27 Mei 2010

Saat Donat Cokelat Itu Terasa Pahit...

Ketika donat-cokelat itu terasa pahit…

Hari ini 22 Mei 2010 ada tiga hal yang ingin kuceritakan. Pertama, hari ini adalah hari kedua peringatan Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan PMKAJ-US di Wisma SY. Hari ini adalah final lomba cerdas cermat dan entah bagaimana jadinya Aku-Albert-Jeni menang dalam lomba ini. Kami meraih hadiah tiket jalan-jalan ke Museum Kebangkitan Nasional. Yay.. senang! (namun rasa senang itu tidak bertahan lama)

Kedua, sepulang dari acara itu, Aku-Albert-Kara (FIB-Sastra Jepang 06) naik KRL Ekonomi AC menuju ke Stasiun Cikini. Kara akan berlatih Mahawaditra di UI Salemba, sedangkan Aku-Albert bergegas menuju ke Rumah Duka RS Cikini-Jakarta Pusat. Aku dan Albert hendak melayat kakak dari sahabat kami yang meninggal. Kak Marilo, kakak keduanya Jeje (Clara Jessica Yuwono) yang sakit komplikasi beberapa hari yang lalu. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang disayangi, apalagi jika dia adalah bagian dari hidupmu. Entah bagaimana, kuharap Jeje dan keluarganya tabah dalam menghadapi cobaan ini. Be strong lady… may he rest in peace.

Ketiga, ketika aku pulang dari rumah duka itu dan kembali ke Depok, aku harus menghadapi hal lain lagi. Calvin Lourdes He—teman satu kosan—sudah mengepak barang-barang dalam koper kecilnya dan ia bersiap pindah dari Wisma Cornelius meninggalkan Aku dan Dikara Kirana. Tak lama, orangtuanya datang menjemput dan mau tidak mau kami terpaksa membantunya mengepak dan memindah barang ke mobil. Ketika malam itu ia benar-benar jadi pindah, ibunya memberiku dan Dika donat cokelat manis dari Dunkin Donuts. Cokelat itu meleleh di bibir namun entah bagaimana terasa pahit.

Sebenarnya bukan 3 hal ini sih yang membuatku sedih. Malam ini aku merasa tidak berguna karena aku menyadari satu hal yang membuatku sangat sedih dan mendung.

Jadi, kemarin saat perayaan hari Kebangkitan Nasional ada beberapa lomba yang dipersiapkan oleh panitia. Aku-Albert-Jeni mengikuti lomba cerdas cermat, nah sewaktu kami sedang menunggu giliran, datanglah sesosok wanita yang cantik, anggun, dan bersahaja. Dia adalah Natalia Rialucky Tampubolon, seorang mahasiswi HI 2008 yang diprediksi akan menjadi mahasiswa berprestasi FISIP dan juga mahasiswa berprestasi UI tahun depan. Ia juga seorang yang Katolik. Ria adalah mahasiswi yang cerdas, alumni SMA Santa Ursula, mantan Ketua OSIS, dan bercita-cita menjadi seorang Presiden di kemudian hari. Dia adalah orang pertama yang mendekati sempurna yang pernah kutemui setelah Ibuku.

Orang bilang kalau Ria berasal dari keluarga yang sangat mampu, dan ia pernah juga exchange student ke Harvard beberapa waktu yang lalu. Sekarang ia sedang sibuk mengurusi organisasi mini mirip PBB nya yang bernama IMUN (Indonesia Model United Nation). Oh mai gat she’s so brilliant. Itu adalah cerita pertamaku dan kesan pertamaku berkenalan dengan Rialucky.

Kedua, adalah saat dalam perjalanan menuju ke Rumah Duka, aku dan Albert berbarengan pergi ke stasiun Cikini bersama dengan Kara. Dia adalah salah satu rival kami dalam lomba cerdas cermat BANGSAL PMKAJ-US. Kukira dia adalah anak 08 atau paling tidak anak angkatan 07. Ternyata oh ternyata cewek jangkung itu adalah mahasiswi Sastra Jepang 06 yang hendak lulus. Ia bermain cello di Mahawaditra, dan pada bulan September nanti ia akan pergi ke Jepang-Nagoya University-untuk exchange student. Anaknya super jangkung, pakai kacamata dan suka menyanyi dan bermain musik. Dia adalah Kara Toruan si gadis Indo-Jepang. Jiahahaha :D

Dua hal itu mengganggu pikiranku malam itu. Aku bahkan sampai tidak bisa tidur. Aku menyadari satu hal malam itu: aku ini bukan apa-apa, bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa di UI. Aku memikirkan itu terus sepanjang hari sampai saat aku chatting dengan teman-temanku yang baik hati lewat FB. Sore harinya dengan diiringi sambaran kilat dan petir aku pergi ke gereja dan barulah di sana aku mendapatkan pencerahan.

Tuhan seakan berbicara padaku: Hai Nak, jangan takut. Jalanmu masih panjang, masih banyak kesempatan yang belum kamu gunakan. Sekaranglah saatnya menggunakan kesempatan itu.

Seorang teman berkata padaku, ia berkomentar saat aku mengatakan bahwa kedua perempuan yang kusebut tadi sangat amat sempurna hidupnya, ia berkomentar begini: Tidak ada yang sempurna di dunia ini, Sis. Bahkan Rialucky pun tidak. Ia hanya memaksimalkan talenta yang Tuhan berikan untuknya. Sejatinya Tuhan juga memberi kita hal yang sama.

24 jam yang sama, oksigen yang sama…

Dengan demikian segalanya mulai jelas bagiku. Aku tidak begitu terganggu lagi dengan pikiran sesatku bahwa aku ini tidak berguna. Aku harus mencari apa passionku yang sebenarnya. Di musik kah? Di olahraga kah? Di akademis kah? Atau di mana??

Hanya Tuhan yang tahu bagaimana aku yang semestinya…

Thanks Lord because you show me your way…


Nb: Suatu saat nanti aku ingin juga bisa mengikuti jejak Rialucky dan Kara Toruan yang sudah menginspirasi saya untuk belajar ke luar negeri.

3 komentar:

  1. pernah debate ma rialucky,, and she was really briliant...

    BalasHapus
  2. hao wavemaker... anak ITS bisa-bisanya mampir di blo saya hahaha, salam kenal yaa

    BalasHapus
  3. ni hao juga wuri,, gk tau ni nyasar waktu googling..ho2..salam kenal juga,,xie xie

    BalasHapus