24 Juni 2010

Ask For More

ASK : Bagaimana perasaan anda sekarang ini?

ANSWER : Perasaan saya sekarang masih dalam masa pemulihan setelah mengalami sebuah kenyataan yang sangat berat. Karena masih dalam pemulihan itu, bisa dibilang hati saya agak sedikit rapuh, tempramen, naik-turun tidak jelas dan kadang masih suka meluap-luap sendiri. Namun sudah banyak hal positif yang saya hirup dalam-dalam dalam diri saya sehingga paling tidak saya dapat menerima kelebihan dan kekurangan saya dengan hati yang besar. I’m only a human.

ASK : Bagaimana hubungan anda dengan You-Know-Who?

ANSWER : Sulit dijelaskan bagaimana perasaan saya sekarang. Kejadian beberapa minggu yang lalu di Pizza Hut masih sangat membekas dalam di dalam hati saya, dan terkadang ketika saya mengingat hal itu saya diliputi suasana yang sangat sedih, pilu, dan kesendirian yang lengkap menjelaskan bahwa selama ini saya hanya bertepuk sebelah tangan terhadap dia. Saya sangat menyukainya, saya merindukan kehadirannya dalam setiap hari-hari liburan saya di tempat ini, saya selalu mengingat dirinya selama saya makan, tidur, ketika saya sendiri, dan saya menjadi agak tersiksa dengan hal itu. Rupanya usaha saya untuk melupakan dia secepatnya menghadapi banyak rintangan. Yaitu masih belum sinkronnya perasaan dan otak saya. Di satu sisi saya sangat menyukainya, dan menurut saya dia adalah orang yang selama ini saya impikan dalam hidup saya hari ini sampai saya mati. Ketika saya bersama dengan dirinya, saya bahkan mampu melakukan apa saja yang sekiranya tidak mungkin saya bisa lakukan. Kini, ketika saya mengetahui sebuah kenyataan pahit yang mengatakan bahwa selama ini sikapnya yang menurut saya istimewa itu hanya karena semata-mata berbuat baik terhadap saya saja, membuat hati saya sakit. Jadi, jika anda bertanya bagaimana perasaan saya sekarang, mungkin jawabannya adalah ABSURD.


ASK : Lalu, adakah kejadian yang membuat anda liburan anda terganggu belakangan ini?

ANSWER : Banyak (Hahahaha tertawa sarkas). 1) IP saya turun semester ini. 2) Seseorang telah membuat saya sangat sakit karena telah mengatakan hal yang tidak ingin saya dengar dari mulutnya. 3) Melihat keponakan saya berduaan dengan pacarnya di ruang tamu membuat saya semakin terpuruk karena saya tidak bisa melakukan hal yang sama karena saya tidak memiliki pacar, dan entah mengapa saya semakin kembali mengingat si brengsek You-Know-Who itu. 4) melihat Fb seorang teman yang memiliki beberapa foto bagus saat merayakan setahun masa pacarannya, mereka adalah pasangan yang sempurna. 5) sampai saat ini pun saya belum berada di rumah saya di Kudus, karena masih harus transit di rumah saudara. 6) kehidupan doa saya tidak dalam kondisi baik sekarang, dan entah bagaimana sampai sekarang saya masih belum mempunyai waktu untuk berdoa sendiri. 7) 2 kepanitiaan besar menanti saya di bulan Agustus dan saya hanya ingin itu cepat selesai.


ASK : Jadi, hal apa yang apa yang ingin anda lakukan saat ini?

ANSWER : Menyendiri. Saya berencana untuk pergi berziarah ke Gua Maria Kerep Ambarawa besok untuk berdoa sendiri. Mungkin saat ini yang paling penting adalah inntrospeksi diri.

ASK : Apa yang ingin orang lain lakukan untuk anda?

ANSWER : Saya hanya ingin You-Know-Who itu menelepon saya dan mengatakan bahwa ia sangat memerlukan saya saat ini dan berkata untuk tidak meninggalkan dirinya. Haha, itu bahkan tidak akan mungkin terjadi kecuali dia itu mengalami gegar otak atau apa. Yeah, gegar otak saja dia sendiri sana!


ASK : Jika memang You-Know-Who ini memang tidak bisa diandalkan lagi, siapa orang lain yang anda tunggu?

ANSWER : Saya rasa tidak ada. Saya menyadari bahwa hanya Tuhan Yesus saja yang bisa saya andalkan sepenuhnya.


ASK : Jadi, mana yang anda pilih? Maju atau mundur?

ANSWER : Mundur. Itu sudah pasti. Saya juga berencana untuk pindah kosan juga kok. Hehehe :D


ASK : Kapan anda punya waktu untuk bicara lagi sesantai ini?

ANSWER : Ah, saya tidak tahu. Saya rasa saya ini orang paling labil sedunia. Absurd tentu saja. Jadi pembicaraan ini mari kita sudahi saja. Toh ini tidak ada gunanya. Kenapa sih anda bertanya-tanya seperti itu -,-“

IP yang Terjun Bebas

Membuka SIAK-NG di pagi itu membuat cuaca hatiku buruk pagi hari itu juga. Hari itu, 12 Juni 2010 merupakan hari terberat ketiga yang pernah kualami semasa kuliah. Pengumuman nilai yang terjun bebas di semester ini membuat hidupku rapuh, dan sepanjang hari itu entah bagaimana sangat sulit untuk kuhadapi sendirian. Aku mengirim sms kepada orang-orang yang kuharap bisa mencerahkan atau paling tidak dapat mengurangi beban hati yang berat ini. Namun, kebanyakan dari mereka itu bukannya malah membawa kabar baik malahan membuatku semakin tidak berguna saja. Di dalam lubuk hatiku yang terdalam aku sangat ingin bisa bercerita dengan You-Know-Who itu, namun smsnya balasannya membuatku berpikir bahwa sepertinya aku telah salah untuk memilih orang ini untuk mencerahkan hatiku. Yang ia lakukan hanyalah menambah rasa ketidakbergunaanku saja di dalam hidup ini dengan mengatakan bahwa nilainya hanya turun 0,3 dari semester lalu. Oh my God. Salah besar. Ini salah besar.

Jadi, sepanjang hari itu aku murung, makan hanya sekali sehari, tidak bersemangat dalam melakukan apapun, yang ada dalam pikiranku adalah bagaimana caranya agar membuat ini menjadi mimpi belaka, kemudian aku bisa bangun kembali dan mndapati kenyataan ini tidak pernah ada, bagaimana caranya agar aku bisa menghilang dengan cepat, dan bahkan parahnya aku sangat berharap keluargaku ini membakarku hidup-hidup saja daripada aku merasa tidak berguna seperti ini di rumah.

“Entah mengapa kadang mengetahui suatu kebenaran rasanya entah mengapa sangat menyakitkan…”

Aku sangat menyesali IP ku turun semester ini. Sangat.

Aku kecewa terhadap diriku sendiri. Aku belum dapat menerima kanyataan pahit ini semua.

Aku telah mengecewakan orang-orang yang kusayangi.

Aku mengingkari janjiku sendiri, dan kesalahanku-lah satu-satunya yang membuat nilai mata kuliahku anjlok.

Aku malas. Aku membuang waktuku yang berharga untuk hal yang tak berguna. Aku kurang mempasrahkan segala yang kukerjakan itu kepada Tuhan.

Hari itu, yang kulakukan hanyalah mencaci maki dosenku yang sangat-amat-tidak objektif itu, mengirim sms kepada semua orang yang sms balasannya kebanyak malah membuatku semakin buruk, tidak mengakses internet, dan mengutuki mereka-semua-orang-yang-telah-membuatku-menjadi-semakin-tidak-berguna agar bulu hidung mereka semakin panjang, lebat, sampai upil-upilnya dapat keluar dan masuk ke dalam tenggorokkan mereka. I really wish that it will happen soon!!!

I’M BURNT!!!


Hari ini, 13 Juni 2010 aku memberanikan diri membuka laptopku dan meyakinkan diriku untuk menulis ini semua. Perasaanku jauh-jauh lebih baik sekarang daripada hari kemarin itu. Aku sengaja bangun lebih siang, dan orangtuaku mengijinkanku bangun sesukaku hari ini, kemudian melakukan hal apapun yang kusukai. Awalnya sangat berat mengetahui sebuah kebenaran yang pahit. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dosen pembimbing akademikku akan mencaci makiku di kantornya beberapa bulan yang akan datang karena nilaiku yang anjlok ini. Aku turun dari tempat tidur, dengan mata agak sayu dan sembab. Aku bahkan masih tidak punya semangat untuk melakukan apapun, apalagi membuka laptop dan menulis sebuah cerita seperti biasa. Namun hari ini, tepatnya malam ini pukul 10:17 AM aku memberanikan diri untuk kembali menulis segala hal yang kurasakan dan mencoba menuangkan segalanya dalam bentuk tulisan.

Pertama, aku ingin mengucapkan rasa penyesalanku yang teramat dalam kepada Tuhan Yesus karena masih belum bisa dewasa dan tidak memegang janji yang selama ini pernah terucap untuk membuat IP dari semester ke semester menjadi stabil. Aku juga menyesalkan hal ini bisa terjadi. Aku telah mengecewakan kedua orangtuaku. Seharusnya saat ini ketika aku bersama mereka, mereka bisa melihat dan bangga karena nilaiku bagus semester ini. Namun maaf, ini semua tidak terjadi. Walau hanya turun beberapa nilai di belakang koma, aku masih belum bisa konsisten dengan omonganku. Aku sangat menyesal.

Kedua, aku menyadari bahwa selama ini aku keliru. Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri dan cepat merasa puas terhadap sesuatu. Yang paling membuatku kecewa selain nilai yang tidak maksimal adalah bagaimana segala perjuanganku selama ini tidak terlalu mendapatkan apresiasi yang baik dari dosen yang membimbing mata kuliah itu. Kurasa aku telah salah mengenal mereka dan terlalu cepat menyimpulkan bahwa mereka senang dengan nilaiku. Padahal tidak. Aku harus mulai berhati-hati dalam menentukan siapa dosen-dosen yang mengajarku di semester depan dan memastikan bahwa mereka adalah dosen yang kompeten dan setidaknya dapat memberikan nilai secara objetif dan tidak menuntut terlalu banyak dari mahasiswanya.

Ketiga, kurasa aku sudah dapat menerima segala kekuranganku saat ini. Aku kurang berserah kepada Tuhan akan segalanya. Dulu aku tidak begitu, namun beberapa bulan terakhir ini memang kuakui bahwa sering kali aku terlalu mengandalkan diriku sendiri dan tidak melibatkan Tuhan dalam setiap rencana hidupku. Yah, ini adalah konsekuensi yang memang harus kujalani dan aku tahu cobaan yang buruk ini bukan maksud dari Tuhan untuk terus menenggelamkan atau bahkan membuat hidupku lebih terpuruk. Namun lebih dari itu ialah bahwa hanya dengan kegagalanku, kejatuhanku, Ia telah berhasil memanggilku kembali kepadaNya. Ia memanggilku dengan cara-cara yang indah yang dapat menyadarku secara sepenuhnya bahwa aku ini kecil di hadapanNya, aku bukan siapa-siapa di dunia ini, dan meyakinkan aku sekali lagi di mana aku tidak bisa jauh dariNya.

Keempat, aku memikirkan banyak hal sejauh ini dan kurasa aku harus menebus kegagalanku dengan keberhasilan yang akan kumenangkan di semester mendatang. Tidak mudah untuk menghadapi 24 SKS itu, namun aku yakin jika aku berusaha sekali lagi, dan tetap mengandalkan Tuhan dalam setiap rencana hidupku, tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan. Satu hal yang pasti kulakukan adalah pindah kosan. Kurasa aku harus memulai menata diriku kembali dari awal. Dari nol.

Walaupun aku sering jatuh berulang kali, aku harus mencoba untuk bangkit lagi.

Bila kuterjatuh kini, ku kan melompat lebih tinggi!!

Bagaimana Cara Keluarga Saya Berkumpul?


Keluarga saya adalah keluarga besar. Bapak dan Ibu saya mempunyai 5 orang anak dan keempatnya sudah menikah dan menghasilkan keturunan masing-masing. Saya adalah anak terkecil di dalam keluarga, dan jarak antara saya dan kakak terakhir adalah 14 tahun yang menyebabkan kini saya menjadi tante terkecil di dalam keluarga yang memiliki 6 orang keponakan yang bandel-bandel.

Saat liburan semester genap seperti ini, aku hanya menghabiskan satu bulan dari tiga bulan masa javascript:void(0)liburanku ini di rumah saja. Bukan di Kudus tepatnya, aku pulang ke Ambarawa di mana rumah kakak sulungku yang perempuan berada. Bapak dan Ibuku berada di sini sekarang, karena kondisinya Ibuku sedang dalam masa pemulihan dari kakinya yang patah dua bulan yang lalu di sini. Jadi, di rumah ini sekarang ada Bapak-Ibuku, Aku, Kakak sulungku, dan kedua buah hatinya. Suami dari kakakku itu masih bekerja di Pati dan diprediksi akan segera pindah kembali bekerja di Ambarawa sebagai guru.

Keluarga kami selalu berkumpul dengan tradisi keluarga lainnya pada umumnya. Kami sering duduk bersama di ruang tamu atau teras di depan rumah. Namun yang membuat spesial adalah teh buatan ibuku itu. Sebagai informasi saja ibuku adalah wanita pecandu teh. Lidahnya sangat tajam dalam menilai kualitas dari sebuah teh, dan ia adalah penggemar teh sejati. Dengan demikianlah cara keluarga kmi berkumpul. Makan apa saja, membicarakan apa saja, dan yang tetap adalah selalu ada seduhan teh hangat dari ibu. Inilah yang aku rindukan selama aku bersekolah di luar kota. Berkumpul bersama dengan keluarga besar adalah sebuah liburan yang paling tinggi kualitasnya. Saat ini setahuku teh yang selalu diseduh ibu adalah daun teh cap X dan satu keluarga besar kami jadinya selalu mengkonsumsi teh dengan merk yang sama. Walau kini aku belum bertemu dengan keluarga besarku semua itu karena urusan pekerjaan dan juga tidak ada waktu luang, kami selalu menyeduh teh di tempat kami masing-masing namun hati kami seakan disatukan dalam rasa yang sama. Teh buatan ibuku.


Saat nulis blog malem-malem dengan perasaan geje mampus kayak gini, gue cuman bisa bikin teh tawar tanpa gula di kosan. Uhhh.. kangen deh teh bikinan ibuuu!! Kangen sama waktu ngobrol-ngobrolnyaa jugaaa... AHHHHH !!!

Bermain Drama Sekolah




Pertama dan terakhir kalinya aku bermain drama sekolah adalah saat menginjak di bangku kelas 5 Sekolah Dasar. Aku bersekolah di SD Kanisius Kudus dan drama tahunan ini selalu dipentaskan di bulan Desember karena isi dramanya mengenai kelahiran Yesus Kristus. Nah, ketika aku duduk di kelas 5 itu, ditunjuklah aku untuk berperan sebagai Bunda Maria, sementara itu temanku yang bernama Agung menjadi Bapa Yosefnya, Ozzi sebagai Dubbre, dan temanku yang perempuan lainnya menjadi malaikat ‘biasa’ maupun malaikat Gabriel.

Drama itu dipentaskan dengan sangat agung. Aku juga merasa sangat tersanjung sebenarnya bisa memerankan peran sebagai Bunda Maria, tapi masalahnya adalah drama ini disutradarai oleh Wali Kelas 5 yang terkenal galak, killer, dan jutek abis bernama Bu Tin.

Aku tidak tahu mengapa, namun yakinlah bahwa perasaan tidak pernah berbohong. Aku sangat meyakini bahwa Ibu Tin itu sangat tidak menyukaiku, dan dalam drama ini ia sengaja mengetes kesabaranku karena tiap kali kami latihan di hari Jumat, khususnya diriku ini akan selalu menjadi bulan-bulanannya. Jika kelihatan aku salah melakukan satu gerakan saja, protes dan sindirannya menghujamku. Aku sampai takut sekali waktu itu dan entah mengapa aku menganggapnya sebagai beban. Tiap malam Kamis, ketika aku akan beranjak tidur, aku selalu berdoa kepada Tuhan agar melindungiku pada saat latihan keesokan paginya dan jangan biarkan nenek sihir itu menggangguku.

Pada saat H-3 aku selalu berkeringat dingin setiap kali melihat Bu Tin di sekolah.

H-2 aku muntah-muntah hebat di sekolah padahal aku tidak sakit demam atau apa.

Pada saat hari H, aku sangat gugup. Sumpah, badanku gemetar, kadang terasa panas, kadang terasa dingin. Agaknya aku melempar pandangan iri kepada teman-temanku yang berperan sebagai malaikat. Mereka semua cantik. Mereka memakai gaun berwarna putih, mereka memakai make up cantik namun tetap sederhana, memakai tiara di kepala mereka, dan kulihat di punggung mereka semua tampaklah sayap-sayap cupid yang sangat lucu. Aaaahhh… aku kembali memandang diriku sendiri. Aku berperan sebagai Ibu Maria yang miskin, dan sedang mengandung. Pakaianku adalah kain paling kedodoran yang pernah kupakai selama hidup. Agak tidak nyaman sebenarnya, karena ketika kupakai baju selobongan itu, aku merasa seperti misdinar saja. Baju selobongan itu berwarna biru merah dan aku juga memakai kerudung. Ah, betapa compang-campingnya aku. Karena kedodoran di sana-sini mau tidak mau aku harus berjalan dengan sangat hati-hati agar tidak terpeleset ketika drama dipentaskan nanti. Tapi, tak apalah. Walaupun dengan pakaian compang-camping seperti ini, aku lah pemeran utamanya. Entah mengapa ini adalah kali pertama aku bermain drama dan mungkin akan menjadi pengalaman yang terakhir kalinya. Hahaha :D

Pementasan itu dihadiri juga oleh orang tua murid. Ibuku tentu saja datang walaupun aku tahu beliau duduk dibelakang. Ah, kedatangannya cukup membuatku tenang. Saat masih berada di belakang panggung, kulihat tampang Bu Tin yang seperti biasa tampak sangat menyebalkan. Ia bahkan tidak tersenyum sedikitpun (apakah ia tegang juga, eh?) padahal acaranya sudah mau mulai dan aku tahu nasibku akan berakhir sampai di sini.

Untunglah, pikiranku yang jelek-jelek itu tidak terjadi karena pementasannya berjalan sangat lancar. Aku menserasikan gerakanku bersama partnerku si Bapa Yosef, Agung. Temanku di sisi lain, yang bernama Ozzie, juga tampak sangat tampan memakai dasi kupu-kupunya. Ia duduk di deretan paling depan membawa mic karena ia adalah seorang dubber. Ahhh… aku suka hari itu. Segalanya berjalan dengan sangat lancar!!

Namun dengan demikian, hubunganku dengan guru itu tidak berubah menjadi semakin baik karena tetap saja aku menjadi bulan-bulannya di kelas 6.

Kini setelah aku berusia 19 tahun dan berada jauh dari kota kelahiranku, aku malah merindukan masa-masa itu dan semua teman sepermainanku sewaktu aku SD. Ke mana ya mereka semua? Entah mengapa yang ada dalam pikiranku adalah masa yang paling seru ketika aku sekolah adalah masa SD dan masa awal kuliah. Ahhh… kangennya..


9 Juni 2010

Skuter Bapakku

Bapakku bernama Fransiskus Rahmadi. Orang-orang biasa menyebut dirinya Pak Di dan bapakku ini adalah seorang tukang cukur tradisional. Saat ini aku ingin menceritakan mengenai sosok Bapakku yang unik ini.
Setelah pensiun menjadi mandor di Pabrik Djarum Kudus, ia meneruskan pekerjaan Ayahnya (atau kakekku) menjadi seorang tukang cukur tradisional. Bisa dibilang kalau sosok kakekku sangat memoriable di lingkungan sekitar rumah kami karena cara memangkas rambut pelanggannya sangat khas dan disukai banyak orang. Beruntungnya, setelah kakekku ini meninggal, Bapak meneruskan pekerjaan leluhur keluarga kami yaitu menjadi seorang tukang cukur.
Dari kecil, dimulai dari masa aku bersekolah SD, SMP, sampai SMA, yang tidak pernah berubah dari Bapakku adalah kendaraan pribadinya. Keluarga kami tidak mempunyai mobil. Yang kami punyai hanya satu Vespa yang setia mengantarkan kami ke manapun. Keempat kakakku sudah meninggalkan Kudus dan hidup dengan keluarga dan pekerjaan mereka masing-masing. Jadi, jika dilihat secara kasat mata saja orang-orang pasti akan menyangka aku sebagai anak tunggal atau paling tidak sebagai cucu dari Bapak dan Ibu F. Rahmadi karena memang umur Bapak-Ibuku sudah bisa dibilang lanjut.
Saat masih kecil, aku selalu naik Vespa itu di depan dekat kemudi motor, bapak mengemudi, sedangkan Ibu duduk manis di belakang. Sangat manis. Kami pergi ke gereja bersama-sama dan kadang pulangnya malah tidak bersama-sama karena Vespa kami itu sering mogok sehingga aku sering pulang bersama Ibu naik becak sedangkan Bapak menuntun Vespa eksentriknya dari gereja sampai ke rumah atau bengkel terdekat.
Namun sayang, perjalanan tiap Vespa tidak pernah berjalan sampai abadi. Setengah tahun atau setahun sekali Bapak menjual Vespanya dan berganti ke Vespa lain yang diyakini lebih bagus atau “body”nya lebih oke namun dengan harga yang sama. Tahun demi tahun berlalu sampai pada akhirnya aku tumbuh tinggi besar dan tidak mungkin lagi duduk di depan seperti biasanya. Kalau sudah seperti ini, aku ingat benar bahwa si Bapak mulai membelikanku sepeda biasa sehingga ketika saatnya kami pergi ke gereja, Bapak-Ibu akan tetap naik Vespa, sedangkan aku seperti kambing congek mengayuh pedal sepeda ke mana-mana. Ha Ha Ha

Saat aku SD, Bapak selalu mengantarkan aku ke sekolah naik Vespanya dan pulangnya aku bisa naik becak sendiri bersama temanku yang bernama Yudith. Saat SMP, beliau tetap mengantarkan aku naik Vespa saat berangkat sekolah dan pulangnya aku naik angkot. Saat SMA malah lebih parah, ia mengantarkanku sekolah namun tidak memikirkan aku naik apa pulangnya karena ia pasrah saja anaknya diantar pulang naik tebengan orang lain. Hehehe…

Bapak adalah tipikal orang yang teliti dan kalau sudah menyayangi sesuatu, hmm… jangan tanya komitmennya dia sangat besar akan hal ini. Yang kubicarakan dalam hal ini tentu saja Vespanya. Dari mulai peralatan biasa sampai sparepart Vespa yang tak kumengerti, ia pasti punya dan dari setiap Vespa yang pernah ia miliki selalu dipasang Stiker Oneil, dan lampu kendaraan yang berwarna kuning terang. Itulah ciri khas dari si Bapak.

… dan kini ketika aku sudah tidak tinggal di Kudus dalam jangka waktu yang lama karena aku harus kuliah di Depok, dan sementara orangtuaku juga menyatakan ingin pindah dan lebih nyaman berkumpul bersama keluarga kakakku yang di Ambarawa, Vespa butut berwarna silvernya itu kini telah dijual karena tidak ada yang mengurusnya. Kini, yang tinggal sendiri di rumah adalah motorku yang sudah lama tidak kunaiki.

Jika Doraemon punya obat pengecil tubuh atau mesin waktu ingin rasanya aku kembali ke jaman SD dulu di mana aku biasa naik motor Vespa di depan di dekat kemudi Bapakku.
Hmmm… Really miss him and his Vespa soo much!!

Sakit Mata Saat Hectic-hecticnya Registrasi Mahasiswa Baru UI



UI aku dataaaangg...


Sudah hampir dua minggu aku di Jakarta ini, banyak yang kupersiapkan untuk hari paling bersejarah dalam hidupku: menuju kampus UI.

Aku sudah mempersiapkan segala hal yang aku butuhkan saat registrasi nanti: berkas-berkas penting, snack buat pengganjal perut, pemutar musik dan majalah agar nggak boring, dan... eng ing eng... di hari H

AKU SAKIT!!!

Kemarin, ibuku iritasi mata, dan parahnya saat daftar ulang itu aku ngerasain mataku malah memerah. Alamak, aku ikut-ikutan iritasi mata!! TIDAAAK!! Oh Noooooo!!!

Hari yang sudah aku tunggu-tunggu, kacau semuanya, bodohnya, aku memang nggak memprediksi hal ini.

Staminaku tentu saja langsung drop, karena mataku rasanya nyeri, kepala pusing berdenyut-denyut karena antrenya sepanjang ngantre BLT, perut keroncongan karna laper, dan kaki berasa patah karna terlalu lama berdiri...

JIAH, ANTREENYA PANJANGGG BENEEERRRR...

Sampai di Balairung jam 7 pagi, registrasi nya baru selesai jam 5 sore,

Dengan tampang super duper kucel, ngantuk berat, mata bengkak, kaki kram, kesemutan, perut keroncongan, sampai di mobil langsung tertidur lelapp...

Aku sebenernya paling benci buat nunggu, apalagi ini nunggunya berjam-jam, dan serasa boseeennn berat. Gengsi juga sih, kalo keseringan duduk, keseringan pipis, keseringan ngeluh... tapi, ini yang namanya perjuangan, man! Apapun kulakukan buat UI. Nunggu lagi? Ayuk ah, apapun aku lakuin. Kenapa? Karna nggak semua orang bisa mendapatkan kesempatan menunggu antrian registrasi seperti ini.

Dari pengalamanku itu, aku boleh bersyukur banget sama Tuhan, karna berkat anugrahNya lah aku bisa sampai di kota Depok. Baru masuk gerbangnya UI pun, rasanya aku udah jatuh cintaaa sama kampusku....

Can't help falling in love with it...


Aku bersyukur karna udah dapet kampus yang bagus banget—jika mengingat masih banyak teman-temanku yang berkutat dengan UMB dan SNMPTN nya—

Dapat keringanan biaya pendidikan yang nggak sedikit,

di registrasi ini orangtua dan kakak-kakakku hadir,

bisa dianter naik mobil muter-muter UI, mau nungguin registrasi itu dengan sabarrrr banget! (padahal aku sendiri yang nggak sabaran!!), dan semuanya itu boleh selesai dan segalanya berjalan dengan LANCAR.

Yah, aku menganggap iritasi mata dan kaki pegal itu hanya halangan kecil yang harus dibayar dengan anugrah yang tak ternilai... hehey... banyak orang yang menginginkan menjadi salah satu dari keluarga besar UI (apalagi FISIP) dan mau mengorbankan apapun yang ia punya!! Masa' ngantri seharian aja aku ogah-ogahan gini sih (malu-maluin bangets). Toh aku kan nggak sendiri. Semuanya ngalamin!!

Oh ya, aku jadi punya banyak teman-teman baru dari macam-macam jurusan. Mereka unik-unik dan tentu saja brilian. Kami bertemu saat kopi darat PPKB UI 2009. Saat-saat seperti ini, aku teringat teman-temanku di Kudus. Hmmm.. sedang apa mereka saat ini. Aku merindukan mereka. Semoga mereka mendapatkan tempat kuliah yang sesuai dengan keinginan mereka.

Aku puas banget karna di FISIP anak-anaknya (terutama Ilmu Komunikasi) enjoy dan easy going. Semoga kami dapat menjadi teman yang baik...

Trus trus, ngomong-ngomong soal berkas-berkas kelulusan, ehem ehem, ternyata nggak dikoreksi secara teliti. Malahan yang jaga kesannya nyantai, yah baguslah! Bapak-bapak penjaga stand jaket juga baik banget, mau ngepasin ukuran tubuhku ini dengan huruf S. Small!! (Tidak tahu harus senang atau terpukul huhuhu T.T)

Tapi, namanya manusia, aku ngerasa ada 1 yang nggak puas! Foto KTM ku jelekkk bangets... kucel!! Huhuhu, menyedihkan. Siaran ulang dong! Plisss...


Oh Tuhan, semoga aku cepat sembuh. Jangan ada lagi korban sakit mata seperti aku,...

kayanya itu aja deh,

perih ni mata di depan kompi.

Thanks buat semua yang udah bantuin.

God Bless You All~~~


3 Juli 2009

(ditulis ulang dari notes Fb ke blog ini)

(Welcome to UI 2009 Siska!!!)

3 Juli 2009

Cie elah...

Dag dig dug banget aku.

Nervouss...


Lihat makara kuningnya itu, lihat sana-sini senior-senior pakai jaket kuning, ngelihat kampus demi kampus, ngelihat bikun, ngelihat apa aja yang bisa dilihat, (wew mataku ini jelalatan banget yah?!) katrok bangets.

Whatever lah, semua kerja keras dan pengorbanan terbayarkan!

Tapi ini bukan akhir dari kerja keras itu guys, ini belum apa-apa! awal juga belum!!

Masa depan terbentang luas, dan semuanya terkesan gemilang.. hehe jadi panas dingin begini...


Nggak pernah ngebayangin (apalagi ngarep) bakalan ada di kampus ini. Hehey, selama kira-kira 4 tahun ke depan (semoga lebih cepat dari yang kupikirkan) aku akan tinggal, hidup, belajar, bersahabat, dan... (privasi) di tempat ini! Waw, keren.

Registrasi program sarjana yang aku ikuti tanggal 2 Juli kemarin itu memperlihatkan segala macam jenis anak-anak brilian (aku hanya anak kategori beruntung dan bukan ^brilian^ seperti yang kumaksud), dari segala lapisan, aspek budaya, latar belakang, dan kehidupan yang berbeda. Ada yang cupu abiss (aku banget), gaul geelaa, fashionable sekali, borju iya, dan macem-macemlah... semuanya tumpah ruah di sini, dengan jurusan/prodi dan fakultas yang beda-beda!

Dan sah-sah saja mereka ada di sini. (Belakangan ini aku malah sering merasa diriku tak pantas bersanding dengan mereka. Siapa sih aku???!!)


Sesampainya di kampus UI ini, aku tiba-tiba inget omongannya si Mila-temanku SMA- dia ngasih pesan yang akan aku inget-inget baik sampai sekarang. Kalo inget pesan itu rasanya pingin ketawa aja dan nimpuk dia pakai batu hehe (Apaan sih! Belom cerita juga, malah udah ketawa!!)

Gini nih ceritanya...


Mila : Sis, jangan lupain temen-temen di Kudus yaa, ntar kalo kamu udah di UI..

Aku : Iya Mil, tenang ajah.

Mila : Jangan hura-hura di kota besar, hidupnya prihatin. Jangan boros, yang hemat ajah.

Aku : Iya Mila sayaangg...

Mila : Nggak usah ngekost.

Aku : Nggak kok, kan aku ntar asrama...

Mila : Ngapain asrama? Nggak usahlah. Ngirit ajah.

Aku : ?? (Bingung)

Mila : Tidurnya pakai tenda aja, minumnya di danau A, nyuci di danau B, mandi cuci kakus di danau C, mancing di danau E. Ntar aku jamin hemat banget deh...

Aku : Nomaden, maksud loh?

Mila : Iya benerrr...

Aku : Sialan!!


Untungnya, sekarang udah dapet kunci asrama... bisa keliling UI sepuasnya... (emang piknik apa?)

Sori ya Mil, aku bukan manusia purba gaya dumb and dumberer lagi,

atau gaya Dian Sastro : Kulari ke hutan kemudian teriakku, kulari ke pantai kemudian sepiku, sepi sepi sendiri aku benciii... (AADC) Ngok-ngok banget hahahah :D