Tampilkan postingan dengan label komunikasi UI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komunikasi UI. Tampilkan semua postingan

6 Desember 2010

Mau Mencoba Meraba Masa Depan? Yuk Kita Naik Gunung!


Jumat itu (3/12) gue berpapasan dengan dosen Komunikasi UI yang paling gue kagumi. Namanya Mbak Chandra Kirana, atau biasa disapa Mbak Kicky. Saat itu, beliau sedang berjalan masuk ke arah gedung Komunikasi. Entah memang jodoh bertemu atau pagimana, dia manggil gue dan gue nyamperin dengan gegap gempita. “Aih, mbak Kicky! Saya mau ngobrol!”

Beberapa menit setelah beliau minta ijin buat toilet sebentar dan menaruh barang-barangnya, kamipun mengobrol panjang lebar. Hmm, jadi begini saudara-saudara. Gue sedang on fire mempersiapkan masa depan gue. Bukan masa depan tentang gue menikah dengan siapa nantinya, tapi masa depan perjalanan akademis gue. Nggak kerasa aja nih, sekarang udah semester tiga. Kira-kira empat semester lagi gue akan lulus S1 dan apa? Apakah gue akan bekerja? Apakah gue akan lanjut S2? Gue akan mempersiapkan hal itu secara matang dan terencana. Mbak Kicky adalah pendengar yang baik. Beliau menjawab semua pertanyaan gue dengan sabar. Ia memberikan solusi, pendapat, tanpa harus repot untuk berusaha ngebrainwash otak gue yang dedel ini. Gue menayakan banyak hal, mulai dari pertimbangan apakah gue seharusnya bekerja dulu setelah lulus nanti atau langsung lanjut S2 dengan beasiswa. Kalaupun gue masih niat kuliah lagi, apa yang perlu gue siapin dari sekarang, karna gue sangat pingin bisa belajar di negeri orang. Lalu, gue melalang buana menanyakan kesibukan Mbak Kicky selain menjadi dosen Komunikasi UI. Dari perbincangan singkat namun berkualitas itu gue mendapatkan banyak hal. Termasuk ketika perjalanan menggapai masa depan yang penuh harapan *jiah bahasa gue* ini diibaratkan atau dianalogikan sama dia seperti naik ke puncak gunung.

Mbak Kicky: suka naik ke gunung nggak non?

Gue : suka mbak! Saya suka tracking!

Mbak Kicky : nah, menggapai masa depan itu ibarat kayak naik gunung. kamu dari jauh bisa lihat gunung itu tingginya seberapa. Sama kayak belajar, kamu pasti punya target, semester ini apa yang harus kamu capai, apa yang musti kamu siapkan untuk naik ke puncak gunung itu.

Gue : *speechless*

Selesainya dari perbincangan itu, gue tambah on fire lagi buat googling beasiswa ke luar negeri dan mempersiapkan target-target gue saat ini dan yang akan datang. Seneng loh, punya dosen yang baik, gaol, dan bisa jadi temen yang asik kayak Mbak Kicky… Uhhhhh suka suka suka suka deehhhhhhh XD

29 Oktober 2010

Journey-listik :)


Suatu saat, gue pernah ditanya sama dosen. “Kenapa kamu pilih peminatan Jurnalistik di Komunikasi UI?” atau pertanyaan lain dari temen-temen gue, “Apa sih enaknya jadi wartawan?”

Gue cuman melambaikan senyum simpul.

Hmm, kenapa gue masuk komunikasi aja gue masih bingung. Banyak orang bilang, gue adalah mahasiswi cupu, kocak, dan cuek. Berbanding terbalik sama anak komunikasi kebanyakan yang berlabel BBB dan populer (Bohay, Blackberry, Behel, Belah tengah, dan BBB yang lainnya). Yap, gue emang bukan anak komunikasi UI yang seperti itu. Gue adalah anak komunikasi-jurnalisme.

Orang yang nggak tahu apa itu Komunikasi UI, mungkin mengiranya belajar komunikasi ya belajar ngomong. Mungkin sebagian besar dari mereka tahunya di Komunikasi UI cuman ada peminatan humas aja. Padahal, kami memiliki 4 peminatan lain yang nggak kalah seru. Ada periklanan, komunikasi media (Komed), industri kreatif penyiaran (IKP) dan jurnalistik :D

Tiap peminatan gue akui, dan semua warga FISIP mungkin, memiliki ciri atau karakter yang berbeda-beda. Kalo dari mata gue, pendapat gue, (iyalah secara ini blog gue gitu, gue bebas ngomong apa aja ;D) tiap peminatan punya plus-minus masing-masing.

Anak dari peminatan Komed tuh orangnya encer-encer. Bacaannya tebel-tebel, bisa semacam diktat, review, dan semua hal yang berbau teori yang diketik dengan font kecil-kecil, difotocopy pula. Hahaha:D walaupun begitu gue akuin emang sebagain besar anak komed memiliki kualitas analisa yang tinggi, dan kesannya ‘berat’ gitu. Ada beberapa mata kuliah di peminatan Komed yang menurut gue asik, dan mungkin akan gue ambil di semester depan, antara lain Riset Media, dan Kajian Film.

Periklanan beda lagi. Anak iklan digandrungi sebagian besar mahasiswa cowok. Mereka kebanyakan dituntut untuk bisa main sama Photoshop, Corel Draw, dan software editting lainnya. Anak iklan menurut gue pada pinter gambar dan ekspresif. Baju yang mereka pakai kadang unik dan casual banget. Nyantai, tapi kreatif.

IKP adalah peminatan yang baru di tahun 2009. Walaupun dibilang masih bayi, peminatnya nggak kalah banyak dengan peminatan lain. Anak-anaknya bawel semua, kebanyakan nonton film korea :D, dan bawa-bawa video recorder ke mana-mana. Walaupun begitu mereka sudah jago banget bikin film pendek dan menjadi trendsetter buat adik-adik junior mereka Komunikasi 2010 yang minat masuk ke IKP ini.

Terakhir, yang paling seru, yang paling kritis, tentu saja Jurnalistik.

Di sini gue belajar banyak hal dari mulai menulis-meliput berita, tata bahasa jurnalistik yang baik, menulis naskah berita TV, jurnalisme foto, sampai mata kuliah paling ‘dewa’ bernama etika jurnalisme. Kebanyakan pengajar kami adalah professor yang memiliki jabatan strategis di Departemen Ilmu Komunikasi dan memiliki peran penting dalam dunia jurnalistik tanah air. Beberapa di antara mereka bahkan menjadi ‘pembesar’ di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan untuk itulah anak jurnal nggak bisa diremehin begitu saja. Kami membaca koran hampir setiap hari, analisa perkembangan media masa juga setiap hari, menonton&membaca berita setiap hari, dan membuat esai tiap minggu. Hehehe :D

Emang sih, dari semua peminatan komunikasi yang ada di UI, kesannya yang muncul tentang Jurnalisme 2009 adalah orangnya cuek sama penampilan, kucel, cupu, dan nggak semenarik Humas. Itulah yang membedakan kami. Kami bangga akan itu.

Gue pribadi sih nggak pusing mikirin penampilan. Yang penting adalah ketika kami kuliah, kami nggak BB-an di dalam kelas, dan nggak sibuk benerin tata rambut atau make up. Kami belajar. Otak adalah segala-galanya, benar begitu bukan?

Baru dari sini, gue bisa bilang kalo masuk UI, Ilmu Komunikasi, dan Jurnalisme, adalah sebuah panggilan. Bukan karena ikut-ikutan teman. Itulah alasannya…

Cukup puaskah? Cukup menjawab pertanyaankah? Hahaha ~,<

Thanks for reading, anyway!

22 Oktober 2010

Skripsi... oh Skripsi…


Hai blog!

Hari ini, Jumat 22 Oktober adalah hari terakhir UTS gue di minggu ini. Masih ada sisa satu lagi di hari Senin, dan setelah itu gue mungkin akan hibernasi atau melewatkan hari-hari gue dengan jalan-jalan, atau bisa-bisa cuman tiduran di kosan sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Ehem, begini..

Mata kuliah yang di-UTSkan hari ini bernama Metode Penelitian Sosial I. Kenapa I (satu)? Karena gue akan mendapatkan jilid II-nya di semester depan berikut dengan mata kuliah macam gini lainnya kayak Metode Penelitian Komunikasi I, Metode Penelitian Komunikasi II, Metode Penelitian Kualitatif, maupun Metode Penelitian Kuantitatif. DAMN. Hahaha :D

So, gue baru nyadar kalo untuk menulis sebuah skripsi, gue minimal harus dapet nilai A di metode Penelitian Sosial ini, dan A di Stastisik Sosial, dan AAAA lainnya di mata kuliah yang gue sebutkan di atas. Tidur aja deh gue.. Itu adalah syarat minimal, yang artinya secara gak langsung=lo harus dapat nilai A di mata kuliah itu semua.

Ngok-ngok -0-

Nah, bisa dibilang itu adalah barrier gue dalam kuliah-kuliah semester ini maupun semester depan yang harus gue hadapi. Jujur, gue masih takut banget, dan pesimis gue bisa dapat A di MPS ini. Fortunately, gue punya pembimbing akademis yang sangat care sama gue dan mahasiswa lain yang ia bimbing. Nama pembimbing gue itu bernama Mas Awang Ruswandi yang menjabat sekaligus sebagai sekretaris departemen ilmu komunikasi. Suatu ketika ia, saat bimbingan kuliah, beliau menjelaskan aturan skripsi, tugas karya akhir (TKA), maupun magang kepada anak-anaknya Jurnalisme 2009. Waktu itu ia menganjurkan kepada kami untuk TIDAK MEMBUAT SKRIPSI.

Kami semua tentu saja terkejut. Mengapa tidak? Bukankah selama ini skripsi dipandang sebagai syarat mutlak kelulusan mahasiswa S1?

Beliau hanya mengatakan dengan gayanya yang super simple dan praktis kalau universitas yang ada di luar negeri saja (the other world class university hehehe :D) sudah nggak pakai model skripsi. Mereka menggunakan sisa SKS mereka (6 SKS untuk Skripsi) untuk mengambil mata kuliah lain, atau hanya membuat Tugas Karya Akhir (TKA). Ia sama sekali tidak menyarankan kami untuk tidak membuat skripsi. SAMA SEKALI. Bahkan untuk lanjut ke jenjang S2, skripsi sudah tidak lagi dibutuhkan, katanya.

*sebagian temen-temen gue bersorak, sujud syukur, senyum, meler, guling-guling, rangkulan, nyanyi We Are the Champion, dan ada yang masih bengong. Itu gue*

Sampai sekarang, gue masih belum memutuskan untuk membuat skripsi atau nggak di semester depan, atau di depannya lagi. Masa kuliah S1 gue berakhir 4 semester lagi, dan masih terlihat sangat absurd. Sementara itu, dari berbagai pihak, masih mendoktrin gue untuk membuat skripsi, jaga-jaga biar bisa ngelajutin S2, sekalian pake tuh ilmu dari MPS, MPK, Statsos, yang nantinya gue dapat.

Endingnya, gue saat ini nggak mau mikirin hal-hal yang masih jauh di awing-awang, dan masih kelihatan absurd di mata gue. Hidup gue yang sekarang aja udah gak jelas banget juntrungannya, apalagi mikirin yang lain dan statusnya nggak pasti. Gue akan menjalani apa yang ada sekarang, dan berusaha buat naikin IP gue yang anjlok parah (baca: terjun bebas) di semester kemarin.

Anyway, wish me luck yaaaaaa…!!

Thanks for reading!

7 Juni 2010

Infotainment dan Kuliah Semester II


Setelah sekian lama aku tidak menonton acara infotainment entah bagaimana hal yang kusebut itu sama sekali tidak menarik minatku sekarang. Dulu aku sering sekali menonton program acara infotainment setiap hari ketika aku masih di rumah. Kini, setelah menginjak masa-masa kuliah, di mana tidak ada TV di kosan, serta tidak mempunyai waktu untuk menonton TV, semuanya itu menjadi tidak menarik lagi.

Semuanya ini mungkin juga karena pengaruh dari mata kuliah yang kuambil di semester ini, Pengantar Jurnalisme di mana seorang profesor sekaligus guru besar Ilmu Komunikasi Zulhasril Nazir membimbing untuk mata kuliah ini. Aku baru tahu sekarang ini kalau infotainment (yang adalah adik kandung dari entertainment) tidaklah masuk dalam kancah dunia jurnalistik karena tidak memiliki isi, tidak memiliki kontribusi serta tidak ada manfaat untuk perkembangan jurnalistik di Indonesia. Infotainment sejatinya hanyalah liputan mengenai seseorang yang berkarya dalam dunia entertainment yang suka sekali menelisik tentang kehidupan pribadi, permasalahan seseorang yang tidak penting, sensasional, serta hanya bertumpu pada kepopularitas seseorang yang menjadikannya sebuah skandal.

Sejak mengambil mata kuliah ini aku menjadi semakin tahu bahwa seorang lulusan Ilmu Komunikasi UI sangat disayangkan jika nantinya bekerja dalam bidang infotainment ini. Namun, kembali lagi itu semua adalah masalah pilihan hidup. Untuk saat ini aku masih belum tahu bagaimana pekerjaanku di masa yang akan datang, yang jelas saran dan masukan dari beliau memang patut untuk didengarkan.

Aku masih perlu belajar banyak mengenai program studi S1 yang kupilih ini, dan inilah aku sekarang calon mahasiswi semester III yang masih cukup panik jika indeks prestasi nilai diumumkan di SIAK-NG UI. Aku tahu semester depan akan banyak mata kuliah yang menarik untuk kupelajari, dan aku sangat tidak sabar untuk mempelajari semuanya itu. Yay!! 24 SKS aku datang!!


10 Februari 2010

Menyibukkan Diri

Hmm... seusai spectacomm, prapekom, komnite, prasar, dan akhirnya SAR--pelantikan angkatan komunikasa 2009 resmi menjadi anggota HMIK (Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi) yang berjumlah 72 orang, gue jadi bingung mau ngapain sepulangnya kuliah dari kampus.
Dulu ya, gue dan temen-temen hampir dipastikan ada masa bimbingan alias ospek selama satu semester yang benar-benar menyita waktu. Hampir tiap hari dan sepulang kuliah kami berkumpul bersama untuk mabim bersama senior 2007. Namun, karena kini kami telah lulus SAR dan menjadi anggota HMIK, secara otomatis masa bimbingan yang selama 1 semester itupun usai. Banyak dari temen-temen gue yang udah melalang buana ke BEM UI, BEM FISIP, kerja parttime--sampai kagak pernah kelihatan waktu di kampus--dan ada dari mereka yang sengaja gak lagi ngekos, dan lebih memilih untuk pulang pergi kampus-rumah.
... eng-ing-eng... dan gue lebih memilih 'nyampah' di kampus. Hahaha
'Nyampah' adalah istilah dari anak-anak yang mengartikannya dengan kalimat 'melewatkan hari-hari di kampus, duduk-duduk, kongkow-kongkow, nongkrong di takor, menggosip, safari kantin ke fakultas lain, atau bahkan hanya sekedar browsing dan mojok di MBRC'.
Entahlah, di saat orang-orang berpusing-pusing ria ke sana-kesini ngurusin ini-itu dalam kesibukan mereka, gue lebih sering bengong di kampus, hahaha useless. Gue butuh waktu paling nggak seminggu bahwa gue bukan lagi mahasiswa semester satu yang kental dengan istilah maba dan ospek, gue adalah mahasiswa semester dua! Hahahaha!

gue masih bingung mau pilih kesibukan apa. Sumpah, kalo mau ikut oprec, voluntary, seminar, workshop atau pelatihan soft skill di FISIP apalagi di UI tuh sumpah ya banyak banget, tiap hari bisa aja ada acara seru yang sampai-sampai kita nggak tahu kapan, di mana, apa, karena kebanyakan mading, brosur yang ditempel di sana-sini.

So, semester genap di mana gue ambil 23 sks yang bener-bener penuhin jadwal kuliah gue, gue putusin (akhirnya setelah yoga tiap hari dan bersemedi di kamar mandi) buat daftar FISIPERS, lebih aktif di organisasi keagamaan Katolik bernama KUKSA FISIP, dan setingkat UI bernama KMK UI.
Gue cuman bisa berharap dengan gue ikut organisasi kayak gini, gue bisa belajar tahap demi tahap sebelum pada akhirnya gue eksis dan aktif di ruang lingkup organisasi yang lebih besar.

dan, kayaknya jadwal kuliah musti gue atur lagi karena banyak yang bentrok sana-sini... --"

12 Desember 2009

... dan OASE itu Bernama WINCHAN...

12 Desember 2009
Beberapa waktu yang lalu aku pernah menulis tentang seorang sahabat yang inspiratif bernama M. Ardilas Dony Amarila, sekarng aku juga akan menuliskan tentang seorang teman yang hari-hari terakhir ini mencerahkan hari-hariku yang kelabu, nama sahabatku itu adalah Edwin Chandra yang akrab dipanggil Winchan...

Tidak ada seorangpun anak Komunikasi angkatan 2009, 2008, 2007, dan bahkan angkatan 2006 yang tidak mengenal sosok sahabatku ini. Dia cukup tenar di kalangan anak Komunikasi FISIP UI karena dia adalah ketua angkatan Komunikasi 2009 setelah menggantikan posisi Ryan Hasri sebagai ketua angkatan. Aku tidak menulis mengapa Winchan bisa sampai menggantikan Ryan Hasri di sini, tapi yang jelas sosok Winchan begitu menggema di hati anak-anak Komunikasi UI.

Ia berasal dari Medan, SMA Metodis 2, begitu katanya saat kami berkenalan. Keturunan cina-medan yang sangat supel dan mudah bergaul. Dulu, saat aku melihatnya pertama kali aku masih agak 'nerd' dengan gayanya. Ke mana-mana ia membawa buku catatan dan apapun yang ia dapat sesegera mungkin ia tulis. Winchan adalah salah seorang mahasiswa yang pintar. Karena wajahnya yang lugu, lucu, menggemaskan, tak heran jika Winchan selalu dijadikan obyek foto teman-teman. Begitu juga aku...
Tahu nggak sih, seorang temanku bernama Astrid-yang biasa dipanggil Acid- sangat tergila-gila pada Winchan. Ia punya mimpi tersendiri bahwa Winchan adalah pengantin prianya-begitu yang kudengar. Tapi menurutku itu tidak salah, karena semua anak Komunikasi kiranya sangat mencintai ketua angkatan kami yang care pada anak buahnya, sopan, santun, dan suka membuat kami tertawa karena gaya dan tingkahnya yang lucu itu.
Sebagai anak Komunikasi, aku sangat menyukai ketua angkatanku itu. Karena dengan keberadaan dirinya lah kami bisa kompak. Ya, kami angkatan 2009 adalah angkatan yang kompak!!! Namun, bukan itu saja yang membuatku menyukai ketua angkatanku itu-(sebenarnya semua anak cewek komunikasi sangat MENCINTAI semua anak cowok Komunikasi, jadi memang sudah seperti keluarga sendiri sih). Yang membuatku kagum pada Winchan adalah mengenai kepribadiannya. Ia adalah sosok yang tenang, tidak mudah panik-tidak seperti aku-, peduli pada sahabatnya, jujur, dan suka membantu. Nilai plusnya adalah, rupa-rupanya dia lah yang telah mengembalikan hari-hariku yang dulunya kelabu, menjadi berwarna terlebih setiap kali kami semua kumpul angkatan.
Jujur, beberapa minggu yang lalu, kuakui itu adalah minggu terberat yang kualami. banyak tugas, dan banyak masalah yang rupanya tak bosan menghampiri. Terlebih ketika aku harus mengalami apa yang disebut orang awan patah hati karena aku menyukai seorang laki-laki yang tidak pernah peduli padaku. Itu cukup menyakitkan. Jadi, beberapa waktu yang lalu adalah waktu terberat bagiku. Untuk ke kampus saja aku harus terlebih dulu mengembalikan mood belajarku, dan seseorang bernamaWinchan telah benar-benar membuka hari-hariku dengan senyuman...

Setiap kali aku bertemu dengan Winchan, tak pernah kuarasakan kebosanan. Di dalam matanya yang teduh, senyum simpulnya yang tulus, aku mendapatkan sebuah keteduhan yang selama ini aku cari. Tak pernah aku punya teman yang ketika aku melihatnya aku bisa merasakan kenyamanan, ketenangan, bahkan keteduhan. Dalam sesaat aku bisa melupakan masalah-masalahku itu, karena di dalam mata Winchan kurasakan ada sebuah cahaya pengharapan bagi orang-orang yang putus asa seperti aku.
Aku heran padanya, karena ia tak pernah mengeluh sedikitpun di depan teman-teman satu angkatan, alih-alih dia sendiri yang terlihat sangat bersemangat menjalani hidup yang berat. Ia suka sekali berkata "SEMANGAT!!" kepada semua anak Komunikasi yang sedang frustasi karena banyak tugas, dan kami kadang menjadi termangu-mangu sendiri mempertanyakan apa sih yang ia makan sehingga powernya tetap ON, di saat semua orang sedang low bat. Winchan juga adalah ketua angkatan UKM Paragita angakatan 2009. Jadi, tak bisa kubayangkan betapa berat bebannya yang harus ia pikul sebagai motor penggerak di antara teman-temannya itu. Namun, ia berhasil. Ia tak pernah mengeluh, itu yang pasti.

Intinya, aku senang dan bersyukur punya sahabat baik, ketua angkatan yang jujur, bijak, dan penghibur ulung sejati bernama Winchan. Aku mengumpamakan sebagai seorang kafilah yang berjalan di tengah gurun Sahara dan kutemukan oase kecil di mana aku bisa beristirahat sejenak, dan oase itu adalah Winchan...

Thanks untuk Winchan untuk sebuah inspirasi kecil yang boleh kudapat, bahwa hari-hari yang boleh Tuhan beri harus digunakan dengan baik, untuk tujuan yang baik, dan mempersembahkannya bagi orang-orang terbaik.
SEMANGAATTT!!!

6 Desember 2009

I HATE FRIDAY, but I LOVE TODAY...

Hari jumat adalah hari terakhirku kuliah. Sehari-harinya setiap kali hari jumat pasti moodku selalu mengembang dan aku tak sabar untuk weekend yang panjang. Namun, hari ini berbeda. Aku telat bangun karena kamis malamnya masih membuat esai tugas pengantar ilmu komunikasi dan pagi-paginya harus cepat-cepat ke Kober untuk mencetaknya.
Satu tugas selesai.
Setiap hari Jumat, ada acara yang namanya Jumat'an. Itu adalah acara KUKSA (Keluarga Umat Katolik Sivitas Akademika), intinya setiap hari Juma't kami warga katolik FISIP berkumpul untuk berdoa. Sialnya, setelah dua kali bolak-balik menengok ruang KUKSA, tak ada satupun orang di sana. Di mana sih mereka?
Sementara semua anak-anak Komunikasi 2009 yang lain berbondong-bondong pergi makan ke kantin fakultas lain, aku harus sendirian di sini karena setelah keluar kelas aku ngadem di MBRC.
Aku kesepiaaaaannnn...
Muter-muter FISIP sendirian tanpa ada satupun teman yang kukenal membuatku merasa asing. Kenapa sih harus ada situasi kayak gini???

Untunglah, di kejauhan sana aku melihat WINCHAN. Nama lengkapnya Edwin Chandra Chang. Dia adalah ketua Angkatan Komunikasi 2009 yang berasal dari Medan. Seketika aku melihat Winchan dan dia menyapaku, waaa itu adalah hal paling indah yang kujumpai hari ini...
He's my savior today...
Pingin nangis rasanya, saat nggak ketemu dengan siapapun, tapi aku malah melihat WINCHAN. Winchan adalah seorang pribadi yang baik, ramah, dan semua anak Komunikasi UI 2009 sangat sayang padanya. Aku kagum karena dia adalah tipikal orang yang tenang, bersemangat. dan tidak pernah kulihat raut h suram di wajahnya itu. Matanya yang teduh bisa membuat siapa saja tersihir melihatnya karena di dalam matanya itu aku melihat kesejukan yang bisa membawa ketentraman hati...
Jadilah Winchan menemaniku hari itu. Baik sekali dia mau menemaniku sampai pada akhirnya kulihat koordinator fakultas KUKSA FISIP-Yohanes Raymond Adikarta-memberitahuku kalau acara Jumatan akan segera dimulai.

Jadi, sebenarnya di dalam satu hari itu Tuhan telah mengatur apa saja yang telah terjadi. Hari ini pun aku diteguhkan karena di balik smeua kesusahanku itu, Tuhan selalu menemaniku dengan cara-cara yang tak kusadari sebelumnya. Aku berterimaksih karena ia telah mengirimkan penyelamat dan penghibur untukku bernama Winchan yang membebaskanku dari kesepian ini. I Hate Friday, but I love Today... I love you Winchaaaaannnnnn!!! Hahahaha =D

3 Desember 2009

Janji Bertemu Alumni =)












Janji bertemu dengan Kak Adisti Ikayanti
3 Minggu yang lalu, kakak panitia pra-pekom 2007 memberikan kami sebuah tugas. Tugas itu berjudul wawancara alumni. Jadi setiap anak akan mendapat satu orang alumni yang harus diwawancara. Beruntungnya, aku mendapat kak Disti alumni Komunikasi UI angkatan 2003.

Jadilah, kami janjian pada suatu tempat. Karena Kak Disti inginnya wawancara digabung dengan kak Wigra yang juga angkatan 2003, jadilah aku, Winchan, Lodel, dan Bah mengadakan temu alumni di Senayan City, Jakarta Selatan.
Lodel mendapat jatah Kak Yayok, sedangkan Bah mendapat kak Nanien. Mereka semua angkatan 2003.
Hari itu aku bolos kuliah Ekonomika dan Pembangunan Sosial. Tahu tidak, malam sebelumnya aku berdebat dengan Sari Oktavia dan Dikara Kirana atas permasalahanku, dan hari ini dengan segala macam kepayahan yang ada aku masih harus melewati hari ini dengan tugas wawancara alumni yang bisa dibilang rumit.
Hari itu aku kurang persiapan, aku belum membeli souvenir untuk kak Disti, dan belum membeli properti foto yang bertema. Aku bingung pilih tema apa...
Jadi, sepakat hari itu aku bolos EPS, dan aku bergegas ke Kober untuk membeli keperluan itu dan secepat mungkin berlari ke jalan Margonda untuk membeli kue ultah. Tema fotoku adalah 'Birthday Girl'.

Sepanjang perjalanan aku berdoa dalam hati semoga hari ini berjalan dengan lancar, dan semoga Kak Disti suka dengan bingkisanku.
Pukul lima tepat, kami berempat-dengan mengandalkan rute jalan yang telah ditulis Kak Raymond 2007-tengs bro!-menunggu bis umum no. 143 di halte Kober. Saat itu hari telah mulai gelap. Yang kami takutkan ada dua: Pertama, jika sampai kami terjebak macet, otomatis kami tidak bisa sampai di SenCity jam 7 tepat. Itu adalah First Impression yang buruk. Kedua, kami berempat totaly adalah anak daerah yang belum genap satu semester berada di kota Depok. Aku berasal dari Kudus, Winchan dan Bah dari Medan, sedangkan Lodel berasal dari Banjarmasin.
Oke, lupakan kerumitan itu.
Demi Tuhan Yesus, kami berempat bisa sampai di Sencity pukul 18.30. Kami cepat-cepat naik ke lantai 5 berjalan ke arah Soho, dan senior kami ternyata sudah menunggu di situ.

Dari pengalaman wawancara ini, aku mendapatkan banyak hal yang erat kaitannya dengan kehidupanku maupun dengan dunia kerjaku di bidang jurnalistik nantinya... ^^,
1. Memberikan First Impression kepada seseorang yang baru kenal adalah hal yang penting. Jangan terlalu sok tahu, jangan terlalu akrab, jangan terlalu terlihat mencolok, tampilah sederhana namun tidak menjilat.
2. Berpakaian sopan, memandang lawan bicara, ikuti table manner yang benar menjadi poin plus tersendiri.
3. Carilah info sebanyak-banyaknya mengenai narasumber. Itu bisa berasal dari teman-teman, google search, maupun email yang dipunyainya.
4. Jangan pernah memberikan kesan seolah-olah mendapatkan tugas ini adalah hal yang berat. Jalani saja, i trust it will be fun!
5. Jangan pernah membocorkan aib angkatan, memberikan fakta kepada senior tentang angkatan, ikutilah konsep mulut terkunci. Ha Ha Ha =D
6. Gali sebanyak-banyaknya mengenai narasumber, jalankan dengan luwes agar suasana dapat mencair.
7. Jangan terlalu banyak bicara tentang diri sendiri, ingat siapa orang yang kita wawancarai, ingat siapa yang lebih penting.
8. Catatlah poin-poin penting mengenai narasumber dan jangan biarkan waktu itu menjadi tidak berguna, karena narasumber sebenarnya tidak mau buang-buang waktu mereka untuk hal yang tidak penting.
9. Siapkan daftar pertanyaan agar wawancara bisa berjalan lancar dan tidak terkesan anda orang yang bodoh.
10. Siapkan mental dan fisik untuk wawancara yang baik.

At least, kakakku bertambah satu lagi sekarang. Kak Disti adalah tipikal orang yang positif. Aku mendapat banyak pelajaran tentang bagaimana menjadi orang yang selalu positif thinking. Itu menjawab segala macam persoalan yang datang kepadaku sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa 24 jam dari hari ini aku masih berdebat hebat dengan Dikara Kirana yang berkata padaku bahwa aku pasti bisa melewati ini semua... dan AKU BISA!!!

Dari hari itu aku berjanji untuk tidak lagi memakai kata-kata negatif seperti: TIDAK BISA, TIDAK SANGGUP, BUKAN, dan SEMUA SAMPAH YANG BERMAKNA NEGATIF. Well, Siska... being positiva!!



















29 November 2009

Dosen Ilmu Komunikasi dan Mati Rasa

Mbak Kiki, salah seorang dosen Pengantar Ilmu Komunikasi suatu saat di dalam kelas berkata demikian, "Saat seseorang tengah jatuh cinta maupun tengah dilanda patah hati, saat itu juga ia adalah seorang pujangga terhebat di dunia."
Aku sangat setuju dengan kata-kata beliau.

Lalu bagaimana dengan orang yang sedang mati rasa seperti aku?
aku bingung ke manakah perasaan ini kubawa...

Oke aku benar-benar mati rasa sekarang.
ARRGHHHHHH, DAMN!

19 November 2009

Goes to Kom Nite 2009

saat ini kami tengah disibukkan oleh agenda komunikasi ui yang sangat padat. baru berselang beberapa minggu setelah acara Grandlaunching, kami dihadapkan pada KomNite: Electricity Your Future yang akan berlangsung tanggal 21/11/2009 di Green Resto & Lounge Kemang no. 25 Jakarta Selatan.

di dalam acara Kom Nite itu, akan menampilkan Kom Boys dan Kom Dance persembahan dari angakatn 2009.
Kom Boys itu terdiri dari Ulo, PT, Sangka, Mugal, Winchan, Rado, dan Awan. Sedangkan Kom Dance terdiri dari Mepet, Rossi, Present, Tri, Firda, dan Ngana.

Mereka telah bekerja keras untuk menampilkan yang terbaik untuk Kom Nite nanti, begitu juga dengan kerja keras manager mereka Lodel dan Neil.

Beberapa kali aku melihat mereka latihan tiap malam, melihat banyak kantung mata gelap di wajah PT dan Rado,
kelelahan menyambut Sangka dan semua anak-anak Kom Boys dan Kom Dance lainnya.
Semoga, kerja keras mereka ini terbayarkan dengan applaus yang meriah saat pentas nanti. Bagaimanapun aku juga tak mau kalah dengan Winchan yang juga ketua angkatan PSM Paragita dan Komunikasi UI 2009, aku harus bersemangat menjual tiket itu agar banyak orang bisa menontonnya.

Go! Go! Komunikasi UI 2009! We can!!