4 April 2010

Dilematis Melankolis

Tahukah kau bagaimana rasanya ketika sahabat sejatimu ternyata juga menyukai orang yang kau kasihi?

pernahkah kau mengalaminya?

aku pernah, dan sekarang kurasa aku telah mengalaminya...

Menurutku laki-laki ini memang pantas diperebutkan oleh banyak perempuan. Dia cerdas, pintar, dan taat dalam agama. Beruntungnya aku boleh mengenal dirinya secara lebih personal karena kami adalah satu teman kosan dan agamanya juga sama denganku.

Sementara itu, perempuan yang telah menjadi sahabatku hampir satu tahun ini juga merupakan perempuan yang pintar, menarik, dan kurasa dia bisa mengambil hati banyak orang.

Entahlah, kurasa aku yang salah telah memulai ini semua, aku yang salah karena aku diam saja sementara gebetanku sepertinya juga disukai oleh sahabatku sendiri.

Aku pernah mengalami hal ini dua kali. Ini adalah kali kedua di mana aku berada pada posisi yang serba salah. Aku bodoh.

Aku adalah tipikal perempuan yang kaku, bisa dikatakan aku ini sangat membosankan dan tidak asik. Mungkin hanya orang-orang yang mengenalku secara personal sajalah yang pasti lebih tahu sifat asliku seperti apa. Namun, aku seakan-akan menjadi orang lain ketika bersama laki-laki ini. Aku menjadi pendiam dan bahkan tidak bisa mencari topik yang tepat ketika kami dihadapkan pada situasi yang kondusif untuk berdua saja.

Sementara aku dengan polosnya bersikap nothing to lose pada laki-laki ini, kurasakan perempuan yang selama ini kupercaya menjadi sahabatku rupa-rupanya memendam perasaan yang sama.

Kami menyukai orang yang sama.

Entahlah, rasa-rasanya aku merasa dihadapkan pada situasi yang sulit.

Di satu sisi aku ingin bisa menarik perhatian laki-laki ini. Sementara itu di lain pihak aku malah menggiring dan membawa diriku pada permasalahan yang rumit.

Sebenarnya sih tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan ini semua, aku sangat percaya pada sahabatku bahwa dia tidak akan pernah melakukan hal yang buruk kepadaku, toh yang jelas permasalahan yang paling besar bukan ini. Ada satu masalah lagi yang lebih pelik.

Orang yang kusukai itu sepertinya lebih ingin mengabdikan diri kepada gereja dan pelayanan. Ia sangat suka beribadah dan keinginannya yang paling besar adalah menjadi seorang pastor untuk menggembalakan umat Katolik.

Itu adalah cita-cita terindah yang pernah kudengar dan entah mengapa hatiku menjadi sesak ketika mendengar pernyataan ini dari mulutnya.

Jadi, teman perempuanku ini bukanlah rivalku yang utama, karena laki-laki yang kusukai saat ini telah memilih lebih dahulu untuk menjadi mempelai Yesus.

Rasanya sangat sesak mengetahui kenyataan yang sangat pahit.

Ada dua hal yang datang pada saat yang tiba-tiba dan kesemuanya itu adalah realita, nyata, dan entah mengapa aku tidak bisa menerima kenyataan itu.

Malam ini, aku menulis dengan perut agak mual dan badanku terasa panas. Kurasa aku akan jatuh sakit. Salah, sepertinya memang aku sedang sakit.

Lima belas menit sebelum aku menulis ini semua aku hanya bisa menggenggam handphoneku erat-erat dan menelepon orangtuaku yang nan jauh di sana berharap masih ada yang mau mendengarku di tengah malam buta seperti ini. Aku tidak tahu sekarang siapa lagi yang bisa kupercaya. Aku seakan-akan kehilangan buku telepon dan aku tidak tahu lagi ke mana aku bisa pergi. Bukan pergi sih, lebih tepatnya melarikan diri.

Jadi, pagi hari pukul 1:50 pm aku berdoa pada Tuhan, aku berharap ia mampu mengobati luka-lukaku.

Namun, jika ini semua adalah kehendak Tuhan yang membiarkan ini semua terjadi padaku,

aku merasa sangat bersyukur karena aku mengalami pengalaman pahit ini di minggu pertama Pekan Suci 2010. Di Pekan Suci ini aku jadi menyadari bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang bisa kuandalkan.


Jadi aku berkata padamu,

Tuhan adalah satu-satunya yang bisa kauandalkan setiap waktu. Tuhan adalah pendengar yang baik, hanya Tuhan yang selalu ada di saat kau membutuhkannya.

Hanya Tuhan kawan, hanya Tuhan...


Wisma Kornelius, Barel

Lantai 1 No.10

1:52 pm


Siska menulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar