Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan

15 Oktober 2010

We Call This Friendship…












Hmm, buka-buka album kenangan SMA, gue jadi inget sama peer group gue semasa SMA.

Ehem…

Sorry to say, cupu cupu gini gue punya peer group loh, walau tetep aja peer group gue sama-sama cupu

-______- hehehe

Kita nggak punya nama genk. Kita nggak punya rules. Tapi kita punya ikrar setia: Nggak akan pacaran sama gebetan temen sendiri.

Begitulah aku, Akis, Yunita, dan Adien bersama-sama. Persahabatan kami cukup awet dari mulai kelas X SMA sampai sekarang kami masih bersahabat baik.

Akis: dia adalah tipe anak sanguinis. Paling suka guyon dan kadang tingkahnya sangat kekanak-kanakan. Aku syok aja dia akhirnya memutuskan untuk belajar bagaimana menjadi tenaga didik atau guru. Dia kadang nggak pede sama ukuran kakinya (maksud gue betis) yang mirip singkong (ehem, iya juga sih), namun dia bisa sangat kepedean untuk naksir kakak kelas kelas XII di SMA waktu itu yang bernama Mas Afif. Haha, pokoknya lucu banget deh. Sekarang dia kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta di jurusan Pendidikan Ekonomi.

Adien: adalah cewek dengan rekor pacaran terbanyak di antara kami berempat (ketiganya bahkan belum pernah pacaran sama sekali). Menurutku, dia adalah tipe cewe yang sangat setia sama cowonya. Kadang nih ya, kalo pas ganti pelajaran gitu kerjaannya pacaran mulu. Tapi sumpah itu Onyooooo banget deh. Haha. Yang satu ini juga yang paling rakus di antara kami berempat (mungkin bawaan anak kosan yang serba ngirit). Satu-satunya teman yang mau-mau aja kuajak nyasar pas kami berempat berwisata ke Kuta, Bali. Adien is the best guardian angel I ever had!

Yunita: cewe alim-alim ini adalah teman yang paling keibuan yang pernah gue punya. Dia adalah agen yang selalu bertugas meredakan konflik di antara kami berempat. Tubuhnya sih kecil, imut, lucu, tapi otaknya besar sehingga dia mungkin adalah orang paling pintar di antara kami berempat. Dia juga satu-satunya yang masuk jurusan IPA di antara kami berempat. Dulu, gue inget banget pernah nguntit satu cowo yang bernama Andi Satria Kurniawan Pemuda saat kelas XI SMA sama Yunita ini. Andi sebenernya gebetannya Yunita, tapi gue suka banget diajak acara kuntit-menguntit ini. Hoho. Gue sangat berharap suatu saat nanti, Yunita memiliki pendamping hidup yang terbaik, sebaik dia menjadi sahabat gue selama ini…

Last, it’s all about me. Ha ha ha gue adalah anggota genk yang paling cupu, paling egois, paling nggak banget, suka menang sendiri, paling bawel dan suka bikin semuanya panik. Meskipun begitu, gue sayaaaang banget sama temen-temen gue ini. Gue punya banyak ruangan buat mereka di hati gue, dan mungkin itulah satu hal yang boleh gue banggain dari diri gue sebagai sahabat. Buat gue, mereka nggak hanya sekedar temen SMA, tapi udah gue anggap sebagai sodari-sodari gue sendiri.

Wah, kapan ya, gue bisa reunian sama temen-temen gue ini???

-___________________- kangen banget sampe mau nangis rasanya…

Miss you all gals, I hope that all of you always remember about me, about our journey, about our dreams… cheers!! **


24 Juni 2010

Bermain Drama Sekolah




Pertama dan terakhir kalinya aku bermain drama sekolah adalah saat menginjak di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Aku bersekolah di SD Kanisius Kudus dan drama tahunan ini selalu dipentaskan di bulan Desember karena isi dramanya mengenai kelahiran Yesus Kristus. Nah, ketika aku duduk di kelas 5 itu, ditunjuklah aku untuk berperan sebagai Bunda Maria, sementara itu temanku yang bernama Agung menjadi Bapa Yosefnya, Ozzi sebagai Dubbre, dan temanku yang perempuan lainnya menjadi malaikat ‘biasa’ maupun malaikat Gabriel.

Drama itu dipentaskan dengan sangat agung. Aku juga merasa sangat tersanjung sebenarnya bisa memerankan peran sebagai Bunda Maria, tapi masalahnya adalah drama ini disutradarai oleh Wali Kelas 5 yang terkenal galak, killer, dan jutek abis bernama Bu Tin.

Aku tidak tahu mengapa, namun yakinlah bahwa perasaan tidak pernah berbohong. Aku sangat meyakini bahwa Ibu Tin itu sangat tidak menyukaiku, dan dalam drama ini ia sengaja mengetes kesabaranku karena tiap kali kami latihan di hari Jumat, khususnya diriku ini akan selalu menjadi bulan-bulanannya. Jika kelihatan aku salah melakukan satu gerakan saja, protes dan sindirannya menghujamku. Aku sampai takut sekali waktu itu dan entah mengapa aku menganggapnya sebagai beban. Tiap malam Kamis, ketika aku akan beranjak tidur, aku selalu berdoa kepada Tuhan agar melindungiku pada saat latihan keesokan paginya dan jangan biarkan nenek sihir itu menggangguku.

Pada saat H-3 aku selalu berkeringat dingin setiap kali melihat Bu Tin di sekolah.

H-2 aku muntah-muntah hebat di sekolah padahal aku tidak sakit demam atau apa.

Pada saat hari H, aku sangat gugup. Sumpah, badanku gemetar, kadang terasa panas, kadang terasa dingin. Agaknya aku melempar pandangan iri kepada teman-temanku yang berperan sebagai malaikat. Mereka semua cantik. Mereka memakai gaun berwarna putih, mereka memakai make up cantik namun tetap sederhana, memakai tiara di kepala mereka, dan kulihat di punggung mereka semua tampaklah sayap-sayap cupid yang sangat lucu. Aaaahhh… aku kembali memandang diriku sendiri. Aku berperan sebagai Ibu Maria yang miskin, dan sedang mengandung. Pakaianku adalah kain paling kedodoran yang pernah kupakai selama hidup. Agak tidak nyaman sebenarnya, karena ketika kupakai baju selobongan itu, aku merasa seperti misdinar saja. Baju selobongan itu berwarna biru merah dan aku juga memakai kerudung. Ah, betapa compang-campingnya aku. Karena kedodoran di sana-sini mau tidak mau aku harus berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak terpeleset ketika drama dipentaskan nanti. Tapi, tak apalah. Walaupun dengan pakaian compang-camping seperti ini, aku lah pemeran utamanya. Entah mengapa ini adalah kali pertama aku bermain drama dan mungkin akan menjadi pengalaman yang terakhir kalinya. Hahaha :D

Pementasan itu dihadiri juga oleh orang tua murid. Ibuku tentu saja datang walaupun aku tahu beliau duduk dibelakang. Ah, kedatangannya cukup membuatku tenang. Saat masih berada di belakang panggung, kulihat tampang Bu Tin yang seperti biasa tampak sangat menyebalkan. Ia bahkan tidak tersenyum sedikitpun (apakah ia tegang juga, eh?) padahal acaranya sudah mau mulai dan aku tahu nasibku akan berakhir sampai di sini.

Untunglah, pikiranku yang jelek-jelek itu tidak terjadi karena pementasannya berjalan sangat lancar. Aku menserasikan gerakanku bersama partnerku si Bapa Yosef, Agung. Temanku di sisi lain, yang bernama Ozzie, juga tampak sangat tampan memakai dasi kupu-kupunya. Ia duduk di deretan paling depan membawa mic karena ia adalah seorang dubber. Ahhh… aku suka hari itu. Segalanya berjalan dengan sangat lancar!!

Namun dengan demikian, hubunganku dengan guru itu tidak berubah menjadi semakin baik karena tetap saja aku menjadi bulan-bulannya di kelas 6.

Kini setelah aku berusia 19 tahun dan berada jauh dari kota kelahiranku, aku malah merindukan masa-masa itu dan semua teman sepermainanku sewaktu aku SD. Ke mana ya mereka semua? Entah mengapa yang ada dalam pikiranku adalah masa yang paling seru ketika aku sekolah adalah masa SD dan masa awal kuliah. Ahhh… kangennya..


27 Mei 2010

Love Life at Wisma Cornelius

Ada hal-hal di dunia ini yang sulit untuk dijelaskan. Demikian juga aku yang kini rupa-rupanya terhenti sejenak pada satu titik dan menjadikanku untuk tidak bisa seperti dulu, bercerita mengenai apa saja yang ingin kuceritakan pada kalian semua di blogku ini. Jadi, saat ini aku sedang menyukai seseorang. Orang itu adalah sahabatku, dan jika aku terlalu menulis banyak hal tentang dirinya, aku sangat takut dia akan tahu mengenai perasaanku.

Case closed tentang cerita indah si anak FE. Aku sudah melepasnya benar. Aku tahu dia memang bukan untukku, dan tidak seharusnya aku menunggu lebih lama lagi karena aku tahu sebentar lagi pasti akan ada orang yang tepat yang akan hadir ke dalam hidupnya. Yang jelas orang itu bukanlah aku. Come on cheer up, ndut! I know you can move on!

Jadi, saat ini sepertinya aku sudah hampir 3 bulan tinggal di kosanku yang baru. Aku lupa benar bahwa hampir tiga bulan yang lalu aku berhenti untuk menulis di blog karena suatu alasan yang tidak jelas. Jadi, mari kuawali cerita ini tentang kosanku yang baru: Wisma Cornelius Barel, Depok.

Pindah ke Wisma Cornelius adalah ide gila dari Dikara Kirana—aku tidak tahu apakah ia benar-benar gila atau apa—aku gila juga sih mau diajak pindah ke sana hehehe… letaknya di daerah Barel, dekat fakultas Psikologi dan Fakultas Hukum. Jika dihitung mungkin hanya akan memakan waktu 5 menit untuk berjalan ke FISIP. Kami akhirnya pindah di awal bulan Maret dengan bantuan Papanya Dika—thanks berat Oom, dan APV nya—dari asrama menuju ke Wisma Kornelius. Tentu saja saat itu kondisi asrama benar-benar sudah sepi karena Sari Oktavia dan Widya Fithri sudah pindah duluan ke wilayah Kober. Jadi hari itu aku dan Dika sempoyongan pindahan karena barang kami banyak sekali hehehe…

Kami tinggal bersama dalam satu atap, satu kamar, satu kamar mandi, satu tempat boker (hehehhe), namun tentu saja tidak satu ranjang. Setiap kali ada teman kami yang main ke kosan, reaksinya pasti sama: terkejut karena kamar kami luas sekali dan barang kami yang ehmmm ‘sedikit’ masih belum memenuhi kamar nomor sepuluh di lantai satu tersebut. Aku suka kamar ini. Luas, dan tenang. Aku tidak merasa risih walau kosan ini diisi oleh orang campur laki-laki dan perempuan. Unity in diversity, right?? Hehe penghuni kosannya juga bermacam-macam walau memang kebanyakan diisi oleh anak Hukum atau Psiko. Waaa akhirnya inilah tempat tinggal kedua kami setelah asrama. Aku benar-benar keluar dari zona aman sekarang. Hmmm…

Aku sering keluar kamar kalau hendak menelepon Ibu karena sinyalnya parah. XL sama sekali tidak ada sinyal di tempat ini. Demikian juga yang dirasakan tetangga kami Calvin Lourdes He si anak Politik yang suka ngomel-ngomel gak bisa pakai modemnya karena keterbatasan sinyal. Calvin tinggal berseberangan dengan kamar kami, sama-sama di lantai satu namun bedanya ruangan miliknya ada AC sedangkan ruangan kamar kami tidak ;( huwoooo sedih! Calvin adalah tetangga yang baik. Aku jadi ingin menceritakan dirinya lebih banyak…

Jadi, tetangga kami bernama Calvin. Dia adalah mahasiswa jurusan Politik FISIP UI 2009. Dia adalah teman MPK Agama Katolik yang sama denganku. Aku sudah tahu tentang dirinya saat semester lalu kami berada di satu kelas Pengantar Ilmu Sosiologi yang sama. Sekarang aku dan dia adalah teman satu MPK Agama Katolik dan teman satu kosan yang sama hahaha :D

Calvin benar-benar memegang kuat sekali kebudayaan Cina-nya. Di mejanya penuh dengan tumpukan buku kebudayaan Cina dan berbagai macam diktat aneh yang tak bisa kubaca hurufnya. Setiap hari Sabtu/Minggu ia menghabiskan sebagian besar waktunya mengikui LBI Bahasa Cina di UI Salemba, ckckckkc…

Unik. Itu adalah satu kata yang bisa menggambarkan orang macam apa Calvin itu. Dia hanya membawa 6 setel baju ke kosan. Hampir semuanya adalah baju batik. Ia suka memakai sepatu formal kadang juga sepatu olahraga namun sama sekali tidak punya sandal. Ia suka membawa tas besar seperti tas naik gunung namun di dalamnya hanya ada Netbook kecil berwarna putih beserta modem yang tersetting dengan bahasa Cina yang sama sekali tidak dapat kumengerti apa artinya dan bagaimana cara membacanya. Calvin bermata sipit—seperti orang Cina kebanyakan—namun sangat suka pelajaran sejarah, di antaranya adalah sejarah mengenai Arab, semua hal yang berhubungan dengan Kitab Suci, berhubungan dengan Tradisi Yahudi, serta perkembangan negara-negara di dunia. Cara berbicaranya Calvin sangat khas. Ia sering mengatakan “Indah sekali”; “Pintar sekali”; “Hebat sekali” dan sering juga berdeham. Aneh. Hehehe…

Hampir tiap hari ia selalu berangkat kuliah bersama-sama denganku dan Dikara Kirana. Namun tidak pernah sekalipun pulang bersama pada akhirnya. Ia suka sekali menghabiskan waktu di kamarnya yang AC, suka ribut-ribut sendiri kalau di kamar mandinya ada cacing tanah—entah kenapa dengan badannya yang tinggi tegap seperti itu bisa juga takut cacing tanah—dan suka marah-marah kalau ada kutu yang beterbangan di kamarnya. Aku dan Dikara Kirana suka sekali menghabiskan waktu kami untuk nyampah di kamarnya Calvin. Niatnya sih ngadem, tapi ujung-ujungnya ngobrol, debat, bikin forum, nyanyi bareng, atau belajar SSI. Menurutku, Calvin adalah seorang mahasiswa yang cerdas. Daya analisisnya tajam, dan aku sangat mendukung my ‘little’ brotherku ini menjadi seorang dosen suatu saat nanti.

Jika pernah mengenal Calvin, pasti tidak heran jika masuk ke kamarnya akan ada FATWA-FATWA miliknya tentang bagaimana harusnya bertamu di kamarnya. Pertama, tidak boleh membuang sampah di kamar. Kedua, kalau online di meja saja dan di bagian kanan. Ketiga, kalau numpahin sesuatu harus dilap/dipel. Keempat, harus hati-hati memegang bukunya jangan sampai hancur, tertekuk, robek, dll. Entah ada berapa FATWA larangannya yang jelas semua itu sangat memuakkan hahahaha :D

Minimalis. Itulah Calvin. Selain hanya membawa 6 setel baju ke kosan, di mejanya seingatku cuman ada celengan warna kuning—kado ulang tahunnya dari Dika—buku-buku kuliah, buku-buku Cina, telepon rumah (yang jarang berdering), HP, dan tidak ada barang-barang lain yang unik. Kamarnya pun lebih bersih, lebih wangi, lebih higienis daripada kamarku. Calvin tidak pernah mengijinkan siapapun untuk memporak-porandakan kamarnya. Menurutku dia ini seperti Nenek, karena dia cerewet sekali. Satu hal yang perlu diingat, setelah tidak ada kegiatan apa-apa lagi, mau itu jam 6 sore pun Calvin pasti sudah memakai setelan piama batiknya.

Kamar mandi yang katanya ada cacing itupun parahnya lebih bersih daripada kamar mandiku, lebih luas sampai ibarat kata kalo ada lemari bajupun masih bisa muat dimasukkin ke dalam sana. Seringkali aku melihat orangtua dan adiknya menjenguk si “Nenek” cerewet ini di akhir Jumat, membawanya pulang ke Kalideres dan kembali pada Minggu sore. Namun sekarang sepertinya itu tidak akan terjadi lagi karena baru kemarin tanggal 23 Mei 2010 Calvin pindah dari kosan. Alasannya klise: libur 3 bulan.

Jadi, sekarang ini aku benar-benar merasa kehilangan seorang adik, nenek, dosen, dan penterjemah. Aku masih ingat bagaimana ia pernah membantai bahasa Inggrisku habis-habisan karena cara membacaku yang aneh. Dia selalu bilang kalau aku ini English-Javanese, tapi sering kali bilang kalau nanti aku dapat kesempatan untuk exchange student dia menyarankanku untuk exchange ke Timor Leste. Dasar nenek-nenek penggemar warna kulit! Dasar si sipit!! Hahaha :D

Okelah, jadi kamarnya sudah benar-benar sepi sekarang. Sebentar lagi rupanya juga akan libur, aku akan pulang dan akan kembali ke kosan ini nanti. Semoga kamar itu nanti diisi oleh penghuni baru yang menyenangkan, sopan, dan bisa seasyik Calvin. Waaaa… Calvin I will miss you little brother!!

10 Februari 2010

Jangka vs DIkara Kirana

Lagi dan lagi,
gue pingin cerita tentang sohib gue yang ajaib bernama Dikara Kirana.
Hahaha, hidup bersama dalam satu lorong, ke kampus bersama setiap hari, teman sepermainan, dan sama-sama kumpulan orang yang tertolak bikin gue pingin cerita hal-hal yang lucu dari dia.

Gini, suatu malam Dika tidur bareng sama gue. Dia bilangnya sih lagi takut gitu (Dika ini orangnya sumpah ya penakut abis), oke jadi dengan agak berat hati gue ngijinin dia buat tidur di kamar gue (otomatis dengan beberapa rules yang harus dia taati).
Enaknya kalo tidur sama Dika, gue bisa sekalian curhat, dan entah mengapa malam itu kami malah gak tidur-tidur karena keasyikan cerita. Malam itu Dika bercerita tentang masa kecilnya yang bisa dibilang 'nakal'.

Suatu ketika di saat ia masih duduk di bangku SD, di suatu hari yang cerah di mana sangat jarang terjadi kedua orangtuanya menjemputnya ke sekolah. Jarang sekali kedua orangtuanya bisa bersama-sama menjemput putri pertama mereka itu. Namun, masalahnya adalah ketika pada akhirnya kedua orangtuanya bisa datang menjemput Dika, di saat itulah mereka harus melihat putri pertama mereka itu sedang dihukum oleh gurunya.

Gue : "Lo dihukum? Emang lo habis ngapain dik?"
Dika :" Nusuk temen gue pakai jangka."
Gue :" HAH??"
Dika :~~~
Gue :"Nusuk apanya?"
Dika : "Gusinya."
Gue : (ngakak)


Oke, dan sepanjang malam itu perut gue sakit tiba-tiba karena tertawa terlalu keras dan gak berhenti-henti. Mungkin gue kena kejang perut atau apa. Yang jelas sakit betenya Dika ngelihat gue ketawa sambil nangis-nangis (lhoh?) dia beranjak tidur duluan. HAHAHA
Waktu gue masih setengah sadar, gue sontak kaget dengan apa yang baru saja gue denger. MAka dari itu gue ngericek lagi.

Gue :" Dik, jangka itu yang ada jarumnya ya?"
Dika :"Iye."

OMG, sedari tadi gue mikinya jangka adalah busur. Jadi, setelah bener-bener nyadar kalo jangka adalah jangka, alat untuk membuat lingkaran yang ada pensil dan jarumnya yang runcing, malem itu gue ketawa lagi. HAHAHHA

12 Desember 2009

... dan OASE itu Bernama WINCHAN...

12 Desember 2009
Beberapa waktu yang lalu aku pernah menulis tentang seorang sahabat yang inspiratif bernama M. Ardilas Dony Amarila, sekarng aku juga akan menuliskan tentang seorang teman yang hari-hari terakhir ini mencerahkan hari-hariku yang kelabu, nama sahabatku itu adalah Edwin Chandra yang akrab dipanggil Winchan...

Tidak ada seorangpun anak Komunikasi angkatan 2009, 2008, 2007, dan bahkan angkatan 2006 yang tidak mengenal sosok sahabatku ini. Dia cukup tenar di kalangan anak Komunikasi FISIP UI karena dia adalah ketua angkatan Komunikasi 2009 setelah menggantikan posisi Ryan Hasri sebagai ketua angkatan. Aku tidak menulis mengapa Winchan bisa sampai menggantikan Ryan Hasri di sini, tapi yang jelas sosok Winchan begitu menggema di hati anak-anak Komunikasi UI.

Ia berasal dari Medan, SMA Metodis 2, begitu katanya saat kami berkenalan. Keturunan cina-medan yang sangat supel dan mudah bergaul. Dulu, saat aku melihatnya pertama kali aku masih agak 'nerd' dengan gayanya. Ke mana-mana ia membawa buku catatan dan apapun yang ia dapat sesegera mungkin ia tulis. Winchan adalah salah seorang mahasiswa yang pintar. Karena wajahnya yang lugu, lucu, menggemaskan, tak heran jika Winchan selalu dijadikan obyek foto teman-teman. Begitu juga aku...
Tahu nggak sih, seorang temanku bernama Astrid-yang biasa dipanggil Acid- sangat tergila-gila pada Winchan. Ia punya mimpi tersendiri bahwa Winchan adalah pengantin prianya-begitu yang kudengar. Tapi menurutku itu tidak salah, karena semua anak Komunikasi kiranya sangat mencintai ketua angkatan kami yang care pada anak buahnya, sopan, santun, dan suka membuat kami tertawa karena gaya dan tingkahnya yang lucu itu.
Sebagai anak Komunikasi, aku sangat menyukai ketua angkatanku itu. Karena dengan keberadaan dirinya lah kami bisa kompak. Ya, kami angkatan 2009 adalah angkatan yang kompak!!! Namun, bukan itu saja yang membuatku menyukai ketua angkatanku itu-(sebenarnya semua anak cewek komunikasi sangat MENCINTAI semua anak cowok Komunikasi, jadi memang sudah seperti keluarga sendiri sih). Yang membuatku kagum pada Winchan adalah mengenai kepribadiannya. Ia adalah sosok yang tenang, tidak mudah panik-tidak seperti aku-, peduli pada sahabatnya, jujur, dan suka membantu. Nilai plusnya adalah, rupa-rupanya dia lah yang telah mengembalikan hari-hariku yang dulunya kelabu, menjadi berwarna terlebih setiap kali kami semua kumpul angkatan.
Jujur, beberapa minggu yang lalu, kuakui itu adalah minggu terberat yang kualami. banyak tugas, dan banyak masalah yang rupanya tak bosan menghampiri. Terlebih ketika aku harus mengalami apa yang disebut orang awan patah hati karena aku menyukai seorang laki-laki yang tidak pernah peduli padaku. Itu cukup menyakitkan. Jadi, beberapa waktu yang lalu adalah waktu terberat bagiku. Untuk ke kampus saja aku harus terlebih dulu mengembalikan mood belajarku, dan seseorang bernamaWinchan telah benar-benar membuka hari-hariku dengan senyuman...

Setiap kali aku bertemu dengan Winchan, tak pernah kuarasakan kebosanan. Di dalam matanya yang teduh, senyum simpulnya yang tulus, aku mendapatkan sebuah keteduhan yang selama ini aku cari. Tak pernah aku punya teman yang ketika aku melihatnya aku bisa merasakan kenyamanan, ketenangan, bahkan keteduhan. Dalam sesaat aku bisa melupakan masalah-masalahku itu, karena di dalam mata Winchan kurasakan ada sebuah cahaya pengharapan bagi orang-orang yang putus asa seperti aku.
Aku heran padanya, karena ia tak pernah mengeluh sedikitpun di depan teman-teman satu angkatan, alih-alih dia sendiri yang terlihat sangat bersemangat menjalani hidup yang berat. Ia suka sekali berkata "SEMANGAT!!" kepada semua anak Komunikasi yang sedang frustasi karena banyak tugas, dan kami kadang menjadi termangu-mangu sendiri mempertanyakan apa sih yang ia makan sehingga powernya tetap ON, di saat semua orang sedang low bat. Winchan juga adalah ketua angkatan UKM Paragita angakatan 2009. Jadi, tak bisa kubayangkan betapa berat bebannya yang harus ia pikul sebagai motor penggerak di antara teman-temannya itu. Namun, ia berhasil. Ia tak pernah mengeluh, itu yang pasti.

Intinya, aku senang dan bersyukur punya sahabat baik, ketua angkatan yang jujur, bijak, dan penghibur ulung sejati bernama Winchan. Aku mengumpamakan sebagai seorang kafilah yang berjalan di tengah gurun Sahara dan kutemukan oase kecil di mana aku bisa beristirahat sejenak, dan oase itu adalah Winchan...

Thanks untuk Winchan untuk sebuah inspirasi kecil yang boleh kudapat, bahwa hari-hari yang boleh Tuhan beri harus digunakan dengan baik, untuk tujuan yang baik, dan mempersembahkannya bagi orang-orang terbaik.
SEMANGAATTT!!!

11 Desember 2009

Aku Punya Satu Kabar Baik Untukmu, Tak Lama Lagi Aku Akan Pulang...

Hari ini, tengah malam, 6 Desember 2009 aku kembali ke kamar asrama pukul 11.30 setelah malam itu aku belajar Pengantar Ilmu Politik di kamarnya Sari Oktavia bersama Dikara Kirana. Malam itu terlewatkan begitu saja karena kami bertiga menonton video tahunan saat SMA.

Itu membuatku semakin kangen rumah dan teman-teman...

Tahu nggak sih, sebenarnya aku sangat menyesali buku kenangan tahunan itu. Ada rasa tidak puas di dalamnya. Aku ingat pada hari itu aku sakit demam. Maka, jadilah yang seharusnya aku tampil di depan, terpaksa harus digantikan orang lain. Tapi ya sudahlah, aku tidak mau mengungkit-ungkit tentang hal ini...

Lalu, malam ini aku tetap menjadi kambing congeknya Dika, karena entah mengapa dia tak henti-hentinya mengingatkan aku dengan seorang nama. (Tidak perlu diekspose hehe), apanya yang salah sih kalau ngaku selalu mikirin dia setiap hari? Haha, karna dia tidak pernah memikirkanku. Itu yang salah.

Di sisi lain Dika juga agak setengah heran ketika kuperlihatkan satu demi satu teman-temanku yang lucu-lucu. Dari yang populer sampai yang alay banget karena bahasa Jawanya yang medok. Di saat itu aku menyadari satu hal.

"Waw, keren banget sih hidup gue ini. Gue adalah satu-satunya siswa SMA N 1 Kudus yang lolos UI!!"

Itu menjelaskan banyak hal, dan aku ingat betul pernah menulisnya di blogku yang sebelumnya bagaimana aku bisa lolos UI. Itu adalah hal yang di luar dugaan dan itu adalah hal yang paling menakjubkan yang pernah kudapatkan. Jadi, Dika berpesan padaku agar aku tidak sombong, dan untuk tetap berjuang menjadi yang terbaik.

Ya, aku akan ingat itu. Bagaimanapun aku sekarang, aku tidak berubah. Aku masih Siska yang dulu, mungkin yang berbeda hanya teman-teman di sekelilingku dan buku-buku yang aku baca.

Jadi, jika ada seorang teman yang membaca blogku sekarang aku hanya ingin bertanya : "Hei, Dude... Apa kabar? Apakah kamu merindukan aku? Aku punya satu kabar baik untukmu... Tak lama lagi aku akan pulang."

6 Desember 2009

I HATE FRIDAY, but I LOVE TODAY...

Hari jumat adalah hari terakhirku kuliah. Sehari-harinya setiap kali hari jumat pasti moodku selalu mengembang dan aku tak sabar untuk weekend yang panjang. Namun, hari ini berbeda. Aku telat bangun karena kamis malamnya masih membuat esai tugas pengantar ilmu komunikasi dan pagi-paginya harus cepat-cepat ke Kober untuk mencetaknya.
Satu tugas selesai.
Setiap hari Jumat, ada acara yang namanya Jumat'an. Itu adalah acara KUKSA (Keluarga Umat Katolik Sivitas Akademika), intinya setiap hari Juma't kami warga katolik FISIP berkumpul untuk berdoa. Sialnya, setelah dua kali bolak-balik menengok ruang KUKSA, tak ada satupun orang di sana. Di mana sih mereka?
Sementara semua anak-anak Komunikasi 2009 yang lain berbondong-bondong pergi makan ke kantin fakultas lain, aku harus sendirian di sini karena setelah keluar kelas aku ngadem di MBRC.
Aku kesepiaaaaannnn...
Muter-muter FISIP sendirian tanpa ada satupun teman yang kukenal membuatku merasa asing. Kenapa sih harus ada situasi kayak gini???

Untunglah, di kejauhan sana aku melihat WINCHAN. Nama lengkapnya Edwin Chandra Chang. Dia adalah ketua Angkatan Komunikasi 2009 yang berasal dari Medan. Seketika aku melihat Winchan dan dia menyapaku, waaa itu adalah hal paling indah yang kujumpai hari ini...
He's my savior today...
Pingin nangis rasanya, saat nggak ketemu dengan siapapun, tapi aku malah melihat WINCHAN. Winchan adalah seorang pribadi yang baik, ramah, dan semua anak Komunikasi UI 2009 sangat sayang padanya. Aku kagum karena dia adalah tipikal orang yang tenang, bersemangat. dan tidak pernah kulihat raut h suram di wajahnya itu. Matanya yang teduh bisa membuat siapa saja tersihir melihatnya karena di dalam matanya itu aku melihat kesejukan yang bisa membawa ketentraman hati...
Jadilah Winchan menemaniku hari itu. Baik sekali dia mau menemaniku sampai pada akhirnya kulihat koordinator fakultas KUKSA FISIP-Yohanes Raymond Adikarta-memberitahuku kalau acara Jumatan akan segera dimulai.

Jadi, sebenarnya di dalam satu hari itu Tuhan telah mengatur apa saja yang telah terjadi. Hari ini pun aku diteguhkan karena di balik smeua kesusahanku itu, Tuhan selalu menemaniku dengan cara-cara yang tak kusadari sebelumnya. Aku berterimaksih karena ia telah mengirimkan penyelamat dan penghibur untukku bernama Winchan yang membebaskanku dari kesepian ini. I Hate Friday, but I love Today... I love you Winchaaaaannnnnn!!! Hahahaha =D

3 Desember 2009

CARAMEL FRAPPUCINO BLENDED: Manis dan Pahitnya Hidup


Hari ini 3/12/09, aku minum satu porsi kopi starbuck yang dibelikan seorang teman. Hari ini rencananya kami akan mengobrol banyak hal, dan aku sudah melepas kuliah MPK Olahraga Voliku untuk menemaninya. Oke, aku memang ingin bolos dan ini tidak ada kaitannya dengan siapapun.
Oleh karena itu, aku dan Dikara Kirana-yang saat itu juga ikut-ikutan nyampah di Starbuck Margo City- memesan porsi kami masing-masing. Di sore hari yang jingga ini, aku memesan CARAMEL FRAPPUCINO BLENDED.

Setiap kali aku ke Starbuck, yang kuinginkan adalah bagaimana caranya agar aku bisa bekerja parttime di sana, sehingga aku bisa menikmati kopi yang mahal itu secara gratis. Margo City pun telah mendekorasi mallnya dengan berbagai pernak-pernikk bertemakan Natal, demikian juga Starbuck Coffee...
Karena Starbuck yang mempesona itu, aku juga teringat lagi dengan Karya Tulisku yang berjudul Mengupas Lebih Dalam Buah Buni Kopi. Entah mengapa sejak saat itu aku menjadi tergila-gila oleh kopi dan aku bersyukur orang yang mengajakku ke Starbuck ini mentraktirku Caramel Frappucino Blended dari kartu kredit ayahnya. Jika ia membaca tulisanku sekarang, aku ingin dia tahu bahwa tindakannya ini sangat manis, karena membolehkanku mengkonsumsi kopi setelah sekianlama ibuku berteriak-teriak bahwa aku tidak boleh menyentuh kopi lagi. Tapi, menggesek kartu kredit juga tidak dikatakan itu benar. Oke dia baik, tapi aku merasa tidak enak. Suatu saat nanti, aku akan membalas kebaikannya. dia tidak perlu terlalu baik padaku yang shit ini.

Caramel Frappucino Blended by Starbuck ini terdiri dari whipped cream, caramel syrup, milk, dan coffee yang disajikan dingin dengan sedotan.
Menurutku rasanya terlalu manis. Namun aku suka.

Yang mau aku tulis dari blog ini sebenarnya adalah bagaimana mengkonsumsi kopi adalah saat yang spesial bagiku. Menurutku ini sangat penting. Caramel Frappucino Blended ini memang manis karena caramel yang terbuat dari gula cair, namun setelah lama-lama berada di mulut rasanya menjadi pahit. Rasa pahit itu tiba-tiba muncul setelah lama aku tidak menetralisirnya dengan air mineral.

Aku tahu, bahwa semanis-manisnya gula, kopi jauh lebih pahit.
Semanis-manisnya kehidupanku sekarang, aku selalu menemukan hal-hal menyedihkan yang mengusik ketentraman hidupku. Ya, hidupku memang seperti Caramel Frappucino Blended itu sekarang. Manis tapi pahit...

Namun, di balik semua kepahitan itu aku yakin ada sesuatu penolong yang lain yang bisa membuat segalanya menjadi netral dan bahkan bisa menghapus rasa pahit ini. Jujur, saat ini suasana hatiku memang terasa pahit. Sangat pahit...

Percakapan 3 Wanita Malam Itu

Pada suatu malam yang penuh nyamuk di kamar E2 Lantai 2 No.mor 30, aku dan Dikara Kirana 'menyampah' di kamar milik Sari Oktavia. Hari itu kami akan membuat tugas esai ilmu komunikasi bersama-sama. Sudah lama kami tidak melewatkan waktu bersama-sama untuk sharing pengalaman. Maka, malam itu terlewatkan dengan kisah klasik ketika kami semua dinyatakan lolos UI dari berbagai jalur. Aku lewat PPKB, Sari Oktavia dari jalur UMB, sedangkan Dikara Kirana dari jalur SNMPTN. Entah mengapa yang kurasakan adalah betapa kualitas tema obrolan kami saat itu sangat berbobot. Kami tidak menceritakan tentang gebetan kami masing-masing, kami tidak bergosip, malahan aku merasa dengan obrolan kami malam itu aku punya semangat baru untuk kuliah di esok hari. Aku tidak mau menceritakan proses bagaimana aku bisa sampai di sini karena akan membuang banyak waktu. Namun, yang perlu kugarisbawahi adalah betapa aku sangat bersyukur kepada Tuhan karena bisa mengenal mereka, belajar dari pengalaman mereka, dan itu sedikit banyak menguatkanku untuk lebih bersemangat dalam mendapatkan nilai UAS yang maksimal di semester satu.
Aku ingin mereka membaca tulisanku ini, karena dengan begitu mereka akan tahu betapa aku mengagumi kerja keras mereka, etos kerja mereka, dan aku bangga menjadi salah satu di antara 5000 mahasiswa baru Universitas Indonesia angkatan 2009.

Karena ini benar-benar sudah larut, aku hanya ingin mengatakan bahwa kurasa aku tak perlu keliling dunia untuk mengenal mereka,...

Aku dan Dikara Kirana


Pada suatu hari aku membuka sebuah blog milik seorang teman. Aku terkesan dengan isi blognya, karena apa yang ia tulis bentuknya seperti esai dan kurasa isinya cukup berbobot. Kemudian aku teringat dengan blogku ini yang tak kurang dan tak lebih isinya hanya tentang sampah. Haha,

Aku dan Dikara Kirana adalah satu tipe orang yang sama dalam berbagai aspek. Contohnya kami sama-sama tidak menyukai hal yang norak, dan yang kedua parahnya kehidupan cinta kami rupanya cukup mirip dan sulit. Kami sama-sama menjadi orang yang bertepuk sebelah tangan.

Kadang ketika ia bercerita mengenai masalahnya secara tidak langsung itu sudah menjawab permasalahanku sendiri yang kompleks. Begitu juga aku yang kadang bercerita tentang bagaimana rumitnya mengucapkan perasaanku yang sebenarnya kepada seseorang. Lucunya, kadang di antara kami berdua tak bisa saling menyelesaikan masalah juga. Jadi di antara kami tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Semuanya berjalan dengan kompleks dan hidup kami berdua setiap hari adalah ibarat rollercoaster yang naik turun ke bawah yang membawa memporakporandakan perasaan kami masing-masing.

Sekarang, aku sudah mulai jujur pada orang itu, dan Dikara juga sudah memutuskan untuk jujur. Sekarang masalah kami berdua telah selesai dan sama sekali tidak menuai hasil. Tapi tak mengapa buatku, karena apa yang kulakukan sekarang ini adalah benar dan aku tidak menyesalinya. Sekarang adalah bagaimana menata hidupku sendiri, mulai memperbaiki hubunganku dengan orang lain, dan mulai rileks akan segala sesuatu.
Berat memang, ketika sudah menyukai orang lain dan ternyata ia tidak membalas cintamu, dan sekarang ini kami berdua mau tidak mau harus mau untuk melupakannya. Ahh, shit banget sih hidup kami berdua. Hahaha,
Well, kuharap nantinya aku dan Dikara akan menemukan orang-orang yang benar-benar menyukai kami apa adanya.

Someday, akan kutulis di lembaran blogku ini dan akan kutulis namanya dengan sangat jelas jika saat-saat itu telah tiba. Semangat!!


Notes Dikara Kirana


buat siska dari seseorang yang bisa dibilang care sama dya.

hmmm...
guw nulis ini malem-malem,, sambil sayup-sayup denger suara mi tek-tek dikejauhan.
laper sumpah guw sis...
n guw males ke kamar guw sendiri buat ngambil nasi n guw ga yakin rendang guw masih bagus,,,

okay, cut the shit out..

intinya guw cuma mau nulis simpati guw ma lw.
ya mungkin karena kurang lebih kita mengalami nasib yang sama kali ya...
hmmm...

coba kapan-kapan kita browsing lagu lain lagi yang merepresentasikan hidup kita yang so shit ini..
ehehehe...

tapi guw juga ga cuman bersimpati ma lo,, tapi juga bermentari , ber-xl, dan ber-esia (lhooo???)
maph, jayus.

intinya guw cuma mo bilang klo guw banyak belajar dari lw.
soalnya kalo liat lo tu kayak ngaca ma diri guw sendiri.
jadi kalo denger lw curhat tu kayak dengerin masalah guw sendiri..
dan herannya emang guw selalu bisa ngasih solusi ke elo padahal hidup guw sendiri bener-bener messed up.
hehe.
belom lagi waktu nemenin curhat sama si mas berambut kriwil yang minta makan mulu itu (ya u know lah siapa yang guw maksud.. hehe.)

so, setelah semua yang terjadi, termasuk mail yang kemarin itu (yang menurut guw merupakan puncak dari semua permasalahan lo yang sebenernya cuma ada satu dan yang lain cuma lo gede-gedein aja..), guw rasa lo udah bisa move on kan sekarang???
udah ga da lagi kan kata-kata negatif macem yang 'guw ga bisa....', 'guw ga sanggup....' and ol the other bullshits???

yah,, guw cuma bisa bisa bilang,, rentangkanlah sayap mu nak.
terbanglah, rasakan semilir angin menyapu rambutmu, biarkan ia kusut masai tergerai, bermain dengan angin,
karena saat itulah kau akan merasakan bahwa kau benar-benar hidup..







guw bisa ngomong gini karena udah lebih dewasa satu hari nih...
ehehehe....


with love and many hugs.
LooneyLoones




ps: upload di blog lo ya..
ga boleh di edit!
termasuk yang bagian ps-nya ini..
kalo ga,, ckckck..
dosa besar nak...
ehehe..

22 November 2009

My Inspire Pals: M. Ardilas Dony Amarila

Beberapa minggu terakhir ini, gue melakukan 'ritual' yang cukup sama. Di akhir minggu, gue menelepon orang yang sama. Tak lain tak bukan, adalah M. Ardilas Dony Amarila.

Dia itu ketua kelas gue jaman SMA. Sekarang dia kuliah di AA YKPN Yogyakarta jurusan Manajemen. Nggak ada yang spesial dari Ardilas saat SMA. Yang jelas orangnya TE (tanpa ekspresi), banyak duit (karna bokapnya kaya), dan suka banget main basket. Jaman SMA dulu, anak-anak sering ditraktir sama nih orang, karena dia hobinya juga ke koperasi siswa buat jajan. Sebagai seorang ketua kelas, Ardilas termasuk tipe pemimpin yang plin-plan, payah banget deh (hahaha *piss), dan lebih banyak becandanya dari pada serius. Tapi orangnya asik buat ngobrol.

Well, gue nggak berharap banyak dengan nelpon nih orang bakal dapet wangsit atau apa, yang jelas saat itu gue nggak lagi nggak ada kerjaan, daripada bengong gue nelpon dia, dan nyambung!

Ternyata ardilas yang dulu gue kenal, sama Ardilas yang sekarang itu beda banget. beberapa menit saat gue ngobrol, dalam hati gue bertanya-tanya apa bener ini ketua kelas gue si anak taekwondo itu? Atau gue salah sambung? Karna yang gue dengerin dari mulut ardilas ini sesuatu yang beda banget, yang nggak gue sangka bisa keluar dari mulut seorang pemboros bernama Ardilas.

Ardilas bercerita bahwa saat itu ia bekerja part time di sebuah restoran seafood di Yogyakarta dari sore menjelang pagi hari sebagai seorang pelayan. Dalam seminggu, ia bercerita, bisa dibayar 100 ribu. Jika dihitung perbulan, kira-kira pendapatannya berkisar 400 ribu, namun belum dipotong ini-itu. lalu gue jadi bertanya-tanya dengan apa dia bekerja, karna setahu gue, dia nggak bisa naik motor, dan gue kaget setelah dia bilang kalo dia kemana-mana naik TOYOTA YARIS.
Buset!!
"Lo jadi pelayan di restoran kecil, tapi kemana-mana lo naik YARIS? Buat apa lo kerja kalo gitu..." gue cuman bisa termangun. Lucu.

Dan dari situ gue tahu kalo ardilas sudah banyak berubah. Pertama, sejak awal kuliah dia nggak satu sen pun minta uang sama bokapnya-yang kaya itu- buat biaya makan. Ardilas cuma minta orangtuanya buat support dia biaya kuliah. Dia pingin mandiri, dan untuk itulah dia bekerja. Soal mobil, kata dia itu cuman jadi sarana karna dia masih trauma naik motor.

Ardilas? Mandiri? bisa cari duit sendiri? ini adalah pertanyaan besar gue di hari itu.

Minggu depannya, gue telpon cowok mata sipit ini lagi. gue jadi penasaran sama kehidupannya di jogja, dan benar,.. dia punya cerita yang berbeda.

Sekarang ardilas sudah pindah kerja. sekarang dia kerja menjadi pelayan di Mini Market Circle-K di daerah condong catur, namun dengan gaji yang berbeda; 800 ribu perbulan.
Waaa... gue mupeng berat!
Tapi ardilas bilang, dengan kerja kayak gini dia harus ngurangin tidur, karna siang dia masih kuliah, tapi malem sampai paginya dia musti kerja parttime lagi. dia bilang kalo mobil bokapnya juga udah dibalikin-itu bencana buat gue yang pingin nebeng bulan Januari nanti- soal kuliah, dia bilang fine-fine aja, dan malahan ngaku lebih rajin saat kuliah ini daripada jaman SMA dulu. dia bisa kerjain tugas-tugas kuliahnya waktu subuh.

Yang bikin gue kaget lagi adalah ketika dia bercerita tentang kesehariannya, bahwa ia tinggal di kost yang murah, sempit, dan orang-orang lebih mengenalnya sebagai anak daerah yang bokapnya hanya seorang buruh bangunan -what the hell is that!? bokapnya seorang bussinesman!!!- dan saat ini Ardilas mengaku sedang mengejar seorang gadis.

Waa.. gue salut banget sama dia, karna dia tidak menunjukkan identitas aslinya dia kepada cewek yang disukainya itu. "Biarlah dia suka sama gue yang apa adanya ini. baru kalo bener-bener cocok, gue bakal jujur sama dia, sis..."
Ceweknya itu bernama Evi. Oh Evi, betapa beruntungnya dirimu.

Oh ya, Ardilas juga punya keinginan suatu saat nanti kalo dia punya modal, dia bakal bikin warung nasi goreng. katanya dalam waktu dekat akan dibuka, ahahaha keren...

Saking salutnya gue sama temen gue yang bernama Ardilas ini, satu notes ini gue tulis buat dia yang udah kasih gue inspirasi besar buat terus usaha. Two thumbs up, buat kemandirian dan kesabarannya Ardilas! Beda banget, nggak kayak lo yang dulu... Sukses ya, las!!!

19 November 2009

Quotenya Sari...

Quotenya Sari Oktavia:

Semakin masalah menantangku
semakin kesulitan menemaiku
semakin tangis mengampiriku
semakin sakit m,enerjangku
semakin kerikil menghujamku

Aku akan tersenyum dan berkata, "AKU SEMAKIN KUAT".

Maling Tempat Nasi!!!!

Lantai E2 Lantai 2 ricuh!
Masih terlalu pagi untuk pulang kuliah pada pukul 2 siang. Saat aku naik ke lantai 2, ada kericuhan yang tidak biasa. Kak Putri-Sastra Cina FIB 2008-berkoar-koar ke semua penghuni bahwa ia telah kehilangan tempat penanak nasinya. Haduh...
tak hanya itu, semua orang yang awalnya cuman diem-dieman aja mendadak jadi bergosip di ujung tangga. Ada yang bercerita baru saja kehilangan sabun LUX nya yang masih penuhlah, ember lah, bahkan ada juga yang mengaku kehilangan pakaian dalam. Ha Ha Ha.
Tak lama berselang, kak Putri menempelkan sebuah pengumuman dari kertas yang ia tulis pakai tangan yang isinya: BALIKIN TEMPAT NASI GUE. Kocak!

Entahlah siapa yang nyolong tempat penanak nasinya kak Putri, semoga aja bisa ketemu. Buat si Maling kalo baca bog gue ini: LIKE THIS. Hahaha, tengs udah jadi inspirasi gue... Wkwkwk

E2-2-21 : My Space!

Kamar asrama tuh sempit banget. Gue baru nyadar sekarang setelah hampir satu semester di sini. Huah, sepertinya aku terlalu membawa banyak barang...
Di dalam kamar seperti biasa ada tempat tidur, lemari pakaian, meja-kursi belajar, dan rak sepatu. Tapi, sejak gue pindah ke kamar E2 lantai 2 no.21 ini isinya semakin bertambah banyak. Baru-baru ini aku menambahkan saru set komputer ke dalam kamar, rice cooker, galon beserta tempat airnya, lampu belajar, buku-buku kuliah yang berat dan tebal, beberapa map yang berisi dokumen registrasi masuk mahasiswa baru sampai dengan ijazah kelulusan SMA. Ada juga name tag dari OKK, PSAF, Spectacomm, sekaligus satu nametag kepunyaan Andhi Suryansyah-seorang teman yang melepas komunikasi UI dan lebih memilih masuk STAN-
Andhi Suryansyah adalah satu di antara banyak teman yang satu perjuangan denganku registrasi awal MABA. Orangnya santun dan lucu, karena kami sama-sama anak daerah aku dan dia biasa bercakap-cakap dengan bahasa Jawa. Sayang sekali, dirinya lebih memilih masuk STAN dan meninggalkan kami semua satu angkatan Komunikasi UI 2009 bersama Artikayara Yunidar untuk belajar di STAN. Hiks... dia adalah teman yang royal, yang akan tetap kujaga sampai kapanpun.

Selain nametag, ada juga agenda harian yang kutempel di tembok bersama poster Harry Potter 6, stiker dan potongan gambar lucu dari majalah, satu otak besar berisi koran, majalah, buku Laskar Pelangi, dan komik Dan Detective School ku yang kutaruh di dekat rice cooker, tempat sampah yang kadang lupa kubersihkan, satu rak kecil tempat piring dan gelas, satu plastik besar beras untuk makan satu bulan, serta tak ketinggalan satu laci penuh dengan hal-hal kecil-aneh-lucu-memorable yang (maaf) tak bisa kutulis di sini. Kalian harus datang langsung untuk melihatnya haha!!

Lalu, aku juga membawa 5 boneka ku yang lucu. Gajah, teddy bear, ladybug, dan bantal hati yang kesemua itu berwarna merah. Mungkin orang-orang yang melihatku di kampus dengan gaya tomboy akan tercengang bahwa di kamarku ada boneka-boneka imut ini. Hehehe..

Di atas meja belajar, sekarang ini masih tersimpan kamera digital punya anak Sosiologi bernama Fasya, salib Yesus dan patung Bunda Maria, Alkitab yang baru-baru ini jadi jarang kubaca, dan di sudut meja ada satu set buku MPKT yang membosankan.

Bagaimanapun, aku menyukai kamarku ini. Di balik jendela saat malam hari, aku bisa melihat pemandangan yang sangat romantis karena diterangi satu cahaya lampu taman yang membuatku teringat seseorang ketika aku terlarut benar.
Jika aku merindukan teman-teman, aku bisa mengingat mereka melalui foto-foto yang kutempel di dinding.

Welcome to my room, Welcome to my life.
E2.2.21 at 6:16 pm, 18/11/2009

Kangen Rumah...


Aku merasa sangat jauh dari rumah. Aku kesepian. Di luar mungkin aku terlihat selalu berada bersama teman-teman, berkumpul dengan temen-teman satu jurusanku, tertawa ceria bersama teman asrama, namun di dalam hatiku terasa kosong. Aku sangat kesepian.
Tidak ada yang bisa mengerti bagaimana payahnya aku sekarang ini, selain diriku sendiri. Aku terisak sepanjang malam mengingat ini semua.
Aku merindukan sesuatu.
Aku merindukan rumahku dan segala hal yang ada di masa laluku...

Sudah hampir satu semester aku berada di kota ini. Sekarangpun aku masih merasa asing. Ada banyak hal yang kujumpai dan menarik untuk dijadikan sebuah inspirasi di dalam cerita, namun tetap saja masih membuatku merasa hampa. Aku masih dalam proses...

Aku masih ingat betul bagaimana gambaran kotaku itu seutuhnya. Semuanya masih terekam jelas di otak ini dan tidak akan pernah terlupakan oleh waktu dan segala hal yang baru sekalipun.

Aku sangat merindukan rumah dan sebuah desa bernama Panjunan. Karena letaknya di sebelah timur, kami menyebutnya Panjunan Wetan. Sebuah desa yang dipenuhi dengan orang-orang dari berbagai macam etnis. Tak jauh dari rumahku, aku bisa melihat buruh-buruh pabrik rokok Djarum mengayuh sepeda mereka ketika aku pulang sekolah, GOR Djarum yang membentang luas seperti benteng yang selalu membuat perasaanku berkecamuk saat mengingat seorang atlet yang pernah belajar di sana. Ada juga supermarket kecil seperti Matahari, Ramayana, yang biasanya penuh saat awal bulan ketika musim gajian, bahkan ADA Swalayan yang selalu mengingatkanku tentang perjalanan menuju rumah sahabatku Yunita Rina Kusumadewi, Abdul Latif, Riza Budi Darmawan, bahkan mengingatkanku akan wali kelasku Ibu Rusmi Lestari ketika dulu aku belajar persiapan untuk Ujian Akhir Nasional.

Rumahku sangat kecil, jika dibandingkan dengan rumah sahabatku Akis Indriana yang berada di puncak bukit bernama Colo. Namun sangat besar jika melihat bahwa di dalam rumah sekecil itu hanya didiami oleh tiga orang saja; Aku, Ayah, dan Ibuku.
Segala hal di dalam rumahku itu, apa saja, masih terekam jelas di kepalaku sekarang ini. Bahkan di mana aku meletakkan tas sekolah terakhirku, sebelum aku berangkat ke Jakarta, masih kuingat betul.
Hatiku menangis. Perih...

Sebuah pasar bernama Pasar Bitingan yang tak jauh dari rumahku, mengingatkanku tentang waktu siang hari yang terik ketika aku mengantarkan ibunda membeli kubis, dan sebuah pondok kecil yang digunakan bapakku untuk bekerja sebagai tukang cukur tradisional. Tak jauh dari sana, ada tempat makan bernama Red Crispy yang biasa kujadikan pelarian saat weekend bersama Arwinda menikmati ayam goreng bumbu, bahkan siomay sekalipun. Aku ingin naik motor Mio-nya Arwinda...

SMA Negeri 1 Kudus terletak di sebelah penyewaan komik bernama Chinmi yang biasanya jadi tempat langgananku membaca detective conan, bus for spring, ataupun miiko sekalipun. Di sebelahnya ada sebuah rumah penduduk yang biasanya kugunakan untuk memarkir kendaraan roda duaku saat aku pergi ke sekolah. Masih terekam jelas bagaimana wajah bapak tua itu, dan anak-anaknya yang tuli. Aku merindukan saat-saat aku bersekolah, naik motor, dan berlari-lari kecil saat satpam hampir menutup pintu gerbang sekolah kami.

SMA Negeri 1 Kudus terbentang elok memadati desa bernama Mlati itu, dan kuingat jelas bagaimana guru-guruku berusaha menjejalkan segala ilmu yang mereka punya untuk murid-murid kelas tiga saat sebentar lagi akan menghadapi ujian. Aku teringat Ibu Hindun Marsiti, guru Sosiologiku yang ceras, dan Guru Favoritku sepanjang masa Bapak Teguh Adi Prasojo yang biasa menggunakan kata-kata ekstrem sewaktu mengajar Kewarganegaraan... Lucu.

Di depan SMA Negeri 1 Kudus, ada depot es juice yang lumayan banyak dipadati murid-murid sepulang sekolah. Aku, Yunita, Akis, dan Adin, bahkan Arwinda Gusviputri sahabatku yang cerdas biasa menghabiskan waktu pulang sekolah kami di tempat itu. Sebenarnya masih ada depot es juice yang lebih enak, tapi letaknya agak jauh, yaitu di dekat SD Cahaya Nur-Tempat Arwinda bersekolah dulu- yang biasa disebit juice CN (Cahaya Nur). Rasa Juice di sana tak akan pernah dikalahkan oleh tempat juice manapun, bahkan Depok sekalipun.

Di belakang SMA, Adiani Rahmawati tinggal di tempat kost yang bernama Melati Inn. Itu adalah markas kami berempat untuk bercanda bersama, saling bercerita, bahkan mengingat saat-saat Adien berulang tahun ke 17 dan kami melemparinya dengan tepung, memori itu membuatku menangis sekarang. Tuhan, betapa aku sangat merindukan teman-temanku...

Satu tempat yang sangat penting selain rumahku adalah Gereja Santo Yohanes Evangelista yang berada di jalan Sunan Muria no.6 yang letaknya bersebelahan dengan SMP Negeri 1 Kudus dan Primagama. Tempat ini adalah tempat paling bersejarah kedua setelah rumahku, di mana dari waktu aku dibabtis, mengikuti sekolah minggu, sakramen khrisma, bahkan saat aku bergabung dengan Persekutuan Doa Santo Rafael yang menjadikanku punya teman-teman yang bertalenta, hebat, dan sama-sama ingin mengenal Yesus Kristus lebih dalam lagi. Mereka adalah Arwinda, Thomas, Harris, Widhie, Hendro, Rudi, Nanik, Andi, Evan, Ivana, Natalie, dan semua anggota PD Rafael yang biasa melakukan ibadat mingguan di hari Jumat pukul 7 malam di belakang gereja.
Juga ada Romo Koko yang selalu aku nanti saat misa harian di pagi hari. Bagaimana kabarnya sekarang? Ingin rasanya berlari dari Depok ini, dan di pagi-pagi yang dingin sudah berada di dalam gereja bersama Arwinda untuk misa pagi seprti biasa...
Mereka semua telah meninggalkan cerita yang luar biasa dan aku boleh merasakan sukacita itu sampai dengan detik ini.

Namun, bagiamanapun,
Perih membayangkan bahwa aku tidak berada di sana sekarang. Perih benar, jika teringat kedua orangtuaku, teman-temanku, masakan ibuku, orang-orang hebat yang berpengaruh pada hidupku,tempat-tempat ajaib dalam hidupku, dan memori 18 tahun itu...

Jika ada satu kesempatan mendatang,
aku pasti akan pulang,
membawa satu harapan,
di mana aku bisa mengubah masa depan,
memotivasi banyak hal,
jika aku bisa pulang,
kupeluk mereka semua.
ERAT.
Tidak akan kulepaskan.


08 November 2009,

Siska.




Goes to Kom Nite 2009

saat ini kami tengah disibukkan oleh agenda komunikasi ui yang sangat padat. baru berselang beberapa minggu setelah acara Grandlaunching, kami dihadapkan pada KomNite: Electricity Your Future yang akan berlangsung tanggal 21/11/2009 di Green Resto & Lounge Kemang no. 25 Jakarta Selatan.

di dalam acara Kom Nite itu, akan menampilkan Kom Boys dan Kom Dance persembahan dari angakatn 2009.
Kom Boys itu terdiri dari Ulo, PT, Sangka, Mugal, Winchan, Rado, dan Awan. Sedangkan Kom Dance terdiri dari Mepet, Rossi, Present, Tri, Firda, dan Ngana.

Mereka telah bekerja keras untuk menampilkan yang terbaik untuk Kom Nite nanti, begitu juga dengan kerja keras manager mereka Lodel dan Neil.

Beberapa kali aku melihat mereka latihan tiap malam, melihat banyak kantung mata gelap di wajah PT dan Rado,
kelelahan menyambut Sangka dan semua anak-anak Kom Boys dan Kom Dance lainnya.
Semoga, kerja keras mereka ini terbayarkan dengan applaus yang meriah saat pentas nanti. Bagaimanapun aku juga tak mau kalah dengan Winchan yang juga ketua angkatan PSM Paragita dan Komunikasi UI 2009, aku harus bersemangat menjual tiket itu agar banyak orang bisa menontonnya.

Go! Go! Komunikasi UI 2009! We can!!

Engga Setiawan: Goes to Canada.

Suatu ketika, aku pernah mengontak Setiawan Engga-si atlet cabang bulutangkis yang pernah kusukai.
Anehnya, aku tidak merasakan apa-apa lagi. Semuanya terasa datar.
Lucu, jika kuingat betapa dulu aku sangat memujanya, dan memenuhi isi otakku dengan segala hal tentang dirinya.
Sekarang hubungan kami terasa lebih asik, akhirnya toh dia tahu bahwa aku pernah menyukainya, namun itu tak berdampak apapun. Apa mungkin karena sudah terkadaluwarsa? Ha Ha Ha.
Mungkin jawabannya adalah waktu. Waktu memberikan jawaban kepada kami untuk menjalin hubungan sebatas sahabat saja, dan ternyata itu lebih asyik.
Sekarang ini rupa-rupanya dia akan segera pindah ke Kanada. Ketika aku bertanya untuk apa dia pindah ke sana, dia hanya menjawab singkat bahwa di sana ada banyak hal yang harus ia lakukan dan ada banyak hal yang bisa ia dapatkan. Aneh juga kupikir, di mana rasa nasionalisnya yang dulu menggebu-gebu membela Indonesia untuk memenangkan Thomas Cup?
Ini semua kembali lagi kepada materi. Aku mengerti semuanya klise, tapi biarlah. Toh ini bukan jalan hidupku.
And then I just wanna say GOOD BYE, If you miss all your friends in Indonesia you know place you can get back...
GO Enggara!!

17 November 2009

25 Hal Yang Pasti Kulakukan Saat Aku Bisa Pulang Ke Rumah di Liburan Semester Depan:

1. Tidur di kamarku bersama ibuku tersayang, bercerita sampai larut malam, dan tertidur di sampingnya. I really miss you mom ;'(

2. Makan masakan ibuku yang paling lezat di dunia. Tanpa ku minta pun, beliau pasti tahu apa saja makanan favoritku. Aku menunggu hari itu bersama segelas es jeruk yang segar yang biasa kunikmati di atas atap rumah.

3. Main ke rumah tetangga. Bergosip.

4. Mencuci motor kesayangan, menservisnya ke bengkel, karna aku akan bersiap untuk touring!

5. Secepat mungkin mengontak Arwinda Gusviputri untuk menemaniku jalan-jalan!

6. Secepat mungkin mengumpulkan anak-anak A.S.A (Akis Adien Yunita) karna kami akan berpariwisata ke Jogjakarta!

7. Menonton film-film favoritku sepanjang masa: Just Like Heaven dan Kungfu Panda yang sangat kurindukan, kemudian menonton kira-kira 30 kaset DVD baru yang telah kubeli di Depok. It's time to the movie!!

8. Datang ke Persekutuan Doa Santo Rafael, bertemu anak2 PD yang kurindukan; Thomas, Harris, Andi, Lusi, Nanik, Evan, Ivana, dan kumpul bareng untuk latihan PD. I really miss this memory!!

9. Meminjam dvd kepunyaan Thomas dan Widhie sebanyak mungkin.

10. Melanjutkan les gitar bersama Widhie Wiweko Widjaja yang sempat tertunda.

11. Berkunjung ke rumah mas Ony Kristianus dan Patricia H. Kartika beserta menjenguk sepasang hamsternya yang lucu-lucu.

12. Berkunjung ke Paroki, mengobrol bersama Romo Koko ^^ Like This.

13. Bersama Arwinda dan A.S.A makan siomay-batagor (masehi), Red Crispy, Es Juice Cahaya Nur.

14. Main bulutangkis bersama anak-anak PD di GOR Djarum Kaliputu. Pelampiasan terbesarku yang harus kulakukan.

15. Berfoto box bersama Arwinda dan A.S.A yang sebelumnya belum sempat kami lakukan bersama.

16. Main ke rumah A.S.A satu demi satu, ke rumah Arwinda Gusviputri untuk bermain bersama Nero, dan ke rumah Evan&Ivana yang baru saja punya baby... aih, aku dan Winda jadi tante lagi!!

17. Meminjam komik Miiko milik Arwinda Gusviputri.

18. Makan jagung bakar bersama A.S.A, Arwinda, dan teman-teman Kosmik (Ratih, Erike, Ine, Yudith, Marcelina, Yunita, Maryline)

19. Menyiapkan acara bedah kampus Universitas Indonesia di SMA Negeri 1 Kudus bersama alumni.

20. Melewatkan satu minggu yang kosong, tanpa beban, tanpa pikiran, di rumah saja bersama Bapak dan Ibuku.

21. Melewatkan sebagian waktu berkumpul bersama teman-teman SMA; XII IPS 3, dan Kliwir Community...

22. Berkeliling Kota Kudus saat malam hari bersama arwinda Gusviputri dan bertukar cerita tentang banyak hal.

23. Bermalas-malasan, dan menjadi diriku yang seperti dulu lagi. Melakukan apapun yang aku sukai.

24. Jika masih ada waktu, ingin melewatkan tahun baru di kota Ambarawa, berkeliling Ambarawa, ke Gua Maria kErep Ambarawa, dan berwisata Kuliner.

25. Mempersiapkan liburan yang lebih seru dan berwarna di kota Yogyakarta.

26. Mengisi SIAK-NG dengan program studi Ilmu Komunikasi; Jurnal Cetak!!! Selanjutnya memilih mata kuliah yang asik, dosen pembimbing yang asik dan tidak pelit memberikan nilai.

27. Saat benar-benar waktuku telah habis, aku akan kembali pulang ke Depok. Tapi rasa-rasanya memikirkan hal itu adalah hal terakhir yang akan kulakukan.


Membayangkan semuanya ini, membuatku sedikit terhibur dengan apa yang kualami sekarang. Semoga waktu ini cepat berlalu, sehingga aku bisa cepat pulang.

AKU HANYA INGIN PULANG.