4 Juni 2010

Diary 3 Juni 2010

3 Juni 2010
Aku terbangun dengan agak sedikit linglung tadi pagi. Setelah mengusap mata dan merenggangkan ototku sebentar aku menyadari benar bahwa sekarang aku sudah berada di rumah. Di Ambarawa.
Kubuka ponselku yang semata wayang dan aku diingatkan dengan banyak sms masuk yang mengingatkanku hari ini adalah hari ulang tahun sahabatku Yunita Rina Kusuma Dewi, seorang teman masa SMA yang baik hati dan juga keponakanku tersayang Andreas Prasetyo Budi. Hmm… aku merindukan mereka semua…
Hari ini adalah hari keduaku berliburan di Ambarawa. Aku senang akhirnya bisa bertemu dengan Ibu dan Ayahku yang tampak sangat sehat sekarang, walaupun jelas benar Ibuku masih dalam kondisi kakinya di gips. Rencana hari Minggu nanti kami akan sama-sama pergi ke Salatiga untuk membuka gips yang membungkus kakinya hampir dua bulan ini…
Berada di Ambarawa yang kuperkirakan dalam jangka waktu yang lama membuatku banyak berpikir panjang. Kalau boleh jujur kalau bukan karena ada orangtuaku dan kondisi Ibuku yang sakit ini, mungkin prioritas utamaku bukanlah mengunjungi pedesaan ini. Aku tentu saja akan memilih untuk tinggal di kota kelahiranku di Kudus dalam jangka waktu yang mungkin tidak bisa kuputuskan.
Aku melihat mimik wajah Ibu yang berbeda ketika dari awal aku mengatakan akan pulang lebih cepat karena kepanitiaan Penerimaan Mahasiswa Baru FISIP UI 2010 semakin dekat dan terus-terusan memintaku untuk hadir dalam setiap rapat. Aku tahu bahwa ibu dan ayahku, bahkan semua keluargaku sangat menentang aku mengikuti kegiatan yang menurut mereka tidak penting ini. Aku mencoba untuk menjelaskan semuanya itu, dan aku kalah. Dari lubuk hatiku yang paling dalam berada di samping kedua orangtuaku terlebih saat mereka sedang sakit seperti ini adalah hal yang paling kuinginkan saat ini ditimbang pergi ke kampus dengan tujuan yang masih belum jelas.
Jadi, aku putuskan untuk menunda kepulanganku lebih lama yaitu akhir Juni ini. Aku tidak akan pernah mau lagi menggadaikan kesempatan bersama kedua orangtuaku dengan apapun. Termasuk kesempatan menjadi seorang TIBUM PSAF sekalipun!!
Saat ini kedua keponakanku yang adalah perempuan yaitu Lia dan Happy juga sedang sibuk menyiapkan UAS mereka. Haha aku senang melihat mereka belajar , sedangkan aku ongkang-ongkang kaki tidak mengerjakan apapun. Haha senang!!!
Bukan sembarangan, message box di ponselku juga penuh dengan sms dari banyak orang yang sangat-amat-perhatian denganku. Salah satunya adalah sahabatku yang bernama Nurul Utami yang sudah kuanggap seperti saudariku sendiri karena dirinya dapat menenangkan pikiranku sangat sedang kalut. I’ll be missing her so much, dan aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya hidupku tanpa dia. Hahaha parah!
Sementara aku berlibur di sini, aku berusaha untuk menutup segala pikiranku, anganku, dan semua beban yang sebenarnya masih mengganggu sejak aku pulang. Semua beban itu tentu saja mengenai masalah kampus, Albert, dan KUKSA FISIP. Kalau bukan karena aku berhasrat ingin menjadi TIBUM PMB FISIP UI tahun ini, tidak mungkin lagi aku mau merespon sms-sms jarkom itu yang semuanya mengatakan bahwa aku harus pulang secepatnya. TIDAAAK!
Berada di tempat ini kurang lebih selama dua minggu ke depan agaknya dapat membuatku sedikit merasa rileks dengan hidup. Seraya melihat 2DO LIST apa saja yang ingin kulakukan di waktu liburan ini, aku akan mencoba untuk melengkapinya satu demi satu. Rencana yang terdekat tentu saja adalah menemani ibuku melepas gipsnya, pergi ke Gua Maria Kerep Ambarawa untuk berdoa, mengunjungi gereja Jago, membeli kaktus untuk oleh-oleh, serta membeli kopi untuk Romo di Banaran. Rencana jangka pendeknya mungkin aku akan pulang ke Kudus—my beloved hometown—untuk menikmati jajanan khas Kudus yang sangat kurindukan, bertemu dengan kawan lama, membersihkan rumah, mencuci motor, pergi ke Gereja Santo Yohanes Evangelista, bertemu Romo Koko, berkumpul bersama dengan anak-anak PD, meminjam DVD Widhie Wiweko Widjaja, dan masih banyak hal lain yang akan kulakukan. AKU BAHKAN MENULIS HAL INI TANPA KESABARAN LAGI HEHEHEHE :D
Beberapa catatan untuk liburan hari kedua ini adalah: aku harus mencoba makan sate kelinci suatu saat nanti, aku harus banyak luluran agar kulit tubuhku bisa agak tampak lebih cerah, menipiskan rambutku—bahkan aku mulai berpikir untuk melakukan masker rambut—terus menulis catatan ini, serta menyelesaikan buku 2 DO THINGS BEFORE I DIE milik Dikara Kirana.
Oh ya, entah mengapa semua orang menganggap bahwa bekas jerawatku yang ada di dahi itu perlu untuk dipoles lagi agar tidak membekas, dan aku rupanya harus berlatih berjalan tanpa diseret karena sol sepatuku rusak terus karena mereka bilang bahwa cara jalanku aneh seperti diseret-seret.
Untuk saat ini yang ingin kulakukan dengan benar adalah chatting dengan teman-teman kampusku. Aku sangat merindukan mereka semua: Tommy, Neil, Afif, Nurul, Pia, Maria Dika dan semua anak komunikasi serta KMK UI. Jalan-jalan yang terakhir kalinya bersama anak-anak KMK UI ke Jakarta Kota dan sekitarnya membuat kesan yang sangat mendalam karena aku terpilih menjadi PO Sehari Bersama KMK UI pada bulan Agustus nanti. Hwaaa aku tidak sabar lagi pingin cepat kuliah dan melanjutkan studiku di sana.
Status di saat ini adalah menunggu. Menunggu nilai-nilaiku diumumkan di SIAK-NG. Demi apa coba semalam aku mimpi buruk karena MPK Bahasa Inggrisku dapat C dan aku mengulang. TIDAK! NO WAY! Semoga itu tidak benar-benar terjadi, dan aku sangat berharap aku bisa lulus 100% dan IPku naik ke angka 3,7. Amin!!!
Yang jelas, proker yang belum jalan adalah PMB FISIP UI 2010, SBK KMK UI, KUKSA’s WEEKEND 2010, ikut MISA ALAM KMK UI Agustus nanti, serta bersiap menempuh 24 SKS di semester depan dan mengajar bimbel!!
Pikiran yang menggangguku tentu saja: Albert, pindah kosan, dan rencana kepulanganku yang akan tertunda sampai akhir Juni.
Tuhan, apa saja deh. Aku tahu ini semua adalah rencanaMu. Pakai aku ya Tuhan. Aku berserah kepadaMu dalam segala hal… Amin!!

Analogi Persahabatan: Koloid si Pengemulsi

Bercerita mengenai masalah yang kualami sekarang dengan keponakanku menghasilkan satu lagi analogi cinta yang sedemikian besar. Aku akan menceritakan kisah ini dari versiku.
Jadi, saat ini aku sedang mengalami desolusi-yaitu sebuah hubungan yang bisa dikatakan rumit dengan seseorang-karena sebuah kesalahpahaman dan diwarnai sedikit kemunafikan yang pada akhirnya menyebabkan kisah hubunganku ini ibarat air dan minyak yang tidak mungkin disatukan lagi. Aku suka dia, tapi aku juga sangat membencinya sampai titik darahku mendidih.
Bercerita mengenai hal ini kepada keponakanku yang notabene adalah anak kelas dua SMU jurusan IPA membuat sebuah analogi baru (sekali lagi) dalam perjalanan hidupku setelah analogi cinta dan sakit gigi.
Analogi ini disebut dengan air, minyak, dan pengemulsi. Kita semua tahu bahwa ketika air bertemu dengan minyak, mereka tidak akan bisa bertemu, apalagi menyatu (blend). Seperti itulah hubunganku kini dengan seseorang, karena sedikit salah paham, bumbu kemunafikan, dan kurangnya keterbukaan serta tidak adanya penerimaan diri, kondisi persahabatan dan hubungan kami ibarat minyak dan air yang tidak bisa mungkin lagi disatukan. Konon, kata keponakanku ini hanya ada satu cara untuk membuat dua zat ini mungkin bisa menyatu yaitu dengan memberi sebuah zat lain yang bernama pengemulsi (antara lain air sabun).
Analogi ini muncul ketika kami saling bertukar cerita mengenai kehidupan kami masing-masing dan apa saja yang telah kami lakukan sampai saat ini bersama dengan teman dekat kami. Ketika ia berkata, “Sepertinya kalian membutuhkan sebuah pengemulsi…” ide itu membuatku tertawa dan kemudian aku menulis mengenai kisah ini. Aku cukup senang bahwa ternyata kehidupan percintaan dan persahabatanku sangatlah berwarna dan berapi, aku bertekad untuk memberikan pengemulsi-pengemulsi lain di dalam hidupku. Aku harap hal itu belum terlambat, karena aku sangat menyukai dia dan memikirkan dirinya sampai hari ini membuatku ingin mati saja rasanya karena sangat menyakitkan memiliki perasaan yang dalam namun hancur seperti ini. Aku harap ia membaca tulisan sampah ini dan mengerti paling tidak apa yang sedang kupikirkan sekarang.

Hey, that’s true… that I’m waiting for you now.
Waiting the unpredictable thing. Please don’t hanging me at this dark feeling. Please let me know that you’ll take me from this situation. You’re done!

MY MOM (Part.2)

Yang ingin kutulis saat ini adalah mengenai Ibuku. Aku bahagia akhirnya bisa pulang liburan semester ini ke Ambarawa bertemu dengan beliau. Aku sampai di rumah pada pukul 03.30 pagi hari dan aku rasa kangen itu terobati dengan sebuah pelukan hangat.

Ibuku saat ini dalam kondisi yang sangat sehat. Beliau sudah bisa berjalan lancar memakai kuk-nya untuk pergi ke toilet, memasak, serta melakukan segala hal kecuali turun dari tangga bawah. Kami saling bercerita pagi itu dan kami tidur bersama sampai terbangun sekitar pukul 10.00 siang. Aku bertemu dengan sang pendengar itu. Ibuku selalu menyukai semua cerita dan pengalamanku. Beliau selalu mendengarkannya dengan cermat dan tentu saja memberikan komentar di sana-sini.

Pada hari Minggu nanti, aku dan bersama semua keluarga yang ada di sini akan mengantarkan beliau ke Salatiga untuk melepas gips yang sudah dua bulan ini membungkus kaki kanannya karena patah pada tanggal 30 Maret yang lalu. Aku sangat berharap bahwa beliau cepat sembuh, cepat pulih, dan pada akhirnya bisa kembali berjalan secara normal ke mana pun ia pergi tanpa bantuan alat yang bernama kuk itu tadi.

Di sini aku sering bertindak iseng dengan berkata padanya “Ayo dong Bu lari, gak usah pakai kuk!” dan kemudian ia tertawa dan menjitakku. Lucu. Karena masih belum terbiasa juga melihatnya mamakai kuk itu saat berjalan, ke mana pun kini ia hendak melangkah tak hentinya sampai beliau merasa bosan aku selalu bertanya “Mau ke mana lagi?” Hahaha…

Sulit juga ya menyadari semua rencana Tuhan ini. Tuhan sungguh adalah arsitek dan sutradara terhebat sepanjang masa karena ia sangat menyukai cerita. Cerita tentang ibuku dan kaki kanannya yang patah adalah sebuah bentuk cerita tersendiri yang patut dikenang dan direnungkan di dalam keluarga kami, bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana paling baik di dalam keluarga kami dan dengan peristiwa ini kami diingatkan untuk lebih mengandalkan Tuhan jauh lebih dalam lagi…

Jika ada yang bisa kulakukan untuk dapat bersama Ibuku lebih lama apapun itu akan kulakukan, termasuk melepas semuanya yang berkaitan dengan kepanitiaan penerimaan mahasiswa baru 2010 nanti. I really love you, MOM!! I will be there for you…

29 Mei 2010

Diary 29 Mei 2010

29 Mei 2010
Okay, selamat Sis! UASmu sudah selesai jiahahaha XD senang! Then, hari ini adalah hari pertama liburanku setelah UASku benar-benar selesai. Agak lega juga sih karna sekarang aku tinggal menatap 3 bulan ke depan mau ngapain sedangkan beberapa temanku seperti Arwinda (Widya Mandala University), Calvin (Politik 09), Dedi (Kimia 09), Tuning (Teknik Industri 09) bahkan masih UAS dan mereka mengambil Semester Pendek di bulan Juni.
Hari ini bahkan aku sudah pindahan dari Kornelius ke rumah kakakku yang ada di Tangerang. Aku transit sebentar di tempat ini sekitar satu atau dua hari sebelum pada akhirnya nanti aku pulang ke Ambarawa. It’s such like dreaming akhirnya aku bisa pulang ke rumah. HHH sebenarnya tidak pulang ke rumah sih, karena rumahku ada di Kudus, yaaahh… tahulah, masalah perawatan Ibuku lah yang menjadikan aku harus pulang ke Ambarawa. I really miss my family more than I can say…
Oke, jadi hari ini dibuka dengan tidur kedinginan di kamarnya Calvin dan semalam aku tidur ditemani Jenni (Sastra Indonesia 08). Demi apa Tuhan semalam adalah malam yang panjang karena pada akhirnya aku menceritakan semua hal mengenai perasaanku pada seseorang, ehmm… You-Know-Who lah padanya. I think she was a good listener. Akomodasi percakapannya pun mampu melihat sisi lain dari seorang You-Konow-Who itu. Tapi ya sudahlah yaa.. semuanya sudah selesai dan bahkan aku tidak ingin lagi mendengar namanya disebut. ENOUGH.
Jadi, aku mengirim sms ke banyak orang hari ini. Ada beberapa teman lama bahkan menanyakan bagaimana kabarku. Senangnya diperhatikan banyak oraaang!!! Aku mulai dengan sms Kara (Sastra Jepang 06), Nurul (Komunikasi 09), Neil (Komunikasi 09), serta anak-anak KMK UI yang akan jalan-jalan berefreshing-day ria di Jakarta Kota besok pagi… YAY!!
Aku meninggalkan Kira (my roommate) di kamarnya, setelah makan siang bersama dengan Jenni juga dan aku harap semoga liburannya 3 bulan ini menyenangkan. Aku juga harus mengingatkan diriku sendiri untuk tidak lupa mengambil bajuku di tempat laundry bulan depan. Haha repot banget yaa :D
So, now I’m here. In Tangerang city. Thanks berat untuk teman-teman yang tidak pernah sepi untuk menanyakan bagaimana kabarku, dan terimakasih untuk kakakku Mas Budi, iparku Mba Atik, serta Andre yang mau menerima kedatanganku dengan kehangatan… Hampir menyentuh feels like home aku rasa…
Andre tumbuh sangat besar sekarang, tak habis pikir nafsu makannya dahsyat sekali. Kamar yang kutempati sekarangpun sangat nyaman. Aku suka tinggal di sini!! Aku mengendus niat baik mereka untuk memperbaiki giziku hehehe..
At least but not least, secara total hari ini cukuplah menyenangkan. Terimakasih Tuhan atas segalanya… I LOVE YOU!

27 Mei 2010

EMPTY

29 Mei 2010
Okay, selamat Sis! UASmu sudah selesai jiahahaha XD senang! Then, hari ini adalah hari pertama liburanku setelah UASku benar-benar selesai. Agak lega juga sih karna sekarang aku tinggal menatap 3 bulan ke depan mau ngapain sedangkan beberapa temanku seperti Arwinda (Widya Mandala University), Calvin (Politik 09), Dedi (Kimia 09), Tuning (Teknik Industri 09) bahkan masih UAS dan mereka mengambil Semester Pendek di bulan Juni.
Hari ini bahkan aku sudah pindahan dari Kornelius ke rumah kakakku yang ada di Tangerang. Aku transit sebentar di tempat ini sekitar satu atau dua hari sebelum pada akhirnya nanti aku pulang ke Ambarawa. It’s such like dreaming akhirnya aku bisa pulang ke rumah. HHH sebenarnya tidak pulang ke rumah sih, karena rumahku ada di Kudus, yaaahh… tahulah, masalah perawatan Ibuku lah yang menjadikan aku harus pulang ke Ambarawa. I really miss my family more than I can say…
Oke, jadi hari ini dibuka dengan tidur kedinginan di kamarnya Calvin dan semalam aku tidur ditemani Jenni (Sastra Indonesia 08). Demi apa Tuhan semalam adalah malam yang panjang karena pada akhirnya aku menceritakan semua hal mengenai perasaanku pada seseorang, ehmm… You-Know-Who lah padanya. I think she was a good listener. Akomodasi percakapannya pun mampu melihat sisi lain dari seorang You-Konow-Who itu. Tapi ya sudahlah yaa.. semuanya sudah selesai dan bahkan aku tidak ingin lagi mendengar namanya disebut. ENOUGH.
Jadi, aku mengirim sms ke banyak orang hari ini. Ada beberapa teman lama bahkan menanyakan bagaimana kabarku. Senangnya diperhatikan banyak oraaang!!! Aku mulai dengan sms Kara (Sastra Jepang 06), Nurul (Komunikasi 09), Neil (Komunikasi 09), serta anak-anak KMK UI yang akan jalan-jalan berefreshing-day ria di Jakarta Kota besok pagi… YAY!!
Aku meninggalkan Kira (my roommate) di kamarnya, setelah makan siang bersama dengan Jenni juga dan aku harap semoga liburannya 3 bulan ini menyenangkan. Aku juga harus mengingatkan diriku sendiri untuk tidak lupa mengambil bajuku di tempat laundry bulan depan. Haha repot banget yaa :D
So, now I’m here. In Tangerang city. Thanks berat untuk teman-teman yang tidak pernah sepi untuk menanyakan bagaimana kabarku, dan terimakasih untuk kakakku Mas Budi, iparku Mba Atik, serta Andre yang mau menerima kedatanganku dengan kehangatan… Hampir menyentuh feels like home aku rasa…
Andre tumbuh sangat besar sekarang, tak habis pikir nafsu makannya dahsyat sekali. Kamar yang kutempati sekarangpun sangat nyaman. Aku suka tinggal di sini!! Aku mengendus niat baik mereka untuk memperbaiki giziku hehehe..
At least but not least, secara total hari ini cukuplah menyenangkan. Terimakasih Tuhan atas segalanya… I LOVE YOU!

Saat Donat Cokelat Itu Terasa Pahit...

Ketika donat-cokelat itu terasa pahit…

Hari ini 22 Mei 2010 ada tiga hal yang ingin kuceritakan. Pertama, hari ini adalah hari kedua peringatan Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan PMKAJ-US di Wisma SY. Hari ini adalah final lomba cerdas cermat dan entah bagaimana jadinya Aku-Albert-Jeni menang dalam lomba ini. Kami meraih hadiah tiket jalan-jalan ke Museum Kebangkitan Nasional. Yay.. senang! (namun rasa senang itu tidak bertahan lama)

Kedua, sepulang dari acara itu, Aku-Albert-Kara (FIB-Sastra Jepang 06) naik KRL Ekonomi AC menuju ke Stasiun Cikini. Kara akan berlatih Mahawaditra di UI Salemba, sedangkan Aku-Albert bergegas menuju ke Rumah Duka RS Cikini-Jakarta Pusat. Aku dan Albert hendak melayat kakak dari sahabat kami yang meninggal. Kak Marilo, kakak keduanya Jeje (Clara Jessica Yuwono) yang sakit komplikasi beberapa hari yang lalu. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayangi, apalagi jika dia adalah bagian dari hidupmu. Entah bagaimana, kuharap Jeje dan keluarganya tabah dalam menghadapi cobaan ini. Be strong lady… may he rest in peace.

Ketiga, ketika aku pulang dari rumah duka itu dan kembali ke Depok, aku harus menghadapi hal lain lagi. Calvin Lourdes He—teman satu kosan—sudah mengepak barang-barang dalam koper kecilnya dan ia bersiap pindah dari Wisma Cornelius meninggalkan Aku dan Dikara Kirana. Tak lama, orangtuanya datang menjemput dan mau tidak mau kami terpaksa membantunya mengepak dan memindah barang ke mobil. Ketika malam itu ia benar-benar jadi pindah, ibunya memberiku dan Dika donat cokelat manis dari Dunkin Donuts. Cokelat itu meleleh di bibir namun entah bagaimana terasa pahit.

Sebenarnya bukan 3 hal ini sih yang membuatku sedih. Malam ini aku merasa tidak berguna karena aku menyadari satu hal yang membuatku sangat sedih dan mendung.

Jadi, kemarin saat perayaan hari Kebangkitan Nasional ada beberapa lomba yang dipersiapkan oleh panitia. Aku-Albert-Jeni mengikuti lomba cerdas cermat, nah sewaktu kami sedang menunggu giliran, datanglah sesosok wanita yang cantik, anggun, dan bersahaja. Dia adalah Natalia Rialucky Tampubolon, seorang mahasiswi HI 2008 yang diprediksi akan menjadi mahasiswa berprestasi FISIP dan juga mahasiswa berprestasi UI tahun depan. Ia juga seorang yang Katolik. Ria adalah mahasiswi yang cerdas, alumni SMA Santa Ursula, mantan Ketua OSIS, dan bercita-cita menjadi seorang Presiden di kemudian hari. Dia adalah orang pertama yang mendekati sempurna yang pernah kutemui setelah Ibuku.

Orang bilang kalau Ria berasal dari keluarga yang sangat mampu, dan ia pernah juga exchange student ke Harvard beberapa waktu yang lalu. Sekarang ia sedang sibuk mengurusi organisasi mini mirip PBB nya yang bernama IMUN (Indonesia Model United Nation). Oh mai gat she’s so brilliant. Itu adalah cerita pertamaku dan kesan pertamaku berkenalan dengan Rialucky.

Kedua, adalah saat dalam perjalanan menuju ke Rumah Duka, aku dan Albert berbarengan pergi ke stasiun Cikini bersama dengan Kara. Dia adalah salah satu rival kami dalam lomba cerdas cermat BANGSAL PMKAJ-US. Kukira dia adalah anak 08 atau paling tidak anak angkatan 07. Ternyata oh ternyata cewek jangkung itu adalah mahasiswi Sastra Jepang 06 yang hendak lulus. Ia bermain cello di Mahawaditra, dan pada bulan September nanti ia akan pergi ke Jepang-Nagoya University-untuk exchange student. Anaknya super jangkung, pakai kacamata dan suka menyanyi dan bermain musik. Dia adalah Kara Toruan si gadis Indo-Jepang. Jiahahaha :D

Dua hal itu mengganggu pikiranku malam itu. Aku bahkan sampai tidak bisa tidur. Aku menyadari satu hal malam itu: aku ini bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa di UI. Aku memikirkan itu terus sepanjang hari sampai saat aku chatting dengan teman-temanku yang baik hati lewat FB. Sore harinya dengan diiringi sambaran kilat dan petir aku pergi ke gereja dan barulah di sana aku mendapatkan pencerahan.

Tuhan seakan berbicara padaku: Hai Nak, jangan takut. Jalanmu masih panjang, masih banyak kesempatan yang belum kamu gunakan. Sekaranglah saatnya menggunakan kesempatan itu.

Seorang teman berkata padaku, ia berkomentar saat aku mengatakan bahwa kedua perempuan yang kusebut tadi sangat amat sempurna hidupnya, ia berkomentar begini: Tidak ada yang sempurna di dunia ini, Sis. Bahkan Rialucky pun tidak. Ia hanya memaksimalkan talenta yang Tuhan berikan untuknya. Sejatinya Tuhan juga memberi kita hal yang sama.

24 jam yang sama, oksigen yang sama…

Dengan demikian segalanya mulai jelas bagiku. Aku tidak begitu terganggu lagi dengan pikiran sesatku bahwa aku ini tidak berguna. Aku harus mencari apa passionku yang sebenarnya. Di musik kah? Di olahraga kah? Di akademis kah? Atau di mana??

Hanya Tuhan yang tahu bagaimana aku yang semestinya…

Thanks Lord because you show me your way…


Nb: Suatu saat nanti aku ingin juga bisa mengikuti jejak Rialucky dan Kara Toruan yang sudah menginspirasi saya untuk belajar ke luar negeri.

Love Life at Wisma Cornelius

Ada hal-hal di dunia ini yang sulit untuk dijelaskan. Demikian juga aku yang kini rupa-rupanya terhenti sejenak pada satu titik dan menjadikanku untuk tidak bisa seperti dulu, bercerita mengenai apa saja yang ingin kuceritakan pada kalian semua di blogku ini. Jadi, saat ini aku sedang menyukai seseorang. Orang itu adalah sahabatku, dan jika aku terlalu menulis banyak hal tentang dirinya, aku sangat takut dia akan tahu mengenai perasaanku.

Case closed tentang cerita indah si anak FE. Aku sudah melepasnya benar. Aku tahu dia memang bukan untukku, dan tidak seharusnya aku menunggu lebih lama lagi karena aku tahu sebentar lagi pasti akan ada orang yang tepat yang akan hadir ke dalam hidupnya. Yang jelas orang itu bukanlah aku. Come on cheer up, ndut! I know you can move on!

Jadi, saat ini sepertinya aku sudah hampir 3 bulan tinggal di kosanku yang baru. Aku lupa benar bahwa hampir tiga bulan yang lalu aku berhenti untuk menulis di blog karena suatu alasan yang tidak jelas. Jadi, mari kuawali cerita ini tentang kosanku yang baru: Wisma Cornelius Barel, Depok.

Pindah ke Wisma Cornelius adalah ide gila dari Dikara Kirana—aku tidak tahu apakah ia benar-benar gila atau apa—aku gila juga sih mau diajak pindah ke sana hehehe… letaknya di daerah Barel, dekat fakultas Psikologi dan Fakultas Hukum. Jika dihitung mungkin hanya akan memakan waktu 5 menit untuk berjalan ke FISIP. Kami akhirnya pindah di awal bulan Maret dengan bantuan Papanya Dika—thanks berat Oom, dan APV nya—dari asrama menuju ke Wisma Kornelius. Tentu saja saat itu kondisi asrama benar-benar sudah sepi karena Sari Oktavia dan Widya Fithri sudah pindah duluan ke wilayah Kober. Jadi hari itu aku dan Dika sempoyongan pindahan karena barang kami banyak sekali hehehe…

Kami tinggal bersama dalam satu atap, satu kamar, satu kamar mandi, satu tempat boker (hehehhe), namun tentu saja tidak satu ranjang. Setiap kali ada teman kami yang main ke kosan, reaksinya pasti sama: terkejut karena kamar kami luas sekali dan barang kami yang ehmmm ‘sedikit’ masih belum memenuhi kamar nomor sepuluh di lantai satu tersebut. Aku suka kamar ini. Luas, dan tenang. Aku tidak merasa risih walau kosan ini diisi oleh orang campur laki-laki dan perempuan. Unity in diversity, right?? Hehe penghuni kosannya juga bermacam-macam walau memang kebanyakan diisi oleh anak Hukum atau Psiko. Waaa akhirnya inilah tempat tinggal kedua kami setelah asrama. Aku benar-benar keluar dari zona aman sekarang. Hmmm…

Aku sering keluar kamar kalau hendak menelepon Ibu karena sinyalnya parah. XL sama sekali tidak ada sinyal di tempat ini. Demikian juga yang dirasakan tetangga kami Calvin Lourdes He si anak Politik yang suka ngomel-ngomel gak bisa pakai modemnya karena keterbatasan sinyal. Calvin tinggal berseberangan dengan kamar kami, sama-sama di lantai satu namun bedanya ruangan miliknya ada AC sedangkan ruangan kamar kami tidak ;( huwoooo sedih! Calvin adalah tetangga yang baik. Aku jadi ingin menceritakan dirinya lebih banyak…

Jadi, tetangga kami bernama Calvin. Dia adalah mahasiswa jurusan Politik FISIP UI 2009. Dia adalah teman MPK Agama Katolik yang sama denganku. Aku sudah tahu tentang dirinya saat semester lalu kami berada di satu kelas Pengantar Ilmu Sosiologi yang sama. Sekarang aku dan dia adalah teman satu MPK Agama Katolik dan teman satu kosan yang sama hahaha :D

Calvin benar-benar memegang kuat sekali kebudayaan Cina-nya. Di mejanya penuh dengan tumpukan buku kebudayaan Cina dan berbagai macam diktat aneh yang tak bisa kubaca hurufnya. Setiap hari Sabtu/Minggu ia menghabiskan sebagian besar waktunya mengikui LBI Bahasa Cina di UI Salemba, ckckckkc…

Unik. Itu adalah satu kata yang bisa menggambarkan orang macam apa Calvin itu. Dia hanya membawa 6 setel baju ke kosan. Hampir semuanya adalah baju batik. Ia suka memakai sepatu formal kadang juga sepatu olahraga namun sama sekali tidak punya sandal. Ia suka membawa tas besar seperti tas naik gunung namun di dalamnya hanya ada Netbook kecil berwarna putih beserta modem yang tersetting dengan bahasa Cina yang sama sekali tidak dapat kumengerti apa artinya dan bagaimana cara membacanya. Calvin bermata sipit—seperti orang Cina kebanyakan—namun sangat suka pelajaran sejarah, di antaranya adalah sejarah mengenai Arab, semua hal yang berhubungan dengan Kitab Suci, berhubungan dengan Tradisi Yahudi, serta perkembangan negara-negara di dunia. Cara berbicaranya Calvin sangat khas. Ia sering mengatakan “Indah sekali”; “Pintar sekali”; “Hebat sekali” dan sering juga berdeham. Aneh. Hehehe…

Hampir tiap hari ia selalu berangkat kuliah bersama-sama denganku dan Dikara Kirana. Namun tidak pernah sekalipun pulang bersama pada akhirnya. Ia suka sekali menghabiskan waktu di kamarnya yang AC, suka ribut-ribut sendiri kalau di kamar mandinya ada cacing tanah—entah kenapa dengan badannya yang tinggi tegap seperti itu bisa juga takut cacing tanah—dan suka marah-marah kalau ada kutu yang beterbangan di kamarnya. Aku dan Dikara Kirana suka sekali menghabiskan waktu kami untuk nyampah di kamarnya Calvin. Niatnya sih ngadem, tapi ujung-ujungnya ngobrol, debat, bikin forum, nyanyi bareng, atau belajar SSI. Menurutku, Calvin adalah seorang mahasiswa yang cerdas. Daya analisisnya tajam, dan aku sangat mendukung my ‘little’ brotherku ini menjadi seorang dosen suatu saat nanti.

Jika pernah mengenal Calvin, pasti tidak heran jika masuk ke kamarnya akan ada FATWA-FATWA miliknya tentang bagaimana harusnya bertamu di kamarnya. Pertama, tidak boleh membuang sampah di kamar. Kedua, kalau online di meja saja dan di bagian kanan. Ketiga, kalau numpahin sesuatu harus dilap/dipel. Keempat, harus hati-hati memegang bukunya jangan sampai hancur, tertekuk, robek, dll. Entah ada berapa FATWA larangannya yang jelas semua itu sangat memuakkan hahahaha :D

Minimalis. Itulah Calvin. Selain hanya membawa 6 setel baju ke kosan, di mejanya seingatku cuman ada celengan warna kuning—kado ulang tahunnya dari Dika—buku-buku kuliah, buku-buku Cina, telepon rumah (yang jarang berdering), HP, dan tidak ada barang-barang lain yang unik. Kamarnya pun lebih bersih, lebih wangi, lebih higienis daripada kamarku. Calvin tidak pernah mengijinkan siapapun untuk memporak-porandakan kamarnya. Menurutku dia ini seperti Nenek, karena dia cerewet sekali. Satu hal yang perlu diingat, setelah tidak ada kegiatan apa-apa lagi, mau itu jam 6 sore pun Calvin pasti sudah memakai setelan piama batiknya.

Kamar mandi yang katanya ada cacing itupun parahnya lebih bersih daripada kamar mandiku, lebih luas sampai ibarat kata kalo ada lemari bajupun masih bisa muat dimasukkin ke dalam sana. Seringkali aku melihat orangtua dan adiknya menjenguk si “Nenek” cerewet ini di akhir Jumat, membawanya pulang ke Kalideres dan kembali pada Minggu sore. Namun sekarang sepertinya itu tidak akan terjadi lagi karena baru kemarin tanggal 23 Mei 2010 Calvin pindah dari kosan. Alasannya klise: libur 3 bulan.

Jadi, sekarang ini aku benar-benar merasa kehilangan seorang adik, nenek, dosen, dan penterjemah. Aku masih ingat bagaimana ia pernah membantai bahasa Inggrisku habis-habisan karena cara membacaku yang aneh. Dia selalu bilang kalau aku ini English-Javanese, tapi sering kali bilang kalau nanti aku dapat kesempatan untuk exchange student dia menyarankanku untuk exchange ke Timor Leste. Dasar nenek-nenek penggemar warna kulit! Dasar si sipit!! Hahaha :D

Okelah, jadi kamarnya sudah benar-benar sepi sekarang. Sebentar lagi rupanya juga akan libur, aku akan pulang dan akan kembali ke kosan ini nanti. Semoga kamar itu nanti diisi oleh penghuni baru yang menyenangkan, sopan, dan bisa seasyik Calvin. Waaaa… Calvin I will miss you little brother!!