentengan berupa pakaian untuk menginap. Yay! Selain ingin menginap menjajal seberapa nyaman kosan yang ditempatinya, aku juga tertarik dengan ajakannya makan pempek Palembangnya itu. Hahaha...
Jadi, semalam kami mengobrol banyak hal, bercerita ini-itu, bergosip, diselilngi dengan menikmati pempeknya yang lezat itu kami tak sadar bahwa pada pukul dua pagi kami bahkan belum beranjak tidur. Dengan mata yang protes ingin tidur tapi mulut yang seakan tak ingin berhenti bercerita, kami tidur dengan pulas.
Pagi-pagi sebelum berangkat kuliah bersama, aku sengaja menelepon Ibuku dan memberitahunya bahwa aku baik-baik saja. Inilah potongan percakapan kami:

Ibu: Masih di tempat temanmu? Kuliah jam berapa?
Aku: Masih. Ini mau berangkat kuliah.
Ibu: Oke, eh ibu mau ngomong penting.
Aku: ??
Ibu: Kamu itu kalo ke kampus buat kuliah pake bajunya yang matching.
Aku: Hah??
Ibu: Iya, sekali-kali dandanlah. Kapan kamu pacarannya kalo ke kampus aja nggak cantik.
Aku: (Alamak) Ya ampun, Ma...
Ibu: Memang kenapa?
Aku: Ibu mau aku pacaran ya? Hahahaha (aku tertawa ngakak. Nurul pun juga, karena saat itu HPku kusetting loudspeaker)
Ibu: Kok malah ketawa??
Aku: Ya ampun, ya udah besok aku pacaran. Nanti malam jadian. Puas??
Ibu: Lhoh, kok gitu? Emang udah ada?
Aku: YA ENGGAKLAH. Kalo ibu mau aku cepat pacaran, ya gapapa itu wajar. Nanti aku jadian sama orang biar ibu puas.
Ibu:Sama siapa?
Aku: Tau dah sama siapa, hahhaha (aku tertawa ngakak lagi)
Ibu: (Tertawa)
Aku: Tenanglah bu, nanti juga ketemu...


Aku masih suka cengar-cengir sendiri kalau ingat pembicaraan kami ini. Lucu.
Aku sangat paham bagaimana Ibuku itu. Lebih tepatnya perasaan seorang Ibu yang mempunyai anak seperti ini. Entahlah, aku tidak tahu bagaimana asal-muasalnya. Kupikir aku ini dilahirkan dan tumbuh dengan idealisme yang tinggi. Kuakui itu. Pernah suatu ketika ada laki-laki yang menyatakan cinta padaku tapi kutolak, namun pernah juga aku memendam perasaan kepada orang lain namun sayangnya perasaan itu tidak tersampaikan. Begitu terus sampai rasanya aku bosan.

Pacaran??

Bagaimana ya,... kadang jika kupikir benar-benar, aku mempertanyakan hal itu juga. Perlu nggak sih gue pacaran? Kapan tepatnya gue pacaran? Haha konyol. Yah, sebagai manusia biasa manusiawi jika suatu ketika aku memang merasa sangat kesepian, membutuhkan orang lain, terlebih jika melihat sepak terjang teman-temanku yang lain yang sudah punya pacar. Agak iri iya, mupeng jelas.
Namun, aku kembali mencoba mengoreksi diriku sendiri. Apa yang bisa kudapat dari pacaran itu sendiri.
Oke, selain kita nantinya bakal punya a shoulder to cry on and relay on, kita juga punya teman atau pasangan hidup. Kemana-mana ditemenin, dismsin, diteleponin, ada yang merhatiin.

Tapi gue bener-bener bingung sekarang,,, bagaimana kalau sekarang ini aku punya lebih dari sekadar pacar?
Kupikir teman-temanku adalah orang-orang luar biasa yang sangat memperhatikan aku, menyayangiku, dan kami sering mendukung. Apa aku juga masih butuh pacar??
Haha...

Gue nulis ini pagi-pagi, setelah ditelepon nyokab lagi yang mempertanyakan kapan gue bakal pacaran. Sumpah ya, lucu dan geli banget dengernya. Ada orangtua yang bahkan protect sama anaknya dan nggak ngebolehin anaknya pacaran, orang tua gue malah nyuruh-nyuruh anaknya cepet pacaran. Hahaha...

di akhir pembicaraan kami, gue cuman bisa bilang:
"Ma, sekarang ini Siska cuman mau konsen sama kuliah dulu. SKS semester ini banyak. Yah, gampanglah jodoh itu. Tuhan udah ngatur apa yang terbaik buat umatnya. Percaya deh, suatu saat nanti Siska baal ketemu sama orang yang bener-bener bisa ngertiin aku, dan begitu juga sebaliknya. Bukan karna nggak punya pacar jadi kiamat, kan?? Percayalah banyak hal di dunia ini yang lebih berharga untuk dikejar. Soal jodoh, pacaran, soulmate itu, apapun, biar waktu yang jawab. OK??"


Gue percaya, someday gue bakal bisa ketemu sama orang yang baik, ngertiin gue apa adanya, bisa saling mendukung dan yang paling penting adalah gue yakin orang yang nanti cocok sama gue adalah orang yang bisa menjadi pendengar yang baik karena bagaimanapun gue ini bawel dan dia pasti tahu bagaimana mengatasi cewek yang bawel kayak gue ini. Yap, so do I. Amin!




27 Desember 2009

At Last... I'm Free!!

Yihaaa... sepulang dari UAS terakhir hari itu, 23 Desember 2009 gue akhirnya bisa merasa

bebas untuk pertama kalinya.
Setelah berpenat-penat dengan buku-buku, essay yang tak kunjung selesai ditulis, dan mengarang indah dalam MPKT,

SEBENTAR LAGI GUE AKAN PULAAAANGG...

Tahu sendiri kan, bagaimana rasanya nggak pulang dalam 1 semester tahun ajaran, dan pada

akhirnya besok tanggal 24 Desember 2009 gue akan melakukan perjalanan panjang dari Bekasi ke

Kudus dengan mobil. Gue gak sabar pingin berangkat...

Nah, pada akhirnya setelah packing yang lumayan simple, (nggak bawa apa-apa) hari yang panas

itu di Depok dengan sangat berat gue meluk temen asrama yang terakhir kalinya (haha lebai

banget). Tak ketinggalan temanku yang ceroboh tapi smart bernama Dikara Kirana. Hari itu

Dika akan pulang juga ke Bandar Lampung, namun sepertinya rencana awal kami yang hendak

berangkat bersama sepertinya tertunda karena as usually dia masih belum berkemas dan ia

masih mencari barang-barangnya yang hilang. Hahaha...

Jadi, hari itu aku pulang bersama temanku yang baik hati bernama Hardika, yang juga akan

pulang ke Bekasi. Sumpah ya, perasaan awal yang tadinya HEPI banget jadi tiba-tiba berubah

jadi MELOW gara-gara gue ninggalin asrama, ninggalin UI, ninggalin kamar di E2, dan ada

sesuatu yang bikin tenggorokan gue tercekat.

Huh, apa ini yang dinamakan perasaan nyaman?

di detik-detik terakhir gue noleh ke semua tempat yang berkesan itu, berharap ketika gue

balik lagi ke tempat ini, segalanya tidak akan pernah berubah...


... and finally the adventure experience is begin...

3 Desember 2009

SKENARIO KEMATIAN

Aku tidak tahu harus berkata apa kepada seseorang yang selalu berkata ingin cepat mati...
Mengapa sih dia mau mati?
Apa hidupnya terlalu parah sehingga harus mati?

Ada seorang teman dekat yang berkata bahwa ia ingin mati ditabrak kereta. Ia mengatakan hal itu persis ketika kami melewati sepasang rel kereta api di dekat kampus UI. Apa sih maunya? Mengapa dia harus mengatakan hal itu di saat ia sudah tahu bahwa di dalam hidupnya ada seseorang yang menyayanginya?

Aku tahu apa motivasinya yang melatarbelakanginya berkata sesuatu yang buruk. Namun, ia hanya menjawab bahwa kalo ditabrak kereta itu tidak akan terlalu terasa sakit jika mati. Setidaknya itu tidak lebih menyakitkan daripada keracunan zat berbahaya atau apa.
Yang kutangkap adalah bagaimana ia bisa lebih memilih mati muda. DI MANA SIH DIA MEMBACA BUKU TENTANG KEMATIAN ITU??

Lalu, malam yang spooky ini kulewati di asrama, sendirian, agak penat memikirkan tugas besok dan aku masih bertahan di depan komputerku untuk menulis tentang SKENARIO KEMATIAN.

Beberapa hal yang kuinginkan sebelum aku mati:
-keluargaku sejahtera, setidaknya dengan kematianku uang asuransinya bisa jatuh ke ayah atau ibuku sehingga mereka bisa hidup makmur dengan uang asuransi itu.
-aku sudah mempunyai buku yang kutulis dan itu termasuk dalam kategori buku bestseller yang dijual di Gramedia dan telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Dengan itu aku bisa tenang ketika royaltinya nantinya akan dilimpahkan bagi para anak yatim dan anak-anak putus sekolah.
-aku ingin mati bahagia, tanpa penyakit yang mengganggu tubuhku ini. Setidaknya sebelum aku mati, aku ingin mendonasikan beberapa bagian tubuhku untuk mereka yang membutuhkan. Kuharap bagian-bagian dari sisa jiwaku ini bisa berguna bagi mereka.
-aku ingin membaca Alkitab itu dengan lengkap, dan telah melakukan pengakuan dosa kepada romo yang bersangkutan.
-aku ingin mati dengan didampingi oleh orang yang kusukai dan kemungkinan besar dia adalah suamiku yang mendampingi aku sampai mati.

Namun, yang lebih penting adalah AKU LEBIH INGIN MATI LEBIH DULU daripada MELIHAT ORANGTUAKU SAKIT-SAKITAN DAN MENINGGALKANKU SENDIRI. Jujur, aku tidak siap jika suatu saat nanti situasi ini terjadi...

19 November 2009

Janji Bertemu Ibu

Baru jam 11:17 WIB, namun lorong asrama sudah terdengar sepi dari kamarku. AKu lebih banyak mendengar lagunya Jason Mraz feat Collbie Calliat berjudul Lucky.
Lucky I'm in love with my best friend... llallalla

Pikiranku penuh untuk hari esok. Banyak hal yang harus kulakukan besok pagi... Lagi-lagi ketika aku di posisi saat ini, aku mencoba untuk mengingat kata-kata Tomi Rado P. Sinaga: "Biarlah kesusahan hari ini diselesaikan hari ini, dan kesusahan besok diselesaikan besok." Yeah, itu betul. Tapi...

1. Besok aku akan mengahdapi quiz kecil Sosiologi dari 3 bab: Stratifikasi Sosial, Gender dan Jenis Kelamin, serta Kelompok Sosial. Aku harus belajar lagi besok pagi-pagi. Namun sulitnya adalah, tak pernah sekalipun aku bisa menolak untuk tidur lagi karena hawa di Depok akhir-akhir ini terasa sangat dingin.
2. Tiket Kom Nite-ku belum satupun yang terjual.
3. Tugas Pengantar Ilmu Politik belum satupun kuselesaikan.
4. Menanti email balasan dari senior komunikasi 2003 untuk wawancara alumni.
5. Sedang dalam proses penyelesaian 2 makalah besar MPKT: Multikulturalisme dan Polusi Asam: Bahaya Bagi Kelangsungan Biota Laut.
6. Memikirkan seseorang yang baru saja kulepaskan.


Uh, dibalik kesusahan itu semua, ada satu yang spesial yang kunantikan minggu ini. Ini semua karena ibuku yang akan menengokku ke asrama hari Minggu ini. Ahh... setelah sekian lama, akhirnya..
Aku ingin memeluk kedua orangtuaku dengan sangat erat, dan aku ingin menceritakan segalanya kepada mereka. Aku ingin melewatkan hari itu bersama ibuku, dan aku tak mau ada satupun pengganggu.
Ayo cepatlah datang hari Minggu!!