Tampilkan postingan dengan label tentang penulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang penulis. Tampilkan semua postingan

19 Desember 2010

TERANG

Minggu. 19 Desember 2010

Hari ini saya tidak pergi ke gereja. Ah Tuhan, saya kan mau ujian. Begitu kata saya sore tadi. Saya melihat tumpukan koran rubrik olahraga yang belum dibaca dan dianalisis untuk tugas paper. Saya melihat bahan ujian besok yang menggunung tinggi, memanggil-manggil untuk dibaca. Saya si manusia tegar tengkuk, tidak pergi ke gereja.

Akhir-akhir ini banyak hal yang mengganggu pikiran saya. Semuanya berputar-putar dalam satu poros. Poros itu sendiri sangat pelik, mencoba untuk menyingkirkannya di otak ini malahan membuat saya lemah. Karena hal itu membuat saya sedih, maka saya biarkan saja. Saya tahu, kini poros itu semakin besar, menyerempet banyak masalah lain, dan ibarat salju, kristal itu sudah berubah menjadi snow ball. Saya si manusia tegar tengkuk, punya masalah sebesar snow ball.

Saya sudah mengurangi intensitas saya menulis blog. Poros masalah itu seakan mematikan ide saya untuk menulis. Hampir tidak ada ide, pikiran ini hampir mati. Teman-teman saya semua memiliki kesibukan masing-masing dan mereka tidak mau repot-repot meluangkan waktu untuk mendengarkan saya. Mau ngajak ketemu, aja susahnya.. saya paham hal itu. Bukan salah mereka kalau sibuk dan tidak bisa bertemu, sayanya saja yang tidak ada pekerjaan sehingga mengusik kehidupan banyak orang. Ini adalah salah saya. Tidak seharusnya saya mengganggu kesibukan mereka. Saya si manusia tergar tengkuk harusnya bisa mandiri.

Dengan langkah gontai, saya mulai beres-beres kamar yang sudah seperti kapal pecah. Lalu saya berpikir, mengapa saya masih berada di tempat ini sekarang…? Bukankah Natal sebentar lagi? Di mana semangat Natal itu? Di mana cahayaaaaa itu? Saya tidak merasakan apa-apa di sini. Segalanya gelap. Ah Tuhan, ini tidak adil. Tidak ada satupun sms masuk, tidak ada telepon dari rumah. Apakah keluarga saya tidak merindukan saya saat ini? Mengapa mereka tidak menghubungi saya? Di mana mereka? Di mana teman-teman saya? Di manakah mereka saat ini, ketika saya membutuhkan mereka? Mengapa ujian akhir semester harus di saat Natal seperti ini? Mengapa? Mengapa? Mengapa?

Banyak pertanyaan itu semakin membuat mood saya semakin buruk hari ini. Dengan gontai (lagi), baru kali ini saya tidak ingin Natal itu tiba. Kekecewaan melingkupi saya dan meredupkan semangat itu.

Lama, saya duduk di lantai. Memakai topi Santa Klaus.

Saya diam, dan tiba-tiba air mata yang panas itu mengalir di pipi saya. Saya terisak.

Saya membenci saya di minggu terakhir sebelum Natal ini. Saya membenci diri saya seutuhnya karena selama ini saya selalu mengandalkan diri saya sendiri. Saya tidak melibatkan Tuhan dalam setiap pekerjaan dan kegiatan saya. Perasaan saya sangat terluka akan kejadian-kejadian buruk yang belakangan ini saya alami. Terbangun karena mimpi buruk tiap malam, sudah menjadi hal biasa. Bengong sendiri di kelas, mungkin sudah biasa juga. Apa mungkin semangat saya benar-benar padam? Di manaaa Tuhan saat ini? Di mana?

Malam ini, saya merasakan kehangatan itu kembali saat Tuhan memanggil saya untuk berdoa. Kapan ya terakhir saya berdoa? Saya membuat tanda salib, namun bukannya berdoa, yang terjadi adalah saya terisak lagi. Malam ini saya mengadu. Malam ini saya bercerita padaNya, saya memintaNya untuk mendengarkan saya.

“Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan. Dan pendengaranNya tidak kurang panjang untuk mendengar.” Yesaya 59.

Saat terisak itu, yang ada di pikiran saya hanyalah keluarga saya di rumah, dan teman-teman saya di PD Santo Rafael. Betapa saya sangat merindukan mereka semua. Merindukan orang-orang yang mencintai saya seutuhnya, orang-orang yang menerima kekurangan saya. Saya ingin lepas sejenak dari kepadatan kuliah dan organisasi. Saya muak dengan hal ini. Namun saya tahu, ini semua adalah kewajiban.

Saya ingin pulang. Saya ingin pulang, Tuhan… bawa saya pulang…

***

Saudara-saudaraku yang terkasih. Pengalaman iman dicintai Tuhan pasti berbeda-beda dalam hidup anda dan saya. Tuhan tidak hanya hadir di dalam gereja atau kapel. Tuhan tidak akan berdiam di situ saja.

Tuhan itu ada di hati saudara dan saya.

Sekali lagi, panggilan untuk percaya akan kehendak Tuhan, menanggapi panggilanNya, kembali saya rasakan. Bukan seberapa jauh saya pergi, namun yang penting adalah seberapa jauh saya pergi, Tuhan punya cara untuk memanggil saya kembali.

Jika saat ini, anda masih ragu mau pergi ke mana, selalu mencari kesenangan untuk menghibur jiwa anda yang sepi, mendapati teman-teman anda tidak seramah seperti biasanya, atau kegagalan selalu di depan mata anda, percayalah akan kata-kata saya bahwa anda memerlukan Tuhan dalam hidup anda. Tuhan hanya sejauh doa, kawan.

“Pada waktu Aku berkenan, aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” 2 Korintus 6

Selamat hari Minggu, saatnya membersihkan dan menyiapkan diri untuk kedatangan Tuhan! Natal itu ada, di hatimu. Tak peduli seberapa jauh kau dari rumah. Saya si manusia tegar tengkuk, sudah bertobat... XD

“Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”

Yoh 1:5

6 Desember 2010

Mau Mencoba Meraba Masa Depan? Yuk Kita Naik Gunung!


Jumat itu (3/12) gue berpapasan dengan dosen Komunikasi UI yang paling gue kagumi. Namanya Mbak Chandra Kirana, atau biasa disapa Mbak Kicky. Saat itu, beliau sedang berjalan masuk ke arah gedung Komunikasi. Entah memang jodoh bertemu atau pagimana, dia manggil gue dan gue nyamperin dengan gegap gempita. “Aih, mbak Kicky! Saya mau ngobrol!”

Beberapa menit setelah beliau minta ijin buat toilet sebentar dan menaruh barang-barangnya, kamipun mengobrol panjang lebar. Hmm, jadi begini saudara-saudara. Gue sedang on fire mempersiapkan masa depan gue. Bukan masa depan tentang gue menikah dengan siapa nantinya, tapi masa depan perjalanan akademis gue. Nggak kerasa aja nih, sekarang udah semester tiga. Kira-kira empat semester lagi gue akan lulus S1 dan apa? Apakah gue akan bekerja? Apakah gue akan lanjut S2? Gue akan mempersiapkan hal itu secara matang dan terencana. Mbak Kicky adalah pendengar yang baik. Beliau menjawab semua pertanyaan gue dengan sabar. Ia memberikan solusi, pendapat, tanpa harus repot untuk berusaha ngebrainwash otak gue yang dedel ini. Gue menayakan banyak hal, mulai dari pertimbangan apakah gue seharusnya bekerja dulu setelah lulus nanti atau langsung lanjut S2 dengan beasiswa. Kalaupun gue masih niat kuliah lagi, apa yang perlu gue siapin dari sekarang, karna gue sangat pingin bisa belajar di negeri orang. Lalu, gue melalang buana menanyakan kesibukan Mbak Kicky selain menjadi dosen Komunikasi UI. Dari perbincangan singkat namun berkualitas itu gue mendapatkan banyak hal. Termasuk ketika perjalanan menggapai masa depan yang penuh harapan *jiah bahasa gue* ini diibaratkan atau dianalogikan sama dia seperti naik ke puncak gunung.

Mbak Kicky: suka naik ke gunung nggak non?

Gue : suka mbak! Saya suka tracking!

Mbak Kicky : nah, menggapai masa depan itu ibarat kayak naik gunung. kamu dari jauh bisa lihat gunung itu tingginya seberapa. Sama kayak belajar, kamu pasti punya target, semester ini apa yang harus kamu capai, apa yang musti kamu siapkan untuk naik ke puncak gunung itu.

Gue : *speechless*

Selesainya dari perbincangan itu, gue tambah on fire lagi buat googling beasiswa ke luar negeri dan mempersiapkan target-target gue saat ini dan yang akan datang. Seneng loh, punya dosen yang baik, gaol, dan bisa jadi temen yang asik kayak Mbak Kicky… Uhhhhh suka suka suka suka deehhhhhhh XD

Me? just look siskapunyabanyakcerita.blogspot.com


Just simpicilty lover
chocoholic, food maniac, addicted to music..

almost be the youngest in every group.
kalo mandi lama... hmm apa lagi ya..
ga bisa berenang, baca buku apa aja, saat ini sedang tergila-gila sama negara Inggris

think rationally almost all the time, and... never been in love... can anyone show what it means? buat gue cinta adalah sugesti kita sendiri... artificial.. terjadi karena kita mengikuti emosi. baca : berbahaya

confused? Ah, well...
baru2 ini menyadari bahwa mungkin TIDAK SEMUA ORANG ditakdirnkan untuk punya pasangan hidup... katanya kan perbandingan jumlah cowo:cewe di dunia ini 1:2, belum lagi ada yang pastor, selibat, dll. Jadi intinya jumlah ceweknya berlebih.. kalo emang somebody itu (yang mana salah satunya adalah saya) kadang gak tau kalo dirinya MUNGKIN LEBIH OK kalo tetap sendiri... bisa berkarya mengembangkan diri sebebas-bebasnya tanpa ada yang membatasi.. thank heavenn, gw disadarkan lewat berbagai peristiwa hidup dan orang-orang yang Tuhan kirimkan untuk mengisi hidup gue.. so now, let's give more time for ourselpf, the paradise inside us, for everything happens, happens for a reason...

love to do ots of extraordinary thing: gue suka ngapalin nama panjang orang.
suka banget sama hewan! mereka lucu dan unik dan kita bisa belajar banyak! so amazing how much u can learn from the lower IQed beings, isn't it?

sayang gue cuma punya kucing. kalo boleh maunya melihara beruang madu, panda, koala, hamster, sampe kambing gunung. tapi satu hal:
NO REPTILLS ALLOWED!!
mereka suka makan manusia, dan geli aja ngelihatnya *ehm*

suka semua jenis makanan yang enak, prinsip bodoh tapi enak: kalo belum kenyang sampe rasanya mo muntah, jangan berhenti, gue adalah momok bagi restoran2 all you can eat, qiqiqiqiqi..
and for the rest? just look siskapunyabanyakcerita.blogspot.com

Hidup cuma sekali. Ambil sebanyak-banyaknya. Dan kamu tidak akan pernah menyesal. Cukup.

Love is Colour Blind


“Kalau perbedaan hanya membuat kita sulit mencintai, mengapa ia diciptakan?”

Yeah. Sebuah quote yang bagus. Gue dapet itu di hari Jumat 12 November 2010 malem saat gue ketemu sama anak Psiko UI 2008 yang namanya Ignatia Niken. Thanks, Nik!

Hmm, mulai lagi gue akan nulis apa yang mau gue tulis. Gue nggak RASIS.

Pertama, gue sangat menjunjung tinggi pluralitas/keberagaman/multikultural/keheterogenan dalam sebuah hubungan. Bisa hubungan pertemanan, persahabatan, kasih, maupun perkawinan. Gue mikirin ini terus sampai otak gue berasap. Gue pernah nangis di suatu malam ngrenungin hal ini. Kenapa sih perbedaan itu ada? Kenapa itu jadi hambatan buat gue buat berteman sama orang?

Dengan pengalaman pernah dikecewakan seseorang yang *berbeda* di masa lampau itu, gue ngrasa parno sendiri sama orang lain yang *berbeda* sama gue. Dulunya gue sangat enjoy sama ‘mereka’, tapi akhirnya gue sendiri yang memegang kendali dan menjaga jarak dari orang-orang yang berbeda sama gue. Again, gue takut nantinya ada jawaban lagi seperti ini: “Sori, Sis... kita nggak bisa. Kita beda…”

Argh. Sekali lagi gue bilang, gue nggak RASIS.

And times goes by… tic-toc-tic-toc

Beberapa waktu yang lalu, sebelum gue ketemu Niken, gue ketemu temen gue yang lain.

'The Other One." Sebut saja namanya Si Air Dingin.

Dia nunjukin gue sebuah lagu yang menurut gue bagus banget, dan ngejawab pertanyaan gue yang ada di atas *scroll lagi ke atas yuk*. Ini gue tulisin liriknya ya. Gue berharap, siapapun yang baca notes gue ini, dengerin lagu ini, dan ngresapin lirik lagu ini mulai terbuka matanya kalo perbedaan itu jangan dijadikan penghalang buat kita semua untuk berteman dan menjalin hubungan dengan seseorang yang beda. Kulit boleh beda warna, tapi darah hanya ada satu warna kan?

Enjoy it!




SARAH CONNOR (feat: TQ) -Love is Colour Blind

It don't matter if you're black

White or yellow, if you're brown or red

Let's get down to that

Love is color-blind

[Verse 1:]

I remember when

I was a child and couldn't understand

People having fun

Discriminating all the different ones

Mama just used to say

When you grow up you'll maybe find a way

To make these people see

That everything I do comes back to me

[Bridge:]

You gotta live your live

We're all the same, no one's to blame

They gotta live their lives

Just play the game and let love reign

[Chorus:]

It don't matter if you're black

White or yellow, if your brown or red

Let's get down to that

Love is color-blind

You're my brother, you're my friend

All that matters in the very end

Is to understand

Love is color-blind

[TQ:]

I remember as a young boy

I watched my neighbourhood go up in flames

I saw the whole thang through tears of pain

And a situation's rackin' my brain

I wish I could fly away and never come back again

We need some love you all

We need some real deal help from above you all

I mean the kids watchin'

And I just can't see it stoppin', I don't understand

I mean we all bleed the same blood, man!

[Bridge:]

You gotta live your life

Better than our fathers did

Let's make some love, baby, have some kids

They gotta live their lives

And I don't care what color they are, or you are, or we are

It's all love, baby!

[C-Part:]

You have been my mother

You could have been my brother

What if you were my sister

If you were my father?

You could have been my fella

You could have been my teacher

What if you were my friend?

Would be so nice to meet ya

[Verse 2:]

Take it out to the world

Tell every boy and every little girl

Be proud of yourself

Cause you're as good as anybody else

Put away your prejudice

Open your mind, don't need a stick to this

Try to make this earth

A better place without a racial curse

[TQ:]

Yeah, it's time for some changes

[Chorus]

29 Oktober 2010

Pindahan... Pindahan…

17 Oktober 2010

Minggu pagi yang cerah..

Gue masih terpuruk di kasur kosan dengan air liur gue menetes di mana-mana. Hibernasi ini harus dihentikan!! Badan gue sakit semua karna nggak olahraga dari hari Jumat-Minggu dan hanya melewatkan weekend gue di kosan. Nonton DVD. Main games Mall-O-Polloza dan Farm Frenzy yang nggak tamat-tamat. Nonton klipnya Super Junior dan SHINEE yang bikin gue meler-meler. Badan gue rasanya remuk beneran karna itu semua. Oh Tuhan. Oh Tuhan.

Tetangga di kanan-kiri gue tampaknya tidak sedang berada di kosan. Sejak kemarin kosan begitu sepi. Tak tampak adanya kehidupan. Cuman gue, suara laptop gue, musik yang gue pasang, dan suara kran air gue yang masih hidup. Ah, rasanya pingin pulang ke rumah kakak deh sehabis UTS ini...

That’s the way I will do.

Pulang ke rumah kakak tampaknya adalah ide yang bagus.

Semoga setelah UTS terakhir di hari Senin ini, kuliah hari Selasa diliburkan. Rabu dengan kemungkinan libur dengan 3 mata kuliah sangatlah kecil. Namun bukan berarti tiada harapan. Semoga saja libur jadi gue bisa balik ke rumah kakak gue yang ada di Tangerang atau yang ada di Bekasi. Yeyeyeye...

Inget balik rumah kakak, inget juga gue sama kakak gue yang namanya Yuni yang mau pindahan rumah ke Jogja.

Kenapa Jogja gitu? Gue sih berharapnya dia pindah ke Bali atau Aussie gitu. Yang kerenan dikit kek, hahahah :D

Hmm, sayang banget sih kalo gue pikir-pikir. Rumahnya yang di Bekasi udah nyaman alias PW (posisi wuenak) banget. Bulan Desember tahun ini dia sama keluarganya mau pindah ke Jogja karena alasan pekerjaan. Hwhwhw.. itulah hidup. Tampaknya semua orang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan kesejahteraan hidup yang lebih baik.

Keputusannya untuk pindah itu dikarenakan suaminya mendapat tawaran pekerjaan yang lebih baik daripada sekarang dengan dilengkapi tunjangan dan fasilitas ini itu yang menggiurkan. Jogja memang bukan kota metropolitan seperti Jakarta sih, tapi cukup menyenangkan juga untuk ditempati.

Poin minusnya buat gue dengan kepindahan itu adalah:

1. Gue nggak bisa lagi nebeng pulang ke rumah kalo lagi lebaran atau liburan Natal.

2. Gue nggak bisa ber-weekend lagi di Bekasi.

3. Gue nggak bisa minta kupon creambath sama lulurannya dia di salon langganannya lagi.

4. Gue akan jarang lagi main-main ke Bekasi Trade Center, dan Mal Metropolitan karna partner belanja gue udah pindahan.

ARRR…

Poin plusnya kalo dia pindah:

1. Liburan nanti gue akan melewatkan waktu gue dengan backpack atau travel-pack ke Jogja dan bisa keliling Jogja sepuasnya tanpa harus takut di mana gue akan tinggal, dan makan apa gue ntar. Hihihi :D

2. Gue bisa nyoba naik pesawat untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup gue dengan turun pesawat secara anggun di Bandara Adi Soetjipto dengan banyak keluarga menantikan kedatangan gue hihihi :D *berasa artis*

3. Gue akan lebih sering ketemu ex-classmate gue yang kuliah di Jogja, dan reunian bareng.

4. Jarak pulang ke Ambarawa jadi lebih deket karena Jogja-Ambarawa cuman berselisih waktu 2 jam aja.

Ihiyy..

Semoga kakak gue cepet pindah deh, dan semoga UAS gue bisa dipercepat besok jadi gue bisa liburan lebih cepat juga.

Inget liburan ke Jogja, inget lagi liburan semester gue di Jogja bulan Januari lalu.

Gue bener-bener backpacking dan hidup layaknya ‘gelandangan’ di kota itu.

Nggak gelandangan juga sih. Maksud gue adalah hidup berpindah-pindah dari motel satu ke motel lainnya, dari kosan temen yang satu ke kosan temen gue yang lainnya. Hahaha..

Gue akan nyobain lagi, namun mungkin akan dengan variasi yang berbeda. Gue pingin naik ke Gunung Merapi, pergi ke 0 KM Kaliurang, pergi ke banyak pantai, dan jalan-jalan sampai Solo. Kalo dipikir-pikir tujuan utama gue dan keinginan gue buat melancong sih ke Bangka Belitung, namun kondisi dan keuangan gue sepertinya belum mengijinkan. Toh, gue yakin akan bisa pergi ke sana suatu saat nanti. Pekerjaan gue di masa depan seakan menjanjikan gue untuk itu ;DD

Jadi, semoga liburan musim hujan segera tiba!! (Gue pake kata musim biar kesannya Indonesia punya 4 musim kayak negara-negara Eropa hihihi)

Thanks for reading, anyway!!

15 Juli 2010

Tante Tika


12 Juli 2010

Hai, apa kabar dunia! Liburan akhir semester II ini perlahan namun pasti mulai berjalan, berputar, dan aku tahu ada saatnya untuk mengakhiri semua ini dan akan memulai segalanya dari awal lagi. Hidupku pun seperti itu rasanya. Setelah berlama-lama memikirkan bagaimana menyembuhkan luka di hati, berpetualang, mencoba segala hal yang baru, menggenapi to do list di saat liburan, kini aku sudah mempersiapkan diriku dengan sungguh untuk memulai perjalanan hidupku yang baru. Life must go on, dan aku tahu sekarang, sebuah motivasi kuatku dan passion yang benar-benar kutemukan dalam diriku berkata: If I am not writing today, maybe I will die…

Apa ya, yang mau kutulis sekarang? Mungkin aku akan mereview hal-hal kecil yang tentu saja akan kulihat dari sudut pandangku.

Pertama, aku mempunyai 6 keponakan dari keempat kakak kandungku yang sudah berkeluarga. Keponakan tertuaku bernama Lia dan kini tengah duduk di bangku kelas III SMA. Happy, adiknya kini juga tengah masuk ke Sekolah Menengah Pertama. Waw, hari ini adalah hari pertamanya masuk SMP!

Keponakanku yang lain berjenis kelamin laki-laki. Ada Andreas yang duduk di bangku kelas 6 SD, Lintang, kelas 2 SD, Aulia, kelas 1 SD, dan Rhui TK Besar. Semua keponakanku (khususnya laki-laki) tergolong kategori keponakan yang bandel. Hehehe, susaaaah sekali untuk diajak belajar. Apalagi di waktu liburan ini mereka maunya maiiiiin muluuu. Apalagi si Lia itu malah sudah punya pacar sekarang (Ha! Aku saja tak punya! - -“). Kesempatan untuk menghabiskan liburanku bersama mereka membuatku berpikir banyak hal. Antara lain adalah mengenai pendidikan yang kini tengah mereka kecap. Sebagai seorang tante yang baik hati, tidak sombong, dan sayang kepada keponakan ini, aku punya mimpi besar untuk ikut serta membiayai pendidikan mereka kelak. Sebagaimana keempat kakakku membiayai sekolahku dari SD sampai kuliah kini, demikianlah aku ingin sekali membalas kebaikan mereka dengan cara yang sama. Aku sangat memperhatikan pendidikan dan proses belajar dari keponakan-keponakanku itu. Setiap ada kesempatan aku melihat mereka belajar, di situlah aku hadir. Walau tidak terlalu sering ikut campur, diam-diam aku memperhatikan bagaimana mereka belajar dan mengerjakan tugas sekolah. Sebut saja Lia. Dia adalah sosok siswa yang cerdas di SMAnya. Berbeda denganku, ia lebih memilih IPA sebagai jurusannya. Dia entah mengapa sangat menyukai sains, hitung-menghitung dan rumus. Kurasa alangkah baiknya jika di jenjang universitas nanti ia bisa masuk ke Fakultas Kedokteran atau Teknik. Kurasa itu sangat cocok untuknya daripada harus mengikuti saran dari orangtuanya (yaitu kakakku) yang lebih menginginkan dia masuk ke STAN (Sekolah Tinggi Administrasi Negara). Lain Lia, lain pula dengan Happy. Kurasa kedispinannya masih tergolong rendah sebagai siswa SMP. Kalau dibandingkan denganku saat SMP dulu, jauh sekali perbedaannya. Aku rasa, jika kedisipliannya itu lebih ditingkatkan dan tidak suka menunda-nunda pekerjaan sekolah, bukan tidak mungkin ia akan menjadi siswa yang cerdas pula seperti kakakknya. Mengingat prestasinya lumayan bagus saat hasil UAN SD kemarin dibagikan karena mendapat angka 10 di mata pelajaran Matematika.

Sementara itu, Andreas yang kini naik ke kelas 6 SD, rupanya mengalami banyak kesulitan dalam mengingat sesuatu, dan daya tangkapnya harus diolah lagi. Aku tahu, jika ia sebenarnya mampu, tapi alagkah lebih baik jika nafsu untuk bermain PlayStation dan GTA itu agaknya dikurangi, mengingat ini adalah kelas terakhirnya di Sekolah Dasar. Ia harus lebih insentif berlatih soal dan mengurai bermain games. Lintang, Aulia, dan Rhui masih kulihat potensi besar ada di dalam diri mereka. Mereka pintar! Mungkin jika sedari dini lebih teratur dalam kedispinan dan tidak terlalu banyak main PS seperti Andre, keponakan laik-lakiku ini bisa lebih baik. Aulia sangat tertarik dengan pelajaran olahraga. Ia menyukai sepak bola. Sedangkan Rhui adalah anak kecil yang kritis. Ia mampu mengingat segalanya dengan baik. Sementara itu Lintang sangat menuruni potensi Ayahnya untuk mencoba dan belajar segala sesuatu yang baru.

Aku senang punya banyak keponakan yang lucu-lucu, pintar, dan menggemaskan. Yang lebih membuatku terharu adalah ketika aku dijadikan contoh oleh kakak-kakakku bagi anak-anaknya. Jika ada masalah mengenai pelajaran, kuliah, nilai, atau apapun entah mengapa selalu aku yang menjadi ukuran, dan standar. Ah, senangnya… Kadangkala aku iseng dan usil pada mereka. Kukatakan banyak hal yang sebenarnya kurekayasa dengan dalih agar mereka mau belajar dengan rajin. Walau dijadikan panutan seperti ini, aku masih merasa diriku ini belum apa-apa. Siapa sih Tante Tika? Tante Tika bukan apa-apa keponakanku… Tante Tika musti banyak belajar di semester yang akan datang dan tidak membiarkan IP turun bebas lagi seperti semester yang lalu. Walau senang bisa dijadikan panutan, perasaan kecil yang timbul karena IP turun semester ini cukup mengganggu juga. Tapi selebihnya, hal ini akan Tante jadikan motivasi untuk bisa lebih baik lagi di semester yang akan datang. Doain Tante Tika ya, Lia, Happy, Andre, Lintang, Aulia, Rhui…!!! Ayo semangat belajarnya biar bisa masuk UI heheheh!!