Tampilkan postingan dengan label Universitas Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Universitas Indonesia. Tampilkan semua postingan

6 Desember 2010

Mau Mencoba Meraba Masa Depan? Yuk Kita Naik Gunung!


Jumat itu (3/12) gue berpapasan dengan dosen Komunikasi UI yang paling gue kagumi. Namanya Mbak Chandra Kirana, atau biasa disapa Mbak Kicky. Saat itu, beliau sedang berjalan masuk ke arah gedung Komunikasi. Entah memang jodoh bertemu atau pagimana, dia manggil gue dan gue nyamperin dengan gegap gempita. “Aih, mbak Kicky! Saya mau ngobrol!”

Beberapa menit setelah beliau minta ijin buat toilet sebentar dan menaruh barang-barangnya, kamipun mengobrol panjang lebar. Hmm, jadi begini saudara-saudara. Gue sedang on fire mempersiapkan masa depan gue. Bukan masa depan tentang gue menikah dengan siapa nantinya, tapi masa depan perjalanan akademis gue. Nggak kerasa aja nih, sekarang udah semester tiga. Kira-kira empat semester lagi gue akan lulus S1 dan apa? Apakah gue akan bekerja? Apakah gue akan lanjut S2? Gue akan mempersiapkan hal itu secara matang dan terencana. Mbak Kicky adalah pendengar yang baik. Beliau menjawab semua pertanyaan gue dengan sabar. Ia memberikan solusi, pendapat, tanpa harus repot untuk berusaha ngebrainwash otak gue yang dedel ini. Gue menayakan banyak hal, mulai dari pertimbangan apakah gue seharusnya bekerja dulu setelah lulus nanti atau langsung lanjut S2 dengan beasiswa. Kalaupun gue masih niat kuliah lagi, apa yang perlu gue siapin dari sekarang, karna gue sangat pingin bisa belajar di negeri orang. Lalu, gue melalang buana menanyakan kesibukan Mbak Kicky selain menjadi dosen Komunikasi UI. Dari perbincangan singkat namun berkualitas itu gue mendapatkan banyak hal. Termasuk ketika perjalanan menggapai masa depan yang penuh harapan *jiah bahasa gue* ini diibaratkan atau dianalogikan sama dia seperti naik ke puncak gunung.

Mbak Kicky: suka naik ke gunung nggak non?

Gue : suka mbak! Saya suka tracking!

Mbak Kicky : nah, menggapai masa depan itu ibarat kayak naik gunung. kamu dari jauh bisa lihat gunung itu tingginya seberapa. Sama kayak belajar, kamu pasti punya target, semester ini apa yang harus kamu capai, apa yang musti kamu siapkan untuk naik ke puncak gunung itu.

Gue : *speechless*

Selesainya dari perbincangan itu, gue tambah on fire lagi buat googling beasiswa ke luar negeri dan mempersiapkan target-target gue saat ini dan yang akan datang. Seneng loh, punya dosen yang baik, gaol, dan bisa jadi temen yang asik kayak Mbak Kicky… Uhhhhh suka suka suka suka deehhhhhhh XD

22 Oktober 2010

Skripsi... oh Skripsi…


Hai blog!

Hari ini, Jumat 22 Oktober adalah hari terakhir UTS gue di minggu ini. Masih ada sisa satu lagi di hari Senin, dan setelah itu gue mungkin akan hibernasi atau melewatkan hari-hari gue dengan jalan-jalan, atau bisa-bisa cuman tiduran di kosan sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Ehem, begini..

Mata kuliah yang di-UTSkan hari ini bernama Metode Penelitian Sosial I. Kenapa I (satu)? Karena gue akan mendapatkan jilid II-nya di semester depan berikut dengan mata kuliah macam gini lainnya kayak Metode Penelitian Komunikasi I, Metode Penelitian Komunikasi II, Metode Penelitian Kualitatif, maupun Metode Penelitian Kuantitatif. DAMN. Hahaha :D

So, gue baru nyadar kalo untuk menulis sebuah skripsi, gue minimal harus dapet nilai A di metode Penelitian Sosial ini, dan A di Stastisik Sosial, dan AAAA lainnya di mata kuliah yang gue sebutkan di atas. Tidur aja deh gue.. Itu adalah syarat minimal, yang artinya secara gak langsung=lo harus dapat nilai A di mata kuliah itu semua.

Ngok-ngok -0-

Nah, bisa dibilang itu adalah barrier gue dalam kuliah-kuliah semester ini maupun semester depan yang harus gue hadapi. Jujur, gue masih takut banget, dan pesimis gue bisa dapat A di MPS ini. Fortunately, gue punya pembimbing akademis yang sangat care sama gue dan mahasiswa lain yang ia bimbing. Nama pembimbing gue itu bernama Mas Awang Ruswandi yang menjabat sekaligus sebagai sekretaris departemen ilmu komunikasi. Suatu ketika ia, saat bimbingan kuliah, beliau menjelaskan aturan skripsi, tugas karya akhir (TKA), maupun magang kepada anak-anaknya Jurnalisme 2009. Waktu itu ia menganjurkan kepada kami untuk TIDAK MEMBUAT SKRIPSI.

Kami semua tentu saja terkejut. Mengapa tidak? Bukankah selama ini skripsi dipandang sebagai syarat mutlak kelulusan mahasiswa S1?

Beliau hanya mengatakan dengan gayanya yang super simple dan praktis kalau universitas yang ada di luar negeri saja (the other world class university hehehe :D) sudah nggak pakai model skripsi. Mereka menggunakan sisa SKS mereka (6 SKS untuk Skripsi) untuk mengambil mata kuliah lain, atau hanya membuat Tugas Karya Akhir (TKA). Ia sama sekali tidak menyarankan kami untuk tidak membuat skripsi. SAMA SEKALI. Bahkan untuk lanjut ke jenjang S2, skripsi sudah tidak lagi dibutuhkan, katanya.

*sebagian temen-temen gue bersorak, sujud syukur, senyum, meler, guling-guling, rangkulan, nyanyi We Are the Champion, dan ada yang masih bengong. Itu gue*

Sampai sekarang, gue masih belum memutuskan untuk membuat skripsi atau nggak di semester depan, atau di depannya lagi. Masa kuliah S1 gue berakhir 4 semester lagi, dan masih terlihat sangat absurd. Sementara itu, dari berbagai pihak, masih mendoktrin gue untuk membuat skripsi, jaga-jaga biar bisa ngelajutin S2, sekalian pake tuh ilmu dari MPS, MPK, Statsos, yang nantinya gue dapat.

Endingnya, gue saat ini nggak mau mikirin hal-hal yang masih jauh di awing-awang, dan masih kelihatan absurd di mata gue. Hidup gue yang sekarang aja udah gak jelas banget juntrungannya, apalagi mikirin yang lain dan statusnya nggak pasti. Gue akan menjalani apa yang ada sekarang, dan berusaha buat naikin IP gue yang anjlok parah (baca: terjun bebas) di semester kemarin.

Anyway, wish me luck yaaaaaa…!!

Thanks for reading!

24 Juni 2010

IP yang Terjun Bebas

Membuka SIAK-NG di pagi itu membuat cuaca hatiku buruk pagi hari itu juga. Hari itu, 12 Juni 2010 merupakan hari terberat ketiga yang pernah kualami semasa kuliah. Pengumuman nilai yang terjun bebas di semester ini membuat hidupku rapuh, dan sepanjang hari itu entah bagaimana sangat sulit untuk kuhadapi sendirian. Aku mengirim sms kepada orang-orang yang kuharap bisa mencerahkan atau paling tidak dapat mengurangi beban hati yang berat ini. Namun, kebanyakan dari mereka itu bukannya malah membawa kabar baik malahan membuatku semakin tidak berguna saja. Di dalam lubuk hatiku yang terdalam aku sangat ingin bisa bercerita dengan You-Know-Who itu, namun smsnya balasannya membuatku berpikir bahwa sepertinya aku telah salah untuk memilih orang ini untuk mencerahkan hatiku. Yang ia lakukan hanyalah menambah rasa ketidakbergunaanku saja di dalam hidup ini dengan mengatakan bahwa nilainya hanya turun 0,3 dari semester lalu. Oh my God. Salah besar. Ini salah besar.

Jadi, sepanjang hari itu aku murung, makan hanya sekali sehari, tidak bersemangat dalam melakukan apapun, yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana caranya agar membuat ini menjadi mimpi belaka, kemudian aku bisa bangun kembali dan mndapati kenyataan ini tidak pernah ada, bagaimana caranya agar aku bisa menghilang dengan cepat, dan bahkan parahnya aku sangat berharap keluargaku ini membakarku hidup-hidup saja daripada aku merasa tidak berguna seperti ini di rumah.

Entah mengapa kadang mengetahui suatu kebenaran rasanya entah mengapa sangat menyakitkan…”

Aku sangat menyesali IP ku turun semester ini. Sangat.

Aku kecewa terhadap diriku sendiri. Aku belum dapat menerima kanyataan pahit ini semua.

Aku telah mengecewakan orang-orang yang kusayangi.

Aku mengingkari janjiku sendiri, dan kesalahanku-lah satu-satunya yang membuat nilai mata kuliahku anjlok.

Aku malas. Aku membuang waktuku yang berharga untuk hal yang tak berguna. Aku kurang mempasrahkan segala yang kukerjakan itu kepada Tuhan.

Hari itu, yang kulakukan hanyalah mencaci maki dosenku yang sangat-amat-tidak objektif itu, mengirim sms kepada semua orang yang sms balasannya kebanyak malah membuatku semakin buruk, tidak mengakses internet, dan mengutuki mereka-semua-orang-yang-telah-membuatku-menjadi-semakin-tidak-berguna agar bulu hidung mereka semakin panjang, lebat, sampai upil-upilnya dapat keluar dan masuk ke dalam tenggorokkan mereka. I really wish that it will happen soon!!!

I’M BURNT!!!


Hari ini, 13 Juni 2010 aku memberanikan diri membuka laptopku dan meyakinkan diriku untuk menulis ini semua. Perasaanku jauh-jauh lebih baik sekarang daripada hari kemarin itu. Aku sengaja bangun lebih siang, dan orangtuaku mengijinkanku bangun sesukaku hari ini, kemudian melakukan hal apapun yang kusukai. Awalnya sangat berat mengetahui sebuah kebenaran yang pahit. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dosen pembimbing akademikku akan mencaci makiku di kantornya beberapa bulan yang akan datang karena nilaiku yang anjlok ini. Aku turun dari tempat tidur, dengan mata agak sayu dan sembab. Aku bahkan masih tidak punya semangat untuk melakukan apapun, apalagi membuka laptop dan menulis sebuah cerita seperti biasa. Namun hari ini, tepatnya malam ini pukul 10:17 AM aku memberanikan diri untuk kembali menulis segala hal yang kurasakan dan mencoba menuangkan segalanya dalam bentuk tulisan.

Pertama, aku ingin mengucapkan rasa penyesalanku yang teramat dalam kepada Tuhan Yesus karena masih belum bisa dewasa dan tidak memegang janji yang selama ini pernah terucap untuk membuat IP dari semester ke semester menjadi stabil. Aku juga menyesalkan hal ini bisa terjadi. Aku telah mengecewakan kedua orangtuaku. Seharusnya saat ini ketika aku bersama mereka, mereka bisa melihat dan bangga karena nilaiku bagus semester ini. Namun maaf, ini semua tidak terjadi. Walau hanya turun beberapa nilai di belakang koma, aku masih belum bisa konsisten dengan omonganku. Aku sangat menyesal.

Kedua, aku menyadari bahwa selama ini aku keliru. Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri dan cepat merasa puas terhadap sesuatu. Yang paling membuatku kecewa selain nilai yang tidak maksimal adalah bagaimana segala perjuanganku selama ini tidak terlalu mendapatkan apresiasi yang baik dari dosen yang membimbing mata kuliah itu. Kurasa aku telah salah mengenal mereka dan terlalu cepat menyimpulkan bahwa mereka senang dengan nilaiku. Padahal tidak. Aku harus mulai berhati-hati dalam menentukan siapa dosen-dosen yang mengajarku di semester depan dan memastikan bahwa mereka adalah dosen yang kompeten dan setidaknya dapat memberikan nilai secara objetif dan tidak menuntut terlalu banyak dari mahasiswanya.

Ketiga, kurasa aku sudah dapat menerima segala kekuranganku saat ini. Aku kurang berserah kepada Tuhan akan segalanya. Dulu aku tidak begitu, namun beberapa bulan terakhir ini memang kuakui bahwa sering kali aku terlalu mengandalkan diriku sendiri dan tidak melibatkan Tuhan dalam setiap rencana hidupku. Yah, ini adalah konsekuensi yang memang harus kujalani dan aku tahu cobaan yang buruk ini bukan maksud dari Tuhan untuk terus menenggelamkan atau bahkan membuat hidupku lebih terpuruk. Namun lebih dari itu ialah bahwa hanya dengan kegagalanku, kejatuhanku, Ia telah berhasil memanggilku kembali kepadaNya. Ia memanggilku dengan cara-cara yang indah yang dapat menyadarku secara sepenuhnya bahwa aku ini kecil di hadapanNya, aku bukan siapa-siapa di dunia ini, dan meyakinkan aku sekali lagi di mana aku tidak bisa jauh dariNya.

Keempat, aku memikirkan banyak hal sejauh ini dan kurasa aku harus menebus kegagalanku dengan keberhasilan yang akan kumenangkan di semester mendatang. Tidak mudah untuk menghadapi 24 SKS itu, namun aku yakin jika aku berusaha sekali lagi, dan tetap mengandalkan Tuhan dalam setiap rencana hidupku, tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan. Satu hal yang pasti kulakukan adalah pindah kosan. Kurasa aku harus memulai menata diriku kembali dari awal. Dari nol.

Walaupun aku sering jatuh berulang kali, aku harus mencoba untuk bangkit lagi.

Bila kuterjatuh kini, ku kan melompat lebih tinggi!!

9 Juni 2010

Sakit Mata Saat Hectic-hecticnya Registrasi Mahasiswa Baru UI



UI aku dataaaangg...


Sudah hampir dua minggu aku di Jakarta ini, banyak yang kupersiapkan untuk hari paling bersejarah dalam hidupku: menuju kampus UI.

Aku sudah mempersiapkan segala hal yang aku butuhkan saat registrasi nanti: berkas-berkas penting, snack buat pengganjal perut, pemutar musik dan majalah agar nggak boring, dan... eng ing eng... di hari H

AKU SAKIT!!!

Kemarin, ibuku iritasi mata, dan parahnya saat daftar ulang itu aku ngerasain mataku malah memerah. Alamak, aku ikut-ikutan iritasi mata!! TIDAAAK!! Oh Noooooo!!!

Hari yang sudah aku tunggu-tunggu, kacau semuanya, bodohnya, aku memang nggak memprediksi hal ini.

Staminaku tentu saja langsung drop, karena mataku rasanya nyeri, kepala pusing berdenyut-denyut karena antrenya sepanjang ngantre BLT, perut keroncongan karna laper, dan kaki berasa patah karna terlalu lama berdiri...

JIAH, ANTREENYA PANJANGGG BENEEERRRR...

Sampai di Balairung jam 7 pagi, registrasi nya baru selesai jam 5 sore,

Dengan tampang super duper kucel, ngantuk berat, mata bengkak, kaki kram, kesemutan, perut keroncongan, sampai di mobil langsung tertidur lelapp...

Aku sebenernya paling benci buat nunggu, apalagi ini nunggunya berjam-jam, dan serasa boseeennn berat. Gengsi juga sih, kalo keseringan duduk, keseringan pipis, keseringan ngeluh... tapi, ini yang namanya perjuangan, man! Apapun kulakukan buat UI. Nunggu lagi? Ayuk ah, apapun aku lakuin. Kenapa? Karna nggak semua orang bisa mendapatkan kesempatan menunggu antrian registrasi seperti ini.

Dari pengalamanku itu, aku boleh bersyukur banget sama Tuhan, karna berkat anugrahNya lah aku bisa sampai di kota Depok. Baru masuk gerbangnya UI pun, rasanya aku udah jatuh cintaaa sama kampusku....

Can't help falling in love with it...


Aku bersyukur karna udah dapet kampus yang bagus banget—jika mengingat masih banyak teman-temanku yang berkutat dengan UMB dan SNMPTN nya—

Dapat keringanan biaya pendidikan yang nggak sedikit,

di registrasi ini orangtua dan kakak-kakakku hadir,

bisa dianter naik mobil muter-muter UI, mau nungguin registrasi itu dengan sabarrrr banget! (padahal aku sendiri yang nggak sabaran!!), dan semuanya itu boleh selesai dan segalanya berjalan dengan LANCAR.

Yah, aku menganggap iritasi mata dan kaki pegal itu hanya halangan kecil yang harus dibayar dengan anugrah yang tak ternilai... hehey... banyak orang yang menginginkan menjadi salah satu dari keluarga besar UI (apalagi FISIP) dan mau mengorbankan apapun yang ia punya!! Masa' ngantri seharian aja aku ogah-ogahan gini sih (malu-maluin bangets). Toh aku kan nggak sendiri. Semuanya ngalamin!!

Oh ya, aku jadi punya banyak teman-teman baru dari macam-macam jurusan. Mereka unik-unik dan tentu saja brilian. Kami bertemu saat kopi darat PPKB UI 2009. Saat-saat seperti ini, aku teringat teman-temanku di Kudus. Hmmm.. sedang apa mereka saat ini. Aku merindukan mereka. Semoga mereka mendapatkan tempat kuliah yang sesuai dengan keinginan mereka.

Aku puas banget karna di FISIP anak-anaknya (terutama Ilmu Komunikasi) enjoy dan easy going. Semoga kami dapat menjadi teman yang baik...

Trus trus, ngomong-ngomong soal berkas-berkas kelulusan, ehem ehem, ternyata nggak dikoreksi secara teliti. Malahan yang jaga kesannya nyantai, yah baguslah! Bapak-bapak penjaga stand jaket juga baik banget, mau ngepasin ukuran tubuhku ini dengan huruf S. Small!! (Tidak tahu harus senang atau terpukul huhuhu T.T)

Tapi, namanya manusia, aku ngerasa ada 1 yang nggak puas! Foto KTM ku jelekkk bangets... kucel!! Huhuhu, menyedihkan. Siaran ulang dong! Plisss...


Oh Tuhan, semoga aku cepat sembuh. Jangan ada lagi korban sakit mata seperti aku,...

kayanya itu aja deh,

perih ni mata di depan kompi.

Thanks buat semua yang udah bantuin.

God Bless You All~~~


3 Juli 2009

(ditulis ulang dari notes Fb ke blog ini)

Tembus PPKB UI 2009: Aneh Tapi Nyata

Inilah cerita awal bagaimana aku bisa mendapatkan PPKB UI. Sepertinya semua orang yang sudah mengenalku pasti tahu akan cerita ini. Namun, aku juga ingin membagikan kisahku ini kepada kalian semua…

Pertama, aku sama sekali tidak berniat masuk UI. Bagiku, masuk ke universitas unggulan seperti UI hanya sebuah mimpi di siang bolong. Aku sebenarnya ingin sekali masuk ke Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta dan mengambil Fakultas Psikologi. Kedua orangtuaku sangat tidak mendukungku masuk ke sana. Namun, bukan aku namanya kalau tidak mencobanya. Kuputuskan saat itu untuk mendaftar Ujian Tulis (UTUL) UGM walau pada akhirnya 3 oilihan utamaku adalah Ilmu Hubungan Internasional, Ilmu Komunikasi, dan Ilmu Sejarah.

Aku bahkan sudah mendapat kartu ujian, dan sudah mensurveu beberapa kosan di Yogyakarta.

Siang itu, tanggal 8 Januari 2009 adalah siang yang sangat terik. Pada pukul dua belas siang, saat istirahat kedua, aku menemani seorang temanku bernama Penny trianawati untuk berkonsultasi ke BK (Bimbingan Konseling). Aku tidak tahu bagaimana, jadinya aku malah ditawari oleh seorang guru yang bernama Bu Ida untuk mengambil PPKB UI yang sepertinya masih belum ada yang mengisi.

Masalahnya, PPKB UI merupakan wilayah territorial bimbingan dari seorang guru yang lumayan galak, jutek, dan tidak penyabar bernama Ibu Soeketji. Setelah beberapa waktu ia melihat nilai-nilaiku dari awal kelas X sampai kelas XII semester I, dengan mendengus sebal ia membukakan padaku amplop berwarna cokelat berlogo makara UI itu. WOW.

Aku membalik-balik halaman demi halaman, dan cukup agak shock ketika melihat sebuah catatan kecil di lampiran Manajer Kemahasiswaan UI tersebut. Bunyinya seperti ini:

DOKUMEN HARUS SUDAH DITERIMA PALING LAMPAT TANGGAL 9 JANUARI 2009.

Sekarang tanggal berapa? Tanggal 8 Januari 2009. Besok dokumen itu bahkan harus sudah sampai…

Aku tersenyum simpul kepada Ibu Soeketji ini dan tertawa garing. Hahaha, nggak mungkin.

Namun, kau tahu apa yang terjadi?

Ia terlihat sangat pucat juga, dan kemudian berteriak dengan sangat keras sampai membuatku meloncat dari tempat duduk di ruang Bk yang apak itu, katanya: “Yo wis Mbak, isi wae!! Ndang gage!!” artinya ya sudah Mbak, isi saja cepat sana!!!

Aku melongo. Bingung.

Ia kemudian memaksaku membawa semua dokumen ini. Di situ ada 5 buah lembaran PPKB untuk 5 orang siswa. Ia tidak mempedulikan kata-kataku dan tetap memaksaku membawa semuanya.

Aku pulang kembali ke kelas dengan keadaan bingung. Sementara teman-teman yang lain malahan menyemangatiku untuk mengambil PPKB UI ini.

Di rumah, aku langsung menceritakan hal ini kepada Ibuku. Ibuku yang baik hati mendukungku juga untuk mengambil PPKB UI ini. Bagaimana sih, aku kan mau kuliah ke Jogja!!

Karena terbakar dengan perkataan Ibuku yang mengatakan bahwa kesempatan tidak datang dua kali, demikianlah akhirnya aku lari pergi ke Bank BNI untuk membayar uang pendaftaran tersebut. Tahukah kau apa yang terjadi??

Ketika aku masuk ke sana, saat itu waktu menunjukkan pukul 15:34 sore, tak lama si Satpam BNI itu mengunci semua pintu dan mengosongkan kasir. Ia menoleh kepadaku dan berkata, “Silakan Mbak, kloter terakhir.” Hahaha, aku tertawa garing. Bisa-bisanya aku malahan salah sebut ketika ditanya ingin masuk ke jurusan apa, aku malah menjawab ILMU KOMUNIKASI dan bukannya PSIKOLOGI.

Soal bayar-membayar BERES.

Belum selesai di situ, saat akan foto diri dan cek kesehatan, cuaca entah mengapa tidak bersahabat. Dari yang mulanya sangat terik berubah menjadi hujan deras dan demi apapun di dunia ini aku pas foto dengan kondisi rambut yang basah, lepek, mengenaskan, seperti tikus yang kecemplung dari got. Itulah aku, si calon mahasiswa baru.

Cek kesehatan di sebuah Rumah Sakit membuat mentalku down. Bukan karena aku ternyata mengidap penyakit apa, tapi si dokter ini resek banget karena malah mengatakan sesuatu yang membuatku drop. Ia berkata bahwa kuliah di Jakarta sama saja dengan kuliah di Bandung, yaitu BOROS. Oke, ia memang benar, dan aku jadi agak bimbang takut masuk UI dengan biaya mahal. Hey, itukan kalau aku lolos PPKB UI. Kalau tidak, aku toh akan tetap kuliah di Jogja, begitu pikirku.

Malamnya, dengan kondisi lepek parah, belum makan seharian, aku mengisi lembaran-lembaran PPKB UI dengan setengah hati. Agak sedikit terganggu mengapa tadi di BNI tidak memilih PSIKOLOGI, aku harus melingkari ILMU KOMUNIKASI itu di halaman PPKB UI ku itu. Bolpein mblobor, dan pensil yang tumpul, kulingkari semuanya saja. Aku pusing!!

Besoknya, dengan tiada kebanggan sama-sekali, aku si bodoh dari XII IPS 3 masuk ke ruang BK pada hari Jumat, 9 Januari 2009 membawa satu amplop besar lembaran PPKB UI yang sama sekali tidak menyertakan satupun sertifikat apalagi lembaran penghargaan kejuaraan atau apa. Raportku yang pas-pasan, fotoku yang lepek, serta sebuah esai singkat sajalah modalku untuk masuk ke sana. Parahnya lagi, si Ibu Soeketji ini bahkan tidak mengoreksi lagi apa yang telah kutulis dalam lembaran PPKB UI ku itu. Hahaha, guru yang aneh!

Baru setelah seharian membolos pelajaran karena mengurus surat Kepala Sekolah, Akreditas SMA dan macam-macam, aku bahkan mengeposkan dokumen itu SENDIRIAN ke Kantor Pos di Kota Kudus di tengah hujan dengan naik sepeda motor. Oke, dokumen itu tentu saja basah, namun aku tidak peduli.

Hambatan yang datang lain lagi:

Setelah sampai di Kantor Pos, (basah kuyup tentu saja) aku bergegas menuju counter pengiriman kilat khusus.

A: Aku

P 1: Pegawai Wanita Kantor Pos 1

P2: Pegawai Wanita Kantor Pos 2


A: Saya mau kirim dokumen yang paling cepet, pakai apa ya?

P1: Oh, silakan ke counter KILAT KILAT KHUSUS (nama yang aneh)

A: Ok. (bergeser satu langkah) Mbak, saya mau kirim dokumen ini. Bisa sehari sampai kan?

P2: Silakan. (Mulai menimbang dan mengetik alamat UI)

A: (Menunggu, membersihkan rambut dari air hujan)

P2: Oh, maaf mbak, 16424 itu kode pos Depok ya?

A: Iya, mbak. Kenapa?

P2: MAAF MBAK, Kami agen kami hanya sampai Jakarta. Yang ke Depok belom ada.

A: (%^&*#4%3#4@)

P2: Silakan ke KILAT KHUSUS SAJA.

A: (43%^&*^%#$@ bergeser ke tempat semula) Paling cepet kilat khusus berapa hari, Mbak? Dua hari bisa kan?? (dengan nada agak memohon)

P2: TIDAK BISA MBAK. Paling cepet itu 4 hari. Besok SABTU. MINGGU kami libur, yah mungkin Selasa itupun baru sampai JAKARTA.

A: ($%^&&&*^%$^$) Ya sudah deh. Apa saja T.T


Begitulah, hidup-matiku akan masuk UI tergantung pada ini semua. Sepulangnya dari Kantor Pos, bukannya si Ibu Guru membangkitkan semangatku, yang ia lakukan adalah berkata seperti ini: “Kalau ndak ketrima jangan nangis ya, Mbak…” Hahaha, kujawab: “Nggak kok, Bu. Saya mau kuliah di Jogja saja.”


Kira-kira pada bulan Februari tanggal 16 atau berapa aku lupa, surat berwarna kuning bertandatangan sang Rektor Gumilar RoesliwaSoemantri muncul di hadapanku dan mengatakan bahwa aku lolos PPKB UI Jurusan Ilmu Komunikasi 2009. SHOCK? Jelas. Bahkan pingin pingsan rasanya. Hahaha THANKS GOD!!

Dari pengalamanku ini yang mau kutulis simple saja, yaitu bahwa TIDAK ADA DI DUNIA INI YANG MUSTAHIL. Walau sekuat apapun keinginanku untuk bersekolah di Jogja, inilah jawaban yang Tuhan berikan untukku. So, here I am.

Jadi, buat siapa saja yang membaca tulisan sampah yang tidak berguna ini, bersyukurlah pada kesempatan yang Tuhan berikan di dalam hidupmu. Jangan pernah sia-siakan kesempatan itu, dan ketika kamu mengucap dengan penuh harapanmu padanya, tiada hal yang tidak mungkin. Hehehe :D

Semangat!!







3 Desember 2009

Janji Bertemu Alumni =)












Janji bertemu dengan Kak Adisti Ikayanti
3 Minggu yang lalu, kakak panitia pra-pekom 2007 memberikan kami sebuah tugas. Tugas itu berjudul wawancara alumni. Jadi setiap anak akan mendapat satu orang alumni yang harus diwawancara. Beruntungnya, aku mendapat kak Disti alumni Komunikasi UI angkatan 2003.

Jadilah, kami janjian pada suatu tempat. Karena Kak Disti inginnya wawancara digabung dengan kak Wigra yang juga angkatan 2003, jadilah aku, Winchan, Lodel, dan Bah mengadakan temu alumni di Senayan City, Jakarta Selatan.
Lodel mendapat jatah Kak Yayok, sedangkan Bah mendapat kak Nanien. Mereka semua angkatan 2003.
Hari itu aku bolos kuliah Ekonomika dan Pembangunan Sosial. Tahu tidak, malam sebelumnya aku berdebat dengan Sari Oktavia dan Dikara Kirana atas permasalahanku, dan hari ini dengan segala macam kepayahan yang ada aku masih harus melewati hari ini dengan tugas wawancara alumni yang bisa dibilang rumit.
Hari itu aku kurang persiapan, aku belum membeli souvenir untuk kak Disti, dan belum membeli properti foto yang bertema. Aku bingung pilih tema apa...
Jadi, sepakat hari itu aku bolos EPS, dan aku bergegas ke Kober untuk membeli keperluan itu dan secepat mungkin berlari ke jalan Margonda untuk membeli kue ultah. Tema fotoku adalah 'Birthday Girl'.

Sepanjang perjalanan aku berdoa dalam hati semoga hari ini berjalan dengan lancar, dan semoga Kak Disti suka dengan bingkisanku.
Pukul lima tepat, kami berempat-dengan mengandalkan rute jalan yang telah ditulis Kak Raymond 2007-tengs bro!-menunggu bis umum no. 143 di halte Kober. Saat itu hari telah mulai gelap. Yang kami takutkan ada dua: Pertama, jika sampai kami terjebak macet, otomatis kami tidak bisa sampai di SenCity jam 7 tepat. Itu adalah First Impression yang buruk. Kedua, kami berempat totaly adalah anak daerah yang belum genap satu semester berada di kota Depok. Aku berasal dari Kudus, Winchan dan Bah dari Medan, sedangkan Lodel berasal dari Banjarmasin.
Oke, lupakan kerumitan itu.
Demi Tuhan Yesus, kami berempat bisa sampai di Sencity pukul 18.30. Kami cepat-cepat naik ke lantai 5 berjalan ke arah Soho, dan senior kami ternyata sudah menunggu di situ.

Dari pengalaman wawancara ini, aku mendapatkan banyak hal yang erat kaitannya dengan kehidupanku maupun dengan dunia kerjaku di bidang jurnalistik nantinya... ^^,
1. Memberikan First Impression kepada seseorang yang baru kenal adalah hal yang penting. Jangan terlalu sok tahu, jangan terlalu akrab, jangan terlalu terlihat mencolok, tampilah sederhana namun tidak menjilat.
2. Berpakaian sopan, memandang lawan bicara, ikuti table manner yang benar menjadi poin plus tersendiri.
3. Carilah info sebanyak-banyaknya mengenai narasumber. Itu bisa berasal dari teman-teman, google search, maupun email yang dipunyainya.
4. Jangan pernah memberikan kesan seolah-olah mendapatkan tugas ini adalah hal yang berat. Jalani saja, i trust it will be fun!
5. Jangan pernah membocorkan aib angkatan, memberikan fakta kepada senior tentang angkatan, ikutilah konsep mulut terkunci. Ha Ha Ha =D
6. Gali sebanyak-banyaknya mengenai narasumber, jalankan dengan luwes agar suasana dapat mencair.
7. Jangan terlalu banyak bicara tentang diri sendiri, ingat siapa orang yang kita wawancarai, ingat siapa yang lebih penting.
8. Catatlah poin-poin penting mengenai narasumber dan jangan biarkan waktu itu menjadi tidak berguna, karena narasumber sebenarnya tidak mau buang-buang waktu mereka untuk hal yang tidak penting.
9. Siapkan daftar pertanyaan agar wawancara bisa berjalan lancar dan tidak terkesan anda orang yang bodoh.
10. Siapkan mental dan fisik untuk wawancara yang baik.

At least, kakakku bertambah satu lagi sekarang. Kak Disti adalah tipikal orang yang positif. Aku mendapat banyak pelajaran tentang bagaimana menjadi orang yang selalu positif thinking. Itu menjawab segala macam persoalan yang datang kepadaku sampai pada akhirnya aku menyadari bahwa 24 jam dari hari ini aku masih berdebat hebat dengan Dikara Kirana yang berkata padaku bahwa aku pasti bisa melewati ini semua... dan AKU BISA!!!

Dari hari itu aku berjanji untuk tidak lagi memakai kata-kata negatif seperti: TIDAK BISA, TIDAK SANGGUP, BUKAN, dan SEMUA SAMPAH YANG BERMAKNA NEGATIF. Well, Siska... being positiva!!



















22 November 2009

Ada Aku di Jok Belakang Bus Kuning Itu...





"Cara terbaik menikmati sesuatu adalah ketika kau menyukai masa-masa itu dengan sepenuh hati..."


Kadang ada spot-spot di kampus yang viewnya bagus banget, bisa bikin teduh suasana hati yang lagi kacau. namun, ada juga satu spot yang bisa bikin gue enjoy banget kalo gue bisa di sana hari itu.
spot itu adalah jok paling belakang sebelah kanan bangku bis kuning...

Tiap hari kalo mau berangkat ke kampus, gue biasa nunggu bis di halte asrama. Karna yang nunggu bikun itu banyak, nggak jarang gue musti sikut-sikutan sama anak-anak lain.
Tapi bener deh, rasanya ada kepuasan sendiri kalo bisa duduk di sana. Tempat favorit gue sepanjang masa setelah kamar gue di lorong E2...

Kalo duduk di spot itu, rasanya gue jadi kayak anak UI banget (whahaha lebay), nggak tahu sih, rasanya kalo duduk di situ, gue bisa melihat kampus UI di balik kaca jendela sebelah kanan, dan bisa juga lihat UI di depan (kalo nggak lagi penuh orang), dan dari situlah gue kadang punya ide gila ini-itu yang kadang bikin gue cengengesan beneran di dalam bis kalo lagi in (lama-lama gue malah jadi gila beneran), trus gue kalo duduk di sana bawaannya jadi pengen denger lagu Genderang UI (secara gue naik bikun kaya sesi touring kampus, ahahah payah!).
Jadi, doa gue tiap pagi adalah memnita sama Tuhan agar bisa duduku di jok paling belakang. sumpah deh, lo mesti coba, asik banget!